
"Astaga!" pekik Anggrek saat menatap Ozil yang sedang berbaring dengan posisi telentang. Hantu itu perlahan mendekat dengan tatapan mata yang tajam seperti sedang menyelidik, mendekat ke arah satu satunya pria yang ada di sana. "Leher dan dada kamu kenapa, Bang? Kok merah merah gitu?"
Seketika Ozil langsung membelalakan matanya dan matanya langsung memandang dada. Ozil terkesiap. Ternyata di dadanya memang ada noda merah dengan jumlah yang cukup banyak. Karena terlalu malu, Ozil langsung memiringkan tubuhnya serta menutup wajah dengan bantal.
"Ciye, Bang Ozil habis enak enak nih? Hayo, ketahuan! Main sama siapa?" ledek Lili.
"Pantes, tadi sore pas berangkat, kita dilarang ikut, ternyata oh ternyata, Bang Ozil udah nggak perjaka," Mawar ikut meledeknuya dan semua hantu langsung tertawa, kecuali hantu yang baru datang. Dia hanya tersenyum melihat tingkah pemuda yang mengajaknya. Di mata hantu itu, Ozil kelihatan masih polos karena bersikap malu.
"Apaan sih kalian, huu," sungut Ozil menutupi rasa malunya. Ozil tidak menyangka kalau kali ini ada tanda yang membekas dan semua orang dewasa tahu itu tanda apa. Ozil akui, memang permainan nikmat di ronde kedua, Mbak Lisa lebih beringas daripada ronde pertama. Ozil juga ingat betul saat Mbak Lisa membuat tanda merah di leher dan dadanya. Tapi Ozil lupa kalau tanda itu akan jadi jejak dan bukti seperti yang saat ini dia alami.
"Pasti beruntung banget tuh yang berhasil tidur dengan Bang Ozil, isi kolornya Bang Ozil kan gede. Pasti puas," celetuk Melati.
"Sayang sekali, kita jadi hantu. Kalau jadi manusia, pasti aku akan minta jatah sama Bang Ozil," sambung Cempaka.
"Kalau jadi manusia, mana mungkin kalian kenal sama aku," sahut Ozil dari balik bantal yang menutupi wajahnya. "Mungkin kalian juga enggan kenal sama pemuda miskin kayak aku ini."
"Hehehe ... iya juga sih," Anggrek ikut menimpali. "Terus kalau rencana besok kita berhasil dan jadi manusia, apa kita masih ingat dengan Bang Ozil?"
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Cempaka.
"Kalian ingat nggak sih, waktu kita baru jadi hantu, kan kita nggak ingat apa apa. Kita nggak kenal siapa kita dan orang orang disekitar kita. Baru setelah kita kenal Bang Ozil dan dia menyelidikinya, kita perlahan jadi tahu siapa kita, bukan?" ucap Anggrek lagi.
"Benar juga," sahut Melati. "Tapi aku harap jika kita diberi kesempataan jadi manusia kembali, aku masih ingat dengan Bang Ozil."
"Aku harap juga begitu," sambung Lili. "Biar bagaimanapun, Bang Ozil sudah berjasa pada kita."
"Emang kalian bisa hidup lagi dan jadi manusia?" tanya hantu wanita yang baru saja datang. Sedari tadi dia terdiam dan merasa cukup terkejut dengan apa yang dia dengar dari pembicarraan para hantu yang ada di sana.
"Kemungkinan besar, kami belum sepenuhnya mati," balas Cempaka. "Kamu pasti kaget kan kenapa kami ngomong kayak gitu?" hantu wanita tanpa nama itu pun mengangguk. "Kami itu jadi arwah bukan karena kami mati, tapi karena kesengajaan seseorang yang berniat jahat pada kami."
"Ya begitulah yang terjadi pada kami," ucap Mawar. "Lalu kamu sendiri, meninggal karena apa? Tubuh kamu bisa masih segar gitu, nggak pucat kayak kita."
"Aku nggak tahu," jawab hantu tanpa nama dengan raut muka yang lesu. Tentu saja jawaban hantu itu membuat kelima hantu lain menjadi terkejut. Saat di tanya kenapa dia tidak tahu, hantu itu menggeleng. "Aku tidak ingat sama sekali kenapa aku bisa jadi hantu. Aku tiba tiba sudah ada di pinggir jalan dan ketemu sama pria itu."
"Astaga! Kok nasib kamu kayak yang pernah kita alami?" seru Anggrek. "Bukankah kita dulu nggak ingat apa apa ya? Kita dulu saat sadar juga sudah berada di pinggir jalan yang ada di rumah sakit?"
__ADS_1
"Nah iya, benar," sahut Melati. "Jangan jangan kamu korban selanjutnya yang dokter Sakurata sembunyikan?"
"Korban selanjutnya?" Ozil yang sedari tadi mendengarkan obrolan para hantu, sontak mengeluarkan suaranya. "Apa Dokter Sakurata menemukan target korban lagi?"
"Iya, Bang," jawab Cempaka. "Dan dia itu katanya sudah dibikin koma kayak kita. Terus tubuhnya disembuyikan oleh anak buahnya tapi beda orang."
"Astaga, kenapa bisa kayak gitu?" Ozil semakin dibuat terkejut.
Para hantu lantas menceritakan semua yang dia dengar dari pembicaran dokter Sakurata dan para penjahat. "Gimana nih, Bang? Kita harus cepat bertindak kan?"
"Sialan! Kalau gitu kita harus bergerak lebih cepat dari mereka."
"Caranya, Bang?"
"Kalian tenang aja, aku sudah tahu alamat rumah Mbah Wiro!"
"Hah!"
__ADS_1
...@@@@@...