
"Ozil kemana sih? Kok nggak pulang pulang?" salah satu hantu kembali bertanya. Mungkin karena tidak terbiasa pria itu pergi selama ini, jadi para hantu yang sedang mengawasi para penjahat cukup heran dan juga khawatir. Sudah beberapa kali para hantu bergantian mengecek keadaan kamar Ozil, tapi pemuda itu tidak menunjukan batang hidungnya sama sekali.
"Apa mungkin, Ozil lagi pergi ke tempat temannya yang dulu itu?" tanya Melati. "Soalnya tadi aku lihat motornya juga nggak ada."
"Nggak mungkin, dia kan pergi bareng Seruni," bantah Anggrek. "Apa jangan jangan saat kita pergi, telah terjadi sesuatu pada mereka?"
"Aku juga mikirnya gitu," Cempaka ikut bersuara. "Pasti sudah terjadi sesuatu. Kalau tidak, mana mungkin penjahat mondar mandir di depan tempat Ozil."
"Iya juga sih," sahut Mawar. "Bisa jadi baik Seruni atau Zhang ketahuan berada di sana dan penjahat sedang nungguin sekalian minta info. Maka itu Ozil ngajak mereka nginep di tempat lain."
"Emangnya Ozil sudah pernah lihat wajah penjahatnya?" tanya Lili. "Aku rasa belum deh. Selama ini kan cuma kita dan Seruni yang memberi kabar soal para penjahat."
"Nah, jutru itu yang bahaya," seru Cempaka. "Kalau penjahat itu bersandiwara gimana? Bisa bisa Ozil malah kejebak."
"Iya yah?" para hantu hampir semua membenarkan ucapan Cempaka. "Ya sudah, kita gantian, ngawasin penjahat yang ada di tempat kerja Ozil aja, dan sebagian tetap disini," usul Mawar.
__ADS_1
Dan semua hantu sudah pasti setuju. Sedari tadi mengawasi para penjahat, mereka memang belum mendengar informasi apapun dari para penjahat yang sedang ngobrol. Yang mereka dengar, hanya obrolan tidak penting seputar kehidupan pria dewasa.
"Sementara itu di tempat lain.
"Enak, Mbak?" tanya Ozil pada wanita yang duduk di sampingnya. Tangan wanita itu terus memainkan batang Ozil, sedangkan lubang miliknya sedang disodok sodok pakai batang palsu yang bisa bergerak dan juga menimbulkan getaran yang sedang dipegang oleh Ozil. Dengan gerakan teratur, Ozil memaju mundurkan tangan yang sedang memegang benda tersebut.
"Enak, Zil, tapi lebih enak kalau dimasukin yang asli," jawab Mbak Rini dengan suara yang sangat berat. Bahkan rintihan kenikmatan, terus keluar dari mulut wanita itu. "Zil, langsung dimasukin punya kamu aja."
Ozil sedikit terkejut. "Emang boleh, Mbak? Punyaku masuk ke dalam punya kamu?"
Bukannya menjawab, Mbak Rini malah tersenyum, lalu dia meminta Ozil mengluarkan mainnya. "Sekarang kamu duduk aja yang santai dan tenang. Biar aku yang membuat kamu keenakan, Sayang."
"Akhh~" rintihan panjang keluar dari mulut Mbak Rini saat batang Ozil memasuki lubang nikmatnya. Ozil sendiri tertegun. Dia sekarang bisa membedakan lubang milik Seruni dan juga milik Mbak Rini. Meskipun lubang Mbak Rini juga masih terasa rapat, tapi lebih rapat lagi milik Seruni.
Setelah batang Ozil masuk ke dalam semuanya, Mbak Rini menyodorkan bukit kembarnya ke mulut Ozil. Bukit kembar wanita itu lebih gede daripada milik Seruni dan lima hantu wanita yang Ozil lihat. Ozil tahu, apa yan harus dia lakukan. Di saat Ozil mulai memainkan bukit kembar dengan mulut dan tangananya, tubuh Mbak Rini mulai bergerak naik turun.
__ADS_1
"Akhh~" Ozil pun ikut meracau keenakan. Ternyata posisi wanita di atas memang sangat nikmat. Mbak Rini bahkan sampai tersenyum saat melihat Ozil yang sedang merasakan kenikmatan. Sampai beberapa menit berlalu, mereka memutuskan untuk pindah di kamar dan melanjutkan main di sana. Cukup lama permainan itu berjalan. Seperti pada umumnya, permainan berakhir ketika sang pria sudah menyemburkan benihnya.
"Gimana, Sayang? Puas?" tanya Mbak Rini beberapa menit setelah permainan mereka selesai. Wanita itu terbaring miring sambil menatap pria yang tubuhnya menghadap langit langit.
"Puas banget, Mbak," ucap Ozil dengan antusias. "Makasih ya, Mbak udah ngijinin aku menikmati lubang kamu."
Mbak Rini langsung tersenyum dan membelai lembut pipi pria yang usianya lebih muda darinya. "Nggak perlu terima kasih, Sayang. Aku juga merasa puas kok dengan batang kamu.Ternyata batang kamu tahan lama ya? Aku sampai meraih puncak berkali kali."
Ozil pun tersenyum. "Nanti kalau Mas Ari tahu, bagaimana, Mbak?"
"Ya jangan sampai tahu dong, Sayang. Lagian kan kayaknya nggak masalah. Kita sama sama jomblo. Yang bermasalah itu yang selingkuh."
"Gitu ya, Mbak?" tanya Ozil lagi memastikan. Mbak Rini pun langsung mengangguk agar Ozil yakin. "Mbak, malam ini aku tidur di sini, boleh?"
"Boleh banget! Kamu udah ngantuk?" Ozil pun mengangguk. "Kamu pasti lelah, ya udah yok tidur."
__ADS_1
Akhirnya malam ini Ozil tidak tidur sendiran lagi.
...@@@@@...