
Sementara itu di tempat yang berbeda, saat ini, Ozil sedang berada di sebuah gedung yang akan menjadi tempat untuk melangsungkan pernikahan. Ozil sedang membantu Mbak Rini, untuk menangani sebuah pernikahan mewah anak dari pemilik sebuah perusahaan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini.
Di sana, Ozil sedang membantu pihak dekorasi, apapun bantuan yang dibutuhkan. Mbak Rini sendiri sedang menghitung dan memperhatikan setiap titik dari konsep pernikahan yang diinginkan sang mempelai. Bersama Mbak Rini, ada juga sepasang kekasih yang terlihat bahagia karena hari yang mereka nantikan akan segera tiba.
Mereka turun tangan secara langsung mengawasi jalannya persiapan pernikahan mereka yang diprediksi sudah siap sembilan puluh persen. Tak jarang pula sepasang kekasih itu berkonsultasi dengan Mbak Rini, untuk sekedar bertanya dan juga menyampaikan keinginan mereka. Dengan sangat sopan dan bijak, Mbak Rini menanggapi semua pertanyaan dari sepasang calon pengantin itu.
"Konsep pernikahannya ribet juga ya, Mbak," ucap Ozil begitu dirinya dan Mbak Rini istirahat makan siang. Keduanya makan di restoran yang ada di tempat yang sama dengan gedung tersebut, tempat Ozil dan Rini melakukan tugas lapangan.
"Justru yang konsepnya ribet itu hasilnya akan lebih bagus, Zil," balas Mbak Rini. "Kamu belum pernah lihat kan? Hasil dari kerja tangan para karyawannya Mas Ari?"
"Kalau lihat langsung sih belum, Mbak, cuma baru lihat yang ada di foto," jawab Ozil disela sela menikmati hidangan yang menurutnya sangat enak. Senangnya kerja lapangan ya seperti itu, Ozil akan mendapatkan dua kali jatah makan dari pihak penyelanggara dan makanannya jelas makanan yang Ozil tidak mampu untuk membelinya. Apa lagi makanan hotel mewah, sudah pasti Ozil memilih tidak makan jika harus membayar makanan di sana. Untungnya yang sekarang gratis.
"Nanti deh, kalau acara pernikahan ini berlangsung, kamu mau? Aku ajak ke tempat ini? Buat nyaksiin," balas Mbak Rini.
__ADS_1
"Acara siang apa malam, Mbak?"
"Malam dong. Nanti kalau pulang kemalaman, kita bisa nginep di hotel ini juga. Gratis lagi nginepnya, mau?"
Ozil tidak langsung menjawab. Pemuda itu cukup tertegun mendengar ucapan tentang menginap di hotel. Jika diberi penawaran gratis, tentu saja Ozil tidak akan menolaknya. Apa lagi menginap gratis di hotel mewah seperti ini, tentu saja Ozil juga ingin merasakannya.
Namun yang menjadi pemikiran Ozil adalah, dia menginap sendirian di sini apa satu kamar dengan Mbak Rini. Bukannya Ozil tidak suka dengan Mbak Rini, tapi menginap dalam satu kamar dengan seorrang janda cantik, apa mungkin nanti Ozil bisa tidur nyenyak?
"Zil, kok malah bengong?" suara Mbak Rini langsung membuyarkan segala pemikiran nakal yang mendadak berkeliaran dalam kepala Ozil, Pikirannya membayangkan menginap bersama janda pirang yang saat ini berada di hadapannya. Ozil pun langsung tersenyum lebar, begitu tersadar dari lamunannya.
"Enggak, Mbak, bukan begitu," bantah Ozil.
"Udahlah, nggak usah bohong. Berondong ganteng kayak kamu, pasti seleranya bukan janda. Ya udah kalau nggak mau nggak apa apa, yang penting kan aku udah nawarin kamu untuk ikut nonton," Meskipun ucapannya terdengar biasa saja, tapi bagi Ozil, saat ini Mbak Rini seperti sedang marah dan kecewa kepadanya.
__ADS_1
"Sumpah, Mbak, aku nggak memikirkan sampai sana," bantah Ozil lagi. "Aku hanya ..."
"Udah, nggak perlu banyak alasan. Aku ngerti kok. Udah ya, jangan terlalu dipikirkan," setelah mengatakan hal itu, Mbak Rini langsung bangkit meninggalkan Ozil yang terbengong
"Astaga! Mbak Rini malah marah," gerutu Ozil dengan mata menatap ke arah wanita itu, yang melangkah semakin jauh dan menghilang.
Saat petang tiba dan mereka berdua dalam perjalanan pulang, tidak ada obrolan hangat yang terjadi diantara Mbak Rini dan Ozil. Keduanya saling diam, meski mereka berada di dalam satu mobil yang sama. Sebenarnya Ozil sudah berusaha untuk mengeluarkan suaranya dan ingin menjelaskan maksud yang sebenarnya soal diamnya tadi siang, tapi Mbak Rini memilih acuh dengan mengtakan kalau dirinya lagi capek. Dengan sangat terpaksa Ozil pun mengurungkan niatnya.
"Dia siapa?" tanya Mbak Rini begitu mobil yang dia kendarai, telah sampai di kantornya dan melihat sosok wanita berdiri bersandar pada pintu gerbang. Ozil juga sedikit terkejut tadi saat melihat sosok wanita itu, tapi setelah melihat wajahnya, Ozil baru sadar kalau wanita itu adalah Seruni.
Ozil memilih diam, tidak bersuara, untuk mengakui kalau dia mengenal wanita yang dilihat Mbak Rini. Namun saat wanita itu tersenyum ke arah Ozil, Mbak Rini langsung menatap Ozil dengan pandangan menyelidik.
"Kamu mengenal wanita itu, Zil?"
__ADS_1
...@@@@@@...