HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Menunjukkan Sesuatu


__ADS_3

"Apa kamu sudah terbiasa, main dengan jari kamu seperti itu?" tanya Ozil begitu melihat wanita yang baru saja dari kamar mandi, masuk ke dalam kamar yang sama dengan Ozil berada saat ini. Wanita yang sekarang sedang melilitkan handuk ditubuhnya sempat tertegun. Dia tidak segera menjawab, hanya melangkah mengambil pakaian untuk ganti.


"Bukankah daripada bermain sendiri, lebih baik bermain berudua, Run?" ucap Ozil lagi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari wanita yang dia ajak bicara. Tatapan wanita itu cukup menukik, namun ucapan Ozil juga cukup membuat wanita itu dilema. "Kamu tahu, Run, jika kamu mempertahankan mahkota kamu, mungkin selamanya kamu akan diincar oleh para penculik itu."


"Ya kan kita bisa lapor polisi," balas seruni. Lalu dia mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian di kamar mandi. Wanita itu malah duduk diatas kasur dekat Ozil berada, dan tentu saja pemandangan seperti itu membuat jiwa laki laki Ozil kembali menggeliat.


Ozil menghembus kasar nafasnya. "Mungkin jika kamu tahu siapa orang yang bekerja sama dengan para penjahat itu, kamu nggak bakal percaya, Run."


Orang yang bekerja sama dengan penjat? Apa aku kenal?" tanya Seruni dengan kening berkerut. Tentunya wanita cukup terkejut dengan apa yang dia dengar.


"Kamu sangat mengenal orang itu," jawab Ozil.


"Siapa?" Seruni pun semakin penasaran.


"Nanti kita lihat sama sama. Kalau aku yang ngomong sekarang, kamu nggak bakalan percaya," ucap Ozil, lalu dia bangkit. "Aku mandi dulu." Ozil langsung melangkah keluar kamar setelah tadi tangannya meraih handuk yang tergantung di dinding dekat pintu kamar. Meski penasaran, Seruni tidak melayangkan protes sama sekali.


Hingga beberapa menit kemudian, saat Ozil sudah mandi dan juga sudah mengenakan baju Santai, pemuda itu mengajak Seruni untuk keluar. Wanita itu pun menurutinya, karena Ozil akan menunjukan orang yang katanya sangat Seruni kenal. Dengan jalan kaki, Ozil pergi menuju ke suatu tempat yang ditunjukkan oleh para hantu.

__ADS_1


"Ini rumah siapa. Bang?" tanya Seruni dengan mata menatap bangunan yang ada di depan mereka.


"Ini kontrakan para penjahat," jawaban Ozil tentu saja membuat Seruni terpekik. Wanita itu langsung mengencangkan genggaman tangannya kepada lengan Ozil. "Jangan takut. Rumah ini kosong, karena mereka sedang pada pergi."


Tak lama setelahnya para hantu keluar dan berbincang dengan Ozil, membuat Seruni semakin merasa aneh dan ketakutan. "Apa kamu lagi ngobrol sama hantu penghuni rumah ini, bang?"


"Iya," jawab Ozil singkat, membuat wanita itu semakin takut saja, Tubuh Seruni juga semakin menempel. "Udah yok, kita pulang, ambil motor."


"Kamu serius bisa ngobrol dengan hantu?" tanya Seruni lagi dengan tangan yang tidak lepas dari lengan kekar milik Ozil.


"Lah, tadi kan kamu sudah lihat sendiri," Ozil menjawabnya dengan sangat enteng. "Sekarang kita pergi ke hotel X."


"Kata hantu, orang itu sekarang ada di hotel dengan para penjahat. udah deh, kamu jangan panik gitu."


"Bukannya panik, tapi aku takut. Hantunya ngkutin kita nggak?"


"Nanti ketemu di sana."

__ADS_1


"Ya ampun!"


Ozil langsung tersenyum lebar hingga langkah kaki mereka sampai di tempat tinggal keduanya saat ini. Ozil terlebih dahulu mengambil kunci motor, jaket dan masker. Setelah itu dia dan Seruni langsung tancap gas menuju hotel yang letaknya tidak jauh dari lokasi kantor ozil.


Cukup memakan waktu kurang lebih lima belas menit, motor Ozil sudah memasuki kawasan hotel. Setelah menanyakan beberapa hal kepada petugas keamanan, Ozil dan Seruni segera turun dari motor, setelah motor mereka terparkir dengan sempurna, di tempat yang sudah disediakan. Para hantu langsung menyambut kedatangan mereka berdua.


"Mereka lagi ada di restoran," ucap Lili.


Ozil hanya mengangguk. Mungkin karena sudah terbiasa masuk ke dalam hotel karena urusan pekerjaanya, Ozil tidak merasa canggung sedikitpun saat langkah kakinya masuk ke area dalam hotel. Dengan tenang, Ozil langsung bertanya letak restoran di hotel tersebut kepada petugas. Setelah diberi arahan, Ozil dan Seruni langsung melangkah menuju ke arah restoran.


"Kok penjahatnya ada tiga orang?" tanya Seruni saat mereka sudah duduk tak jauh dari tenmpat para penjahat. "Dan aku nggak kenal dengan wajah penjahat yang baru aku lihat itu?


"Nanti kamu juga akan tahu, penjahat. Sabar," ucap Ozil.


Sambil menunggu orang yang menjadi gerombolan para penjahat, Ozil dan Seruni memesan beberapa menu yaang harganya tidak terlalu mahal, sebagai sarana pendukung kalau mereka sedang mengawasi beberapa orang di sana.


"Loh, Paman Sakurata ada di sini?" ucap Seruni saat matanya melihat sosok yang dia kenal memasuki area restoran. Namun betapa terkejutnya Seruni, saat sang Paman memilih duduk di tempat yang sama dengan para penjahat. "Paman Sakurata, kok, duduk dengan mereka?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2