
Di malam yang sama, tapi di tempat yang berbeda.
"Apa perlu apa kamu datang kemari?" tanya seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan kepada tamunya yang saat ini mengembangkan senyum manis kepada pria tersebut. Seperti biasa, pria yang dikenal sebagai dukun sakti itu hampir setiap hari kedatangan pasien yang ingin berkonsultasi dengan dirinya.
"Ini, Mbah, aku pengin pasang susuk," jawab sang tamu yang merupakan seorang wanita. Tidak terlalu cantik, tapi penampilannya sangat menggoda mata kaum lelaki. dress pendek berwarna merah yang begitu sangat ketat dengan bagian dada yang tidak tertutup semuanya membuat isinya yang cukup besar seakan hendak tumpah.
"Pasang susuk buat apa? Kan kamu sudah cantik?" gombalan pun mulai keluar dari pria yang akrab dipanggil Mbah Wiro sambil menyalakan rokoknya.
"Biar daganganku makin laris, Mbah," jawab si wanita dengan senyum yang sangat genit. Sudah bisa dipastikan, wanita itu pasti terpesona dengan aura yang terpancar pada dukun bertubuh tegap itu.
"Emang kamu jualan apa? Kok Pakai susuk segala? Bukannya mending pakai penglaris?" si Mbah melempar pertanyaan lagi.
"Jualan ini, Mbah," jawab si wanita sambil menunjuk bagian tubuh yang terletak diantara dua pahanya. "Masa satu minggu cuma melayani dua pria doang, Mbah. Sepi banget."
__ADS_1
Mbah Wiro nampak menyeringai sambil menganggukan kepalanya beberapa kali. "Jualan begituan ada sepinya juga ya? Saya kira cuma pedaagang di pasar yang merasakan dagangannya sepi."
Si wanita terkekeh. "Hehehe .. ya ada dong, Mbah. Kalau rame terus, mana mungkin aku kesini? Apa lagi sekarang saingannya banyak dan banyak juga yang lebih muda. Yang senior banyak yang kalah telak."
Mbah Wiro malah tersenyum cukup lebar. "Bagian mana aja yang ingin kamu pasang susuk? Apa bagian lubang enak kamu saja?"
"Nggak, Mbah," jawab si wanita. "Bagian bibir dan juga bukit kembarku, Mbah."
Mbah Wiro mengangguk kembali beberapa kali. Seperti biasa, dia akan menyodorkan sebuah aturan yang harus ditaati pasiennya. Jika sudah setuju, pasien disuruh menunggu di ruang khusus untuk ritual dengan melepas semua pakaianya dan berbaring di ranjang yang ada di sana. Tak lama setelah itu, Mbah Wiro masuk dengan membawa dupa yang sudah menyala. Mbah Wiro juga sudah tidak berpakaian, hanya ada kain bermotif yang dia kenakan untuk menutupi pinggangnya.
"Sudah selesai," ucap Mbah Wiro. "Sekarang, bagian dada dekatkan ke wajahku," lagi lagi si pasien menurutinya. Bukit kembar nan besar itu terpampang indah dihadapan mata Mbah Wiro. Pria itu kembali memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya dan melakukan hal yang sama pada dua pucuk milik si pasien secara bergantian.
Setelah urusan dada selesai, kali ini Mbah Wiro yang mengangkat bangku plastiknya dan berpindah tempat menjadi di ujung ranjang dimana kaki pasein berada. "Sekarang kaki kamu angkat dan bentangkan seperti orang yang mau melahirkan," lagi lagi si pasien menurutinya. Mbah Wiro menarik tubuh pasien agar lubang nikmtanya lebih dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
"Saya coba dulu masukin ya?" ucap Mbah Wiro.
"Silakan, Mbah," balas wanita itu pasrah.
Mbah Wiro berdiri ditepi ranjang dan melepas lilitan kain di tubuhnya. Tangan kirinya memijat lubang milik pasien dan tangan kanannya memijit batang yang sudah berdiri kokoh. Tidak perlu menunggu lama, setelah dirasa cukup, Mbah Wiro langsung menyodok lubang paseian yang sudah basah.
"Udah lumayan longgar punya kamu," ucap Mbah Wiro sambil menggerakan pinggangnya maju mundur. Si pasien hanya tersenyum malu. Mbah Wiro langsung menghentikan sodokannya lalu dia duduk kembali di kursi plastik. Mbah Wiro lagi lagi memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya sambil komat kamit membaca mantra. Setelah itu Mbah Wiro menempelkan mulut itu pada lubang nikmat si pasein dan memainkannya dengan mulut untuk sesaat. Begitu selesai, Mbah Wiro kembali berdiri dan bersiap untuk melakukan menyodokan lagi.
"Akhh~" si pasien merintih keenakan.
Mbah Wiro lantas tersenyum. "Nah, udah enak ini. Udah seret banget," si pasien langsung tersenyum senang.
Sementara itu d tempat lain, seorang pemuda sedang asyik memencet mencet bukit kembar untuk pertama kalinya. Wajah pemuda itu terlihat begitu senang dengan mainan baru yang terpampang di hadapan wajahnya. Namun senyum pemuda itu seketika meredup saat sebuah suara tiba tiba terdengar di telinganya.
__ADS_1
"Bang Ozil, ada kabar bagus nih, ayo keluar!"
...@@@@@...