HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Tukang Pijat Meresahkan


__ADS_3

"Terus, Mbak ada perlu apa sampai malam malam begini menemui saya?" tanya Ozil begitu mereka berdua duduk di dalam kamar dalam posisi yang berhadapan.


"Ini belum malam lah, Mas. Baru setengah tujuh petang," bukannya langsung menjawab, wanita itu malah memilih topik lain untuk mengalihkan perhatian.


"Iya, saya tahu. Tapi kan ini sudah gelap, Mbak? Mbak nya beneran ada perlu apa sama saya?" Ozil kembali mengulang pertanyaan yang sama. Biar bagaimanapun dia penasaran dengan kedatangan wanita itu yang mencarinya.


"Saya ditugaskan bos saya, untuk melayani kamu, Mas," jawaban si wanita sontak membuat Ozil langsung terngnga.


"Melayaniku aku?" tanya Ozil, seakaan akan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Wanita malah mengangguk dengan senyum yang begitu manis. "Maksudnya di suruh mijat tubuh kamu, Mas."


"Oh," Ozil nampak canggung karena sudah berpikiran buruk. "Tapi kan saya lagi nggak ingin dipijet, Mbak?"


"Saya tahu. Tapi ini perintah bos saya, gimana? Kalau Mas Ozil nggak mau, nanti aku yang kena marah. Kamu nggak perlu bayar kok, Mas. Malah nanti aku yang dapat bonus."


"Emang berapa bonusnya, Mbak?" tanya Ozil malah penasaran.

__ADS_1


"Dua puluh juta," wanita itu menjawab dengan enteng tapi sukses membuat Ozil kembali tercengang.


"Masa pijat doang segitu mahal sih, Mbak?"


Wanita itu lantas tersenyum. "Kan tadi saya sudah bilang, saya itu bukan tukang pijat murah meriah. tarif aku memang segitu, Mas. Bahkan kadang ada yang bayar lebih mahal."


"Hah! Masa sih, mbak? Emang ngapain aja sampai bayarannya lebih mahal?"


Wanita itu kembali tersenyum."Daripada Mas Ozil penasaran, kita ngobrolnya sambil pijat yuk."


"Waduh! Nggak lah, Mbak," Ozil malah semakin gugup. Namun sepertinya wanita itu tidak menerima penolakan yang dilakukan Ozil. Dia malah merangkak mendekat ke arah Ozil sampai wajah pemuda itu agak pucat.


"Aku lepasin kaosnya ya?" Ozil mengangguk patah patah, dan tidak butuh waktu lama, kaos tanpa lengan sudah terlepas dari tubuhnya. "Dada kamu bagus banget, Mas," Ozil sampai menahan nafas saat kulit tangan wanita itu mengusap lembut dada bidangnya, kanan dan kiri. Benar benar terasa bedanya antara sentuhan manusia dengan sentuhan tangan para hantu.


"Mas belum mandi ya?" tanya si wanita, dan Ozil mengangguk agak malu. "Pantes,ketiaknya kamu baunya segar. Sekarang, Mas tengkurap ya? Biar aku piijit bagian tubuh belakang dulu." Lagi lagi Ozil hanya mengangguk dan dia langsung bergerak dan berganti posisi menjadi tengkurap. Wanita itu mulai menjalankan tugasnya dengan memijat bagian kaki terlebih dahulu.


Pijatanya memang sangat enak. Ozil mengakui itu. Bukan sembarang pijat yang mungkin hanya berkedok pijat. Wanita itu seperti tukang pijat terlatih. Setiap inci kulit yang dia sentuh seperti sudah menggunakan perhitungan.

__ADS_1


"Mas nya punya sarung atau handuk kecil nggak?" tanya si wanita saat memijat bagian paha belakang.


"Buat apa, Mbak?"


"Ini kolornya bikin tanganku susah bergerak. Kalau bisa, di ganti aja." Lagi lagi Ozil tercengang. Walaupun tubuh polosnya sudah sering dilihat para hantu, tapi untuk dilihat oleh wanita dalam bentuk manusia justru membuat Ozil semakin resah. Ozil menunjuk ke arah sarung yang mengantung pada gantungan baju. Si wanita bangkit dan meraihnya lalu memerintahkan Ozil untuk melepas celana kolor dan memakaki kain sarung itu.


"Nah, kalau begini kan jari jari aku bisa bebas bergerak," ucap si wanita dengan santainya sambil memijat pantat Ozil. Sedangkan orang yang dipijat makin resah dibuatnya.


Selesai urusan tubuh bagian bawah, kini tinggal tubuh bagian atas yang dipijat. Entah minyak apa yang dipakai wanita itu, baunya sangat wangi dan bikin nyaman. Ditambah lagi pijatannya, sangat menenangkan.


"Sudah, mas, sekarang telentang lagi." Ucap tukang pijat beberapa puluh menit kemudian.


Masih dengan keresahan yang tidak luntur, Ozil menuruti perintah wanita itu. Si tukang pijat kembali memulai memijat pada bagian telapak kaki. Rasa resah dalam benak Ozil kini berangsur hilang berganti rasa nyaman. Namun kenyaman itu tidak berlangsung lama. Ozil kembali dibuat resah saat jari jari tukang pijat mulai merayap ke daerah paha dan terus ke atas.


"Wah! Udah tegang banget, Mas?" ucap wanita itu sambil senyum senyum. Ozil menutup wajah dengan dengan tangan karena malu. Sangat jelas terasa kalau jari wanita itu berkali kali menyentuh batang Ozil yang menegang saat memijat paha kiri dan kanan serta pinggang.


"Batangnya mau aku pijat sekalian nggak, Mas?"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2