HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Sebuah Ritual


__ADS_3

"Kenapa ditutupin?" tanya seseorang saat memasuki sebuah ruangan dengan tangan membawa beberapa dupa yang sudah mengeluarkan asap dan bau yang tidak sedap. Orang itu melangkah mendekat ke arah seseorang yang sedang berbaring.


"Malu, Mbah," jawab orang yang sedang berbaring, yang tidak lain adalah seoang biduan.


Orang yang dipanggil Mbah itu lantas duduk di tepi ranjang, dimana sang biduan sedang berbaring telentang. Mbah Wiro meletekan dupa yang dia bawa di atas meja kecil yang ada di sisi ranjang. Tangannya lalu bergerak, mengangkat tangan biduan yang sedang menutupi bukit kembar dan celah nikmatnya. "Ngapain mesti malu? Orang barang bagus begini," ucap Mbah Wiro sambil memencet mencet bukit kembar milik si biduan.


Sesuai petunjuk yang dibaca sang biduan sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut, Biduan itu memang harus melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya dan berbaring telentang untuk melakukaan ritual awal sesuai arahan orang yang dia percaya sebagai orang sakti, yang bisa mengabulkan keinginan sang biduan.


Bukan hanya bukit kembar yang dipencet pencet, Mbah Wiro juga memijat lubang nikmat milik si biduan sampai tubuh biduan itu menggeliat. Mulut Mbah wiro juga ikut maju , menyesap dua bukit kembar secara bergiliran. Sang biduan hanya bisa pasrah, karena dia yakin, ini adalah bagian awal dari ritual yang akan dia jalani.


Setelah merasa cukup memainkan bukit kembar, Mbah Wiro kembali duduk tegap. Tangan kanannya mengambil dupa, sedangkan tangan kirinya masih memainkan lubang di bawah perut si biduan. Sambil komat kamit, Mbah Wiro mengitari tubuh Si Biduan dengan dupa. Setelah beberapa menit berlalu, Mbah Wiro menghentikan aksinya.

__ADS_1


Mbah Wiro bangkit, lalu melepas kain yang melilit dipinggangnya. Sang biduan sedikit membelalak saat melihat benda berbulu lebat milik si Mbah. Sejak masuk ke dalam ruangan, Mbah Wiro memang hanya memakai kain bermotif yang melilit pinggangnya Tubuh bagian atasnya tidak tertutup kain apapun sehingga tato ular cobranya jelas sekali terlihat dan dimata sang biduan, Mbah Wiro semakin terlihat gagah.


"Sekarang kamu tengkurap sambil menikmati batang saya dengan mulut kamu," titah Mbah Wiro, dan tentu saja sang biduan kembali menurutinya. Mbah Wiro naik ke atas ranjang dan memgambil posisi duduk di salah satu ujung ranjang sembari bersandar pada tembok. Kedua kakinya lurus membentang agar memudahkan si biduan memainkan batangnya. Begitu semuanya siap, sang biduan langsung melakukan perintah sang dukun. Mbah Wiro sendiri kembali komat kamit membaca mantra sambil memegangi dupa.


"Punyaku bau keringat ya?" tanya Mbah Wiro setelah melakukan ritualnya.


"Iya, Mbah, tapi enak kok," jawab si biduan dengan sangat antusias. "Ini aja aku sangat lahap memakannya."


"Mbah Wiro lantas tersenyum. "Ya sudah teruskan. Nanti kalau aku bilang berhenti, baru kamu berhenti." Seperti biasa, wanita itu kembali menuruti dan terus melakukan penjilatan pada batang milik Mbah Wiro yang sangat kekar seperti tubuh pemiliknya.


"Baik, Mbah," tidak ada penolakan. Yang ada sang biduan sangat antusias saat akan melaksanakan titah Mbah Wiro. Sang biduan langsung bangkit dan tidak butuh waktu lama, Si wanita membimbing batang kekar milik Mbah Wiro agar masuk ke dalam lubangnya. "Akhh~"

__ADS_1


Di malam yang sama, tapi di tempat yang lainnya, Ozil pun kini bersiap unttuk tidur. Setelah mandi dan makan malam, pemuda itu bersiap diri untuk beristirahat karena besok harus bekerja lagi. Tentu saja, Ozil tidak sendiri. di dalam kamar yang sama, masih ada Seruni yang juga akan bersiap siap untuk tidur.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Ozil dengan kening berkerut. "Kok buka lemari bajuku?"


"Aku mau minjam celana kolor kamu lagi untuk tidur," jawab Seruni tanpa menoleh.


"Loh, kok pake kolor?" Ozil cukup terkejut mendengarnya. "Kenapa nggak pakai baju kamu sendiri?"


"Emang aku boleh memakai baju tidurku di sini?" tanya Seruni yang langsung menatap Ozil dengan tatapan serius.


"Ya boleh lah, siapa yang melarang," jawab Ozil. Seruni lantas tersenyum lalu mengambil baju tidurnya yang ada di dalam koper. Sedangkan Ozil langsung memalingkan wajah dan tubuhnya menghadap ke tembok. Sebenarnya Ozil tidak melarang Seruni memakai celana kolornya. Tadi dia hanya bertanya, bukan untuk melarangnya. Ozil malah senang jika Seruni memakai celana kolor miliknya. Dengan memakai kolor, Ozil berharap bisa melihat isi celana Seruni lagi.

__ADS_1


Setelah ganti baju di luar kamar, Seruni kembali masuk. karena penasaran, Ozil pun menoleh untuk melihat baju tidur Seruni. Namun mata Ozil seketika membalalak begitu melihat pakaian tidur wanita itu.


...@@@@@...


__ADS_2