
"Mas Ozil!" teriak Nirmala begitu dia kembali ke tempat dimana Ozil dan dua orang yang menganggunya menyerang. Wanita itu bersama warga bergegas mendekat ke tempat kejadian dan mereka semua terkejut begitu melihat apa yang terjadi di sana. "Mas Ozil, bangun, Mas!" Nirmala langsung merengkuh kepala Ozil dan mencoba membangunkannya.
"Kita harus bawa mereka semua ke rumah sakit, cepat!" titah seorang warga, dan semua yang ada di sana langsung bekerja sama mengambil tindakan.
Bukan hanya Ozil yang pingsan, tapi dua pria yang tadi berkelahi dengan Ozil, juga saat ini terkapar tak sadarkan diri di tempat yang sama. Makanya, ketiga orang tersebut langsung dibawa oleh warga menuju rumah sakit terdekat agar segera diberi pertolongan. Tak lupa juga salah satu warga juga menghubungi pihak kepolisian untuk bertindak.
Selang beberapa waktu kemudian, setelah ketiganya sampai di rumah sakit, mereka langsung ditangani oleh dokter yang berjaga dan juga beberapa perawat. Nirmala sendiri langsung dimintai keterangan oleh pihak berwajib. Dengan rasa khawatir, wanita itu menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan Ozil.
"Kok aneh ya?" ucap salah seorang warga yang masih berada di rumah sakit.
"Aneh kenapa?" tanya warga lainnya. Mereka saat ini sedang duduk di ruang tunggu, di unit gawat darurat.
"Aneh aja loh, masa ketiganya pingsan bersamaan. Kebanyakan kan orang bertarung, terus kalau salah satunya tidak sadarkan diri, yang lain pasti akan merasa jadi pemenang dan langsung kabur. Tapi kok, mereka malah pingsan semua?"
"Benar juga ya?" warga yang lainnya ikut menimpali. "Apa mungkin karena mereka kelelahan saat bertarung?"
__ADS_1
"Bisa jadi itu," seorang warga ikut mengeluarkan suara lantangnya. "Bisa saja mereka sama sama kuat meski dua lawan satu. Jadi mereka kelelahan. Hebat juga ya Ozil."
Semua warga yang ada sana malah pada ribut sendiri dengan segala dugaan mereka masing masing. Sampai semua urusan selesai, para warga pamit pulang dan kini urusan tiga orang yang belum sadarkan diri diambil alih oleh pihak berwajib untuk diselidiki.
Nirmala sendiri memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit guna menjaga Ozil. Selain sebagai tanda terima kasih, Nirmala merasa kalau dia wajib menjaga Ozil dalam keadaan terluka seperti itu. Selain karena Ozil yang sedari dulu menolong Nirmala, wanita itu juga merasa punya tanggung jawab untuk menjaga Ozil.
Hingga beberapa jam terus bergulir dan waktu sudah menunjukan larut malam.
"Akhirnya kamu sadar juga, Mas," ucap Nirmala terilhat begitu lega saat Ozil membuka matanya setelah tadi diawali tubuh Ozil yang bergerak sebagai tanda kalau pemuda itu sadar diri dari pingsannya.
"Kamu ada di rumah sakit, Mas. Kamu tadi ditemukan pingsan," jawab Nirmala lembut. "Maaf, tadi aku terlambat memanggil bantuan. Tadi para warga di sekitar tempat kejadin, sedang nonton dangdutan di hajatan warga lainnya, jadi mereka terlambat memberi pertolongan ," ucap Nirmala penuh sesal.
"Nggak apa apa," Ozil mencoba tersenyum. "Lalu gimana nasib dua orang itu? Apa mereka kabur?"
"Tidak, mereka ada di kamar sebelah dan dijaga oleh polisi. Mereka juga tadi ditemukan pingsan," jawab Nirmala.
__ADS_1
Ozil menganggukan kepalanya beberapa kali. Sebenarnya Ozil tahu apa yang terjadi. Sebelum Ozil pingsan, dia menyaksikan sendiri dua pria yang menyerang Nirmala, pingsan terlebh dahulu akibat ulah para hantu. Ozil juga cukup terkejut dan tidak pernah menduga kalau para hantu di sekitar tempat kejadian, mengetahui kalau Ozil bisa melhat sosok mereka. Padahal selama ini Ozil sengaja pura pura tidak melihat mereka semua, tapi ternyata diluar dugaan, hantu hantu yang ada di sepanjang jalan komplek tempat kerja Ozil, mengenal pemuda itu.
"Kamu mau menghubungi orang tua kamu nggak? Kalau mau, biar aku yang memberi kabar sama mereka," tanya Nirmala.
Ozil yang sedang sedikit melamun karena memikirkan para hantu yang menolongnya, sontak terkejut. "Nggak perlu," tolak Ozil. "Luka lukaku nggak terlalu parah kan?"
"Meski nggak terlalu parah, tapi orang tua kamu wajib tahu, Mas," kekeh Nirmala.
"Aku tahu, tapi aku nggak mau mereka terlalu khawatir. Kasian mereka kalau harus ke sini," Ozil tetap memberi larangan. "Lagian ada kamu ini. Kamu nggak keberatan kan? Untuk merawatku?"
Nirmala tercenung. Dengan kening berkerut matanya langsung membalas tatapan Ozil. Namun tak lama setelahnya senyum Nirmala terkembang. "Ya tentu nggak keberatanlah, orang kamu aja dulu yang merawat aku. Masa gini aja aku nggak mau."
"Ya udah kalau kamu mau kayak gitu, nggak perlu ngasih kabar orang tuaku," balas Ozil. "Anggap aja kamu sedang latihhan menjadi istri yang merawat suaminya dengan baik."
"Hah!"
__ADS_1
...@@@@@@...