HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Kabar Terbaru


__ADS_3

"Apa! William akan dilenyapkan!" pekik Anggrek begitu menguping pembicaraan Dokter Sakurata. Tentu saja dia dan keempat hantu yang lain cukup terkejut dengan apa yang mereka dengar saat ini.


"Jangan jangan Wiliiam hanya saksi, Nggrrek," ucap Cempaka. "Kalau sampai dia dilenyapkan, berarti dia memang saksi yang melihat semua kejadian saat kamu hilang."


"Nah, aku mikirnya juga begitu," Lili ikut menimpali. "Mungkin saat kejadian, dia tidak sengaja menyaksikan semua perbuatan dokter Sakurata."


"Tapi kalau memang dia tidak terlilbat, kenapa dia tidak memberitahu keluargaku?" tanya Anggrek. "Harusnya kan dia jujur kalau dia tahu apa yang terjadi terhadapku. Bukan malah diam seperti tadi dan mengancam dokter Sakurata. Itu sama saja dia menggali lubang kuburannya sendiri kan?"


"Ya mungkin William tidak punya bukti. Kalau dia memiliki bukti yang cukup, pasti dia tidak hanya lapor keluarga kamu saja lah. Lagian kan dia sahabatmu, masa iya dia tega akan menjerumuskanmu?" ucap Cempaka lagi.


"Tapi banyak juga loh sahabat yang dengan sengaja mau menusuk kita dari belakang. Aku contohnya, kalian sudah tahu kan ceritanya," ucap Mawar.


"Ya, semua itu tergantung orangnya sih," Melati pun ikut bersuara. "Daripada kita mikirin hal yang yang nggak penting, bukankah lebih baik kita mikirin bagaimana cara menemukan jasad kita?"


"Iya, itu, benar!" seru Lili. "Sekalian, kita juga mencari bukti kalau Wiliiam itu terlibat atau tidak."

__ADS_1


"Ya udah, kita ikuti orang orang ini dulu, mereka mau kemana?" Seketika semua hantu terdiam dan kembali fokus mendengar pembicaraan ke empat pria yang masih di dalam mobil. Setelah beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai para penjahat itu memasuki jalan yang sama, dimana kantor Ozil berada. Meski para hantu terkejut, mereka cukup tahu, tujuan para penjahat datang ke komplek sini.


Ozil sendiri saat ini sudah berada di dalam pos jaga kantornya. Setelah puas melakukan perang bibir dengan Seruni, pria itu memutuskan keluar kamar karena sebentar lagi jam makan siang datang. Biasanya Ozil yang diminta untuk membeli makanan. Pemuda itu sempat terkejut saat melihat para hantu berada di atap sebuah mobil yang melintas.


"Mereka lagi pada ngapain?" gumam Ozil.


"Siapa, Zil?" tanya Bapak satpam yang ternyata mendengar gumaman pemuda yang sedang duduk di sebelahnya. Mata lelaki yang lebih tua itu juga ikut mengedarkan pandangannya ke arah jalan di depan kantor.


"Oh, bukan siapa siapa, Pak," balas Ozil dusta. "Tadi ada mobil lewat, tapi membawa barang banyak banget, mana ada orangnya lagi, disela sela barang barang itu."


"Apa di disini banyak perusahaan, Pak? Kok banyak tempat kontrakan?" tanya Ozil matanya lekat menatap pria yang katanya memiliki tiga anak.


"Paling kebanyakan perusahaan yang nggak terlalu besar kayak tempatnya Mas Ari ini. Tapi yang ngontrak kebanyakan itu perantau yang memilih berdagang gitu. Kebanyakan mereka pedagang kaki lima."


Ozil mengangguk beberapa kali. Namun saat dia hendak kembali mengeluarkan suara, salah satu karyawan memanggil namanya. Ozil pun pamit pergi kepada Pak Satpam lalu bergegas masuk ke dalam kantor. Seperti yang sudah Ozil duga, dia diminta membeli beberapa makanan untuk makan siang. Ozil pun bergegas saja berangkat.

__ADS_1


Tanpa terasa, waktu terus bergulir dan kini jam kantor telah habis. Bagi yang tidak berangkat kerja lapangan, mereka memilih langsung pulang setelah pekerjaan beres. Sedangkan yang sedang melaksanakan tugas lapangan, mereka biasanya akan langsung pulang jika pekerjaan juga sudah beres. Tapi biasanya yang menangani tugas lapangan, jam pulang kerjanya akan lebih telat beberapa jam daripada yang berada di kantor.


"Aku pamit dulu, Zil, jaga diri baik baik,"ucap Pak satpam begitu dia akan pulang juga. Seperti biasa, pria itu akan pulang paling terakhir saat semua karyawan sudah pulang.


"Siap, Pak. Bapak juga hati hati," balas Ozil diiringi senyuman lebar. Pria tiga anak itu hanya mengganguk sembari tersenyum juga kepada Ozil, lalu dia melangkah menuju rumahnya seperti biasa dengan jalan kaki.


Begitu suasana kantor sepi, Ozil langsung menutup pintu gerbang dan menguncinya. Ozil juga tidak lupa memeriksa kembali ruang kantor untuk mengecek segala sesuatu sambil merapikannya serta membersihkannya. Setelah semua selesai, Ozil baru masuk ke kamar.


"Hayoo! Lagi ngapain?" seru Ozil begitu membuka pintu kamar dan melihat Seruni sedang fokus memandang layar ponsel. Nonton apaan sih? Serius amat?"


Seruni menoleh sejenak menatap OZil. "Ini lagi lihat video tindakan kriminal. Kali aja nemu ide untuk membalas perbuatan Paman Sakurata!"


"Astaga!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2