HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Rencana Tiga Penculik


__ADS_3

"Sekarang, serahkan uang yang anda miliki, Tuan dokter. Kami ingin bersenang senang," pinta salah satu penjahat dengan entengnya sembari menyodorkan ponsel milik Sakurata. Karena selama ini Sakurata selalu bertransaksi melalui ponsel dan mereka mengetahuinya, para penjahat jelas sekali memanfaatkan cara yang sama untuk menguras harta pria asal jepang itu.


Bukannya menurut, Sakurata malah menyeringai. "Apa kalian pikir, uang yang kalian inginkan akan dengan mudah kalian dapatkan? Kalian salah!" tentu saja si Dokter harus bermain tak kalah licik dari tiga pria itu. Dia tidak mau kalah begitu saja dari penjahat yang berkhianat. "Kalian tidak akan pernah mendapatkan uang sedikitpun dari saya."


"Oh yah?" si penjahat kembali meremehkan dan dia menoleh ke arah dua rekannya yang sedari tadi hanyaa memperhatikan. "Apa mungkin kita harus memberi tahukan kepada pihak aparat kalau buronan yang mereka cari ada di sini?"


Mendengar ancaman seperti itu, kening Sakurata langsung berkerut. Sedangkan ketiga penjahat langsung tersenyum lebar penuh kemenangan. Namin tak setelahnya Sakurata mengeluarkan ucapan yang diluar dugaan para penjahat.


"Ya sudah laporkan saja. Bukankah itu jalan mudah agar aku juga bisa menyeret kalian agar kalian ikut ditangkap juga," Sakurata kembali menunjukan senyum liciknya, dan ucapannya berhasil membuat senyum ketiga penjahat langsung memudar.


Apa yang dikatakan Sakurata sangat tidak disangka oleh ketiga pria itu. Mereka pikir Sakurata akan takut dengan ancaman yang mereka berikan. Namun sungguh diluar perkiraan ketiganya, Sakurata justru malah menantang mereka untuk melaporkannya. Tapi yang namanya penjahat, mereka harus bisa lebih pintar dari siapapun. Tiga orang itu tidak mau mendapatkan hasil yang mengecewakan.

__ADS_1


"Kenapa diam? Laporkan saja saya ke aparat. Apa kalian pikir akan mendapatkan penghargaan setelah melaporkan saya? Tidak semudah itu, Tuan. Anda justru akan bernasib sama seperti saya," ucapan Sakurata yang semakin memprovokasi, membuat amarah para penjahat mendidih. Bahkan tatapan kemarahan sudah terlihat jelas pada mata mereka masing masing.


Namun, ketiga penjahat saat ini masih terdiam meski amarah mereka sudah sampai di kepala. Mereka terus berpikir, bagaimana caranya mendapat uang dari dua orang yang ada di sana. Satu Dokter Sakurata dan satunya lagi wanita yang sedang terbaring.


"Aku ada ide," cetus salah satu penjahat ditengah tengah kebimbangangan mereka.


"Apa!" tanya salah satu penjahat lainnya.


Selang beberapa menit kemudian, tiga penjahat itu kembali masuk dengan wajah yang berbeda. Ada senyum yang tergambar nyata pada bibir mereka, dan hal itu pastinya menumbuhkan banyak pertanyaan dalam benak Sakurata. Entah rencana apa yang sudah mereka dapatkan dan mungkin sebentar lagi dokter Sakurata akan segera mengetahuinya.


"Ya udah, kamu cari nama tiga pria yang kemarin membantu Ozil. Kita serahkan saja Dokter Sakurata pada mereka. Bukankah merreka sangat dendam kepada dokter ini," mendengar tiga pria disebut oleh salah satu penjahat, nampak sekali wajah syok terlihat pada diri Sakurata. Sangat jelas sekali kalau dokter Sakurata tahu siapa tiga pria yang dimaksud oleh para penjahat.

__ADS_1


Leo, Marsel dan William, ketiga pria itu memang membuat pengumuman dengan mamasang imbalan yang fantastis bagai siapa saja yang berhasil menemukan Sakurata dan menyerahkan si Dokter kepada mereka. Dokter Sakurata jelas tahu berita tersebut karena dia juga memantau semua berita tentang kejadian yang dia dalangi. Sakurata tidak menyangka kalau tiga pria itu mengetahui apa yang paling ditakuti oleh Sakurata.


"Kenapa malah lapor ke orang lain? Apa kalian tidak takut, ketiga pria itu juga melaporkan kalian ke polisi?" Sakurata melempar pertanyaan untuk mempengaruhi jalan pikiran tiga penjahat itu. Biar bagaimanapun Sakurata lebih memilih langsung dilaporkan ke pihak aparat daripada ketiga pria yang ada sangkiut pautnya dengan lima wanita yang dulu Sakurata culik.


"Tentu saja kita tidak takut. Ini bisnis, Tuan, jadi, mana yang lebih menguntungkan, itulah yang kami ambil," jawab salah satu penjahat dengan santai. "Anda pasti sangat penasaran, dengan rencana kami selanjutnya bukan?"


Sakurata langsung mencebikan bibirnya. Dia memang penasaran dengan rencana mereka, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Sakurata hanya bisa menerka nerka, apa yang akan terjadi jika dia jatuh ke tangan tiga pria yang dendam kepadanya.


Salah satu dari tiga pria itu mulai bersiap untuk melakukan panggilan kepada salah satu dari tiga pria yang dimaksud. Namun di saat dia hendak meletakkan ponselnya di telinga, ketiga pria itu dibuat terkejut dengan suara menggelegar di ruang tersebut.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2