
"Jadi maksud kalian? Kalian tidak tahu asal usul wanita itu?" tanya Marsel dengan segala keterkejutannya. Bukan hanya dia saja yang dibuat terkejut, tapi tiga pria yang bersamanya juga merasakaan hal yang sama dengan pria itu. "Kalian lagi tidak berusaha berbohong, kan?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak, Mas," penjahat yang sama kembali bersuara. "Kita beneran tidak tahu wanita itu berasal darimana. Kami hanya menculiknya di saat dia baru turun dari sebuah angkutan kota."
"Apa!" pekik Marsel lagi. "Jadi darimana wanita itu berasal? Apa dari kota ini juga?"
"Bukan," jawab penjahat lagi. "Kami menculiknya dari seberang pulau dan membawanya kemari."
"Astaga!" sontak ke empat pria yang mendengar pengakuan dari penjahat langsung mengalihkan tatapan tajam mereka kepada Dokter yang sedari tadi terdiam. Entah apa yang sedang Dokter itu pikirkan saat ini, dia mendadak tidak mau bicara sejak beberapa waktu yang, begitu saat dia ditemukan.
"Anak orang kaya mana lagi menjadi yang akan kamu korbankan, brengsek!" maki Leo penuh dengan kekesalan. Bukannya menjawab, Sakurata hanya menunjukan wajah sinisnya. Tentu saja hal itu semakin memancing emosi Leo. Pria itu hampir saja menghajar sang dokter kalau tidak dicegah oleh William.
"Percuma kita mencari informasi tentang cewek itu. Ozil juga nanti bakalan tahu, siapa korban Sakurata kali ini. Iya kan, Zil?" ucap William dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Ozil tersenyum kecut, lalu dia bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri tubuh wanita yang terdiam di sana. Sedangkan arwah wanita itu juga masih berada di tempat yang sama dan saat in dia duduk di samping tubuhnya sendiri. "Aku tidak yakin, akan mendapatkan informasi darimana wanita ini berasal."
"Apa!" pekik William kembali menunjukan rasa terkejutnya, begitu mendengar ucapan dari pemuda yang baru saja mengeluarkan suaranya. "Maksud kamu gimana? Aku nggak paham?" pertanyaan yang keluar dari mulut William, mewakili rasa penaran Leo dan Marsel saat itu juga.
Ozil menoleh ke arah tiga pria itu. "Jika dulu, aku tahu tentang Mawar dan lainnya karena menemukan beberapa petunjuk sampai aku mengenal kalian. Kalau wanita ini," Ozil menjeda ucapannya dan kembali menatap tubuh si wanita. "Aku tidak menemukan petunjuk apapun. Bahkan tidak ada berita tentang hilangnya wanita ini."
ketiga pria yang mendengar jawaban Ozil nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. "Mungkin dia bukan berasal dari kalangan orang kaya," ucap Marsel. "Bukankah kalian tadi dengar sendiri, wanita itu diculik saat turun dari angkot? Mungkin saja dia kalangan dari orang biasa."
"Nah, bisa saja itu," seru Leo. "Paling dia berasal dari keluarga yang menolong Sakurata saat kabur. Aku yakin sih begitu."
"Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab atas wanita itu untuk sementara?" tanya Leo lagi.
"Biar aku saja," ucap Ozil lamgsung. "Nanti setelah sadar, dia pasti bakalan ngasih tahu dimana keluarganya."
__ADS_1
"Benar juga," seru Leo. "Ya udah, aku mau panggil pihak rumah sakit sekarang."
"Kalau bisa rumah sakit yang dekat dengan tempat kerjaku, Mas, biar aku bisa tetap memantau wanita ini sambil bekerja," pinta Ozil. Leo pun menyanggupi.
"Kalian tenang saja, kami tidak akan membawa kalian ke polisi," ucap Marsel kepada tiga penjahat. Tentu saja mendengar hal itu, para penjahat terlihat senang. Bahkan senyum mereka sampai terkembang. "Kalian senang, bukan? Kalian juga akan aku buat senang sebentar lagi," sambung Marsel sambil mengeluarkan ponselnya.
"Kenapa, Dok? Kamu iri? Kamu juga ingin kami buat senang?" tanya William begitu melihat raut wajah iri yang dilayangkan sang dokter kepada tiga penjahat, dan kebetulan Wllliam menyaksikannya. "Tenang, kita juga akan membuat hidup kamu senang kok, Dok. Pokoknya ada kejutan yang tidak kalian sangka."
Sang Dokter tidak menunjukan respon apapun saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut William. Sebagai seorang penjahat, sudah pasti dia tahu kalau sebentar lagi dia akan menerima hukuman yang tidak menyenangkan. Apa lagi tadi dia sempat mendengar alasan Ozil dan yang lainnya tidak segera lapor polisi.
Tak lama waktu berselang, bantuan pun datang, Ozil pergi terlebih dahulu bersama tubuh wanita yang langsung diangkut menggunakan ambulan. Sementara tiga pria yang bersamanya masih setia berada di tempat yang sama sambil menunggu orang orang yang sudah mereka hubungi.
Beberapa saaat kemudian. "Akhirnya yang ditunggu datang juga," ucap Marsel saat mendengar sebuah suara mobil berhenti di depan bangunan tempat mereka berada. "Sekarang waktunya kalian bersenang senang ya?" ucap pria yang sama kepada para penjahat yang saat ini diliputi dengan penuh rasa penasaran.
__ADS_1
...@@@@@...