HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Keseriusan Ozil


__ADS_3

"Bisa aja kamu kalau becanda, mas," dengus Nirmala sembari beranjak menuju ke sofa dan membaringkan tubuhnya di sana. Meski hatinya tadi cukup bergetar ketika mendengar kata latihan menjadi istri dari mulut pria yang dia sukai, tapi wanita itu segera menepis perasaaan senangnya karena tidak ingin berharap lebih agar tidak kecewa.


Ozil, pria yang baru saja mendapat musibah karena menolong Nirmala, sontak mengembangkan senyumnya, melihat tingkah wanita itu. Matanya menatap lekat kepada wanita yang sedang berbaring di ats sofa dengan posisi memunggunginya. Pria itu lantas menatap langit langit kamar dengan pikiran yang berkelana. "Emang nggak kelihatan apa, kalau aku ngomongnya serius, Nir?"


Nirmala kembali tertegun. Tapi untuk kali ini wanita itu memilih tetap berbaring tanpa ingin menatap pria yang terbaring di atas brangkar. Mulutnya tidak mengeluarkan satu katapun untuk sekedar menjawab atau mengatakan sesuatu. Namun benaknya justru tumbuh beberapa pertanyaan yang cukup membuat hati Nirmala bingung.


"Sejak kamu tinggal di sini, kita itu selalu melakukan apapun sama sama. Bahkan kamu tahu sendiri, selama itu pula aku tidak pernah jalan dengan cewek lain. Jika selesai kerja ataupun sedang libur kerja, aku memilih menghabiskan waktu bersama kamu ataupun ngajak jalan kamu meski hanya muter muter keliling Mall. Lantas, nggak salah kan kalau aku ngajak kamu untuk menuju masa depan yang lebih serius?"


Ozil mengeluarkan suaranya kembali dan apa yang dikatakan pemuda itu sukses membuat Nirmala tercengang. Seketika benak wanita itu mendadak jadi bergemuruh. Bukan karena marah, tapi wanita itu bingung. Di sisi lain, ada bagian hati yang merasa senang mendengar ucapan Ozil, tapi di sebagian hati yang lainnya, Nirmala takut terlalu berharap.

__ADS_1


"Sebenarnya tadi sore aku main ke rumah teman aku, untuk membicarakan hal ini, Nir." Ozil kembali berkata sambil menatap punggung wanita yang dia ajak bicara. "Aku minta penegasan aja dengan hatiku. Biar bagaimanapun aku sudah pernah cerita kan, sama kamu, aku tidak pernah merasa dicintai dan aku juga sering memendam rasa cinta. Jadi menurut kamu gimana? Jika kita menikah saja dan hidup damai di kampungku?"


Untuk kesekian kalinya Nirmala tertegun, dan kali ini dia lebih dibuat tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar. "Menikah?" tanya Nirmala guna mempertegas ucapan yang dia dengar. wanjta itu bangkit dari berbaringnya dan langsung menatap tajam ke arah pria yang sedang menatapnya. "Kamu lagi nggak bercanda, kan?"


"Siapa yang bercanda?" bantah Ozil. "Aku nggak pernah seserius ini ngomong sama cewek loh. Lagian aku juga nggak mau terjadi apa apa sama kamu nantinya, dan mungkin juga sudah waktunya aku harus menata masa depanku agar lebih baik lagi. Nggak mungkin juga aku seumur hidup jadi Ob, kan?"


Ozil kembali terkekeh. "Hehehe ... ya anggap aja begitu, ngelamar resminya nanti aja, yang penting kan kamunya dulu, mau enggak. Urusan ngelamar resmi, paling tidak aku harus menemui salah satu keluarga kamu, bukan?"


"Iya juga sih," ucap Nirmala sambil mengangguk samar. "Tapi apa mereka akan merestui?" tiba tiba ada rasa ragu dalam benak wanita itu kala Ozil menyebut kata keluarga Nirmala. Wanita itu juga seketika dihinggapi rasa sedih karena di saat seperti ini, orang tuanya malah sudah tiada.

__ADS_1


"Merestui atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting niatku baik dan kamunya bagaimana. Nanti kalau mereka tidak mau memberi restu ya udah, aku tetap nikahin kamu tanpa restu. Mereka bukan orang tua kamu juga, kan? Nanti kita pasti juga akan mendapat banyak solusi dari orang tuaku dan yang lainnya. Kamu nggak usah takut."


Mendengar ucapan Ozil yang sangat meyakinkan, rasa cemas yang tadi sempat menyerang benak Nirmala seketija langsung sirna, berganti rasa nyaman dan juga senang tentunya. Tanpa memberi respon balik, wanita itu kembali membaringkan tubuhnya dan memunggungi Ozil. Senyumnya pun langsung terkembang dan sepertinya malam ini Nirmala tidak akan bisa tidur.


"Loh, kok malah tidur lagi?" Ozil melayangkan protes. "Gimana? Kamu mau nikah sama aku nggak?" pemuda itu kembali bertanya, tapi sampai beberapa detik berlalu, Ozill tidak mendengar Nirmala mengeluarkan suaranya. "Ih, gemesin banget ya? Orang lagi ditanya serius, malah ditinggal tidur. Nirmala, bangun woy! Jawab dulu pertanyaanku."


Di satu sisi Nirmala masih senyum senyum sendiri tanpa ada niat membalas ucapan Ozil yang sedang teriak kepadanya. Wanita itu tentu saja mau dan hal ini memang sudah dia tunggu sejak mengenal pemuda itu.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2