HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Setelah Tragedi


__ADS_3

"Tidak!"


Suara teriakan dari seseorang yang berada di lantai atas sontak membuat tiga orang yang saat ini berada di lantai bawah langsung mendongak. Satu diantaranya wajahnya pucat dan dua yang lain terlihat sangat terkejut. Sementara itu di hadapan mereka, ada satu pria yang menyeringai dengan tatapan yang sangat meremehkan.


"Bagaimana? Apa kalian ingin memiliki nasib yang sama dengan teman kalian?" pertanyaan dari pemuda bernama Ozil tentu saja sangat mengejutkan ketiga orang yang ada di hadapannya.


"Apa itu perbuatan kamu?" tanya si wanita yang tadi sempat mengalami hal yang sama dengan pria yang saat ini sedang pingsan di lantai atas.


"Menurutmu?" jawaban Ozil yang terlihat santai tentu saja membuat waniat itu ternganga. "Apa aku juga harus menunjukannya di hadapan kalian saat ini juga?"


"Apa maksudmu, hah!" pria bertopi membentak Ozil.


"Jangan seperti itu!" si wanita memperingati temannya dengan suara yang cukup lirih. "Pria itu sepertinya memiliki indra ke enam."


Pria bertopi dan pria berkaos salur nampak terperangah mendengarnya. Namun alih alih menolak rasa takut, dua pria itu malah menatap tajam Ozil yang saat ini sedang bersandar pada tembok, sambil bersilang dada. "Biarpun memiliki indra ke enam, lalu apa masalahnya? Di pikirnya kami akan takut?" ucap pria bertopi sinis.


"Sebaiknya kita habisi dia sekarang!" ucap pria berkaos salur dan disambut anggukan oleh pria bertopi. "Serang!" Baru saja kata serang mereka serukan, telinga mereka mendengar suara yang sangat tidak asing dan terdengar semakin jelas. "Sial, ada polisi!"


Dua pria dan satu wanita itu sontak saja panik. Mereka bersiap untuk melarikan diri. Ketiganya langsung berlari menuju ke arah belakang, dimana ada pintu lain di sana. Namun saat pintu itu hendak dibuka, mereka mengalami kesulitan. Pintu itu sama sekali tidak bergerak padahal kunci sudah mereka lepaskan.

__ADS_1


"Ini pintu kenapa kayak berat banget sih?" umpat pria bertopi sambil menarik gagang pintu dengan sekuat tenaga.


"Ini juga. Nggak bisa dibuka," seru pria berkaos salur yang berusaha membuka pintu di sisi sebelahhnya.


"Jendela juga sama, nggak bisa dibuka!" seru si wanita.


Dengan sekuat tenaga, mereka terus menarik pintu dan jendela sampai suara sirine mobil polisi berhenti. Mereka terlihat semakin panik. Di tengah kerasnya usaha yang dilakukan para penjahat, mereka kembali mendapat kejutan yang tidak terduga. Pintu dan jendela terbuka dengan sangat kencang hingga mereka semua terhempas dan menimbulkan suara yang keras.


Brak!


Dakk!


"Akkhh!" ketiga orang itu serentak bertetiak dengan suara yang begitu keras. Di saat itu pula mereka semua mendengar suara polisi berteriak. "Pintunya terbuka, cepat kabur"' seru pria bersalur. Tapi sial, pintu langsunf tertutup dengan sendirinya, dan mereka kembali merasa kesulitan untuk membukanya. "Sial!"


"Yang satu ada di lantai atas, pak," ucap Ozil dengan nafas yang dibuat menderu agar terlihat kalau dia baru sajja berkelahi.


"Ozil!" teriak suami istri yang baru saja masuk ke dalam lokasi kejadian, tak lama setelah polisi datang. "Mana Fazel?"


"Di lantai atas, Mbak, dengan korban penculikan yang lainnya," jawab Ozil. Ari dan Anin langsung saja berlari menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Ozil. benar kata Ozil, disana ada enam anak termasuk Fazel. Anindita langsung meraih tubuh anaknya dan anak anak yang lain digendong oleh beberapa polisi.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuan saudara. Sindikat pencurian anak ini memang sudah kami target penangkapannya, tapi selalu saja gagal," ucap polisi begitu para penjahat dan para korban sudah diamankan.


"Sama sama, Pak. Sudah menjadi tugas saya juga untuk mermbantu polisi demi keamanan negara kita, Pak," jawab Ozil dengan sikap santun.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Kami harus memberi kabar kepada orang orang yang telah membuat laporan tentang berita kehilangan anak anak," pamit Pak Polisi. Ozil lantas mempersilakan. Dia juga siap dijadikan saksi jika nanti dibutuhkan.


"Makasih ya, Zil, lagi lagi kamu menyelamatkan keluargaku," ucap Mas Ari yang wajahnya lebih terlihat lega setelah anaknya ketemu.


"Sama sama, Mas. Ya kebetulan aja pas kejadian ada saya di sana," balas Ozil merendah.


"Ya untungnya ada kamu. Baiklah, lebih baik kita pulang, Zil."


"Iya, Mas, nanti aku nyusul. Aku kan bawa motor."


"Oh iya, ya udah, aku jalan dulu ya? Kita nanti ketemu di kantor." Ozil lantas mengiyakan.


"Kalian memang hebat!" puji Ozil kepada lima hantu yang sedari tadi berdiri di belakangnya begitu keadaan tempat itu kembali sepi.


"Kita nggak butuh pujian, Bang. Kita butuh yang lain," celetuk Anggrek.

__ADS_1


"Butuh yang lain? Apa itu?" tanya Ozil dengan kening yang berkerut. Tapi saat Ozil sadar arah pandang lima hantu ke mana, Ozil langsung ternganga. "Astaga! kalian ini!"


...@@@@@@...


__ADS_2