
"Kita tinggal disini?"
"Iya, kenapa, Bang?"
"Tapi aku perhatikan, disini cuma ada satu kamar doang?"
"Emang kenapa kalau cuma satu kamar doang? Bukankah dulu kita sering satu kamar bareng?"
Ozil kembali terperangah. Sebagai seorang pria, tentu saja pikiran Ozil langsung kemana mana. Entah Ozil harus senang atau tidak, karena terjebak dalam posisi seperti saat ini. Tapi yang pasti Ozil tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini dalam hidupnya.
Ketika Ozil memasuki kamar, dia tertegun dengan keadaan kamar tersebut. Ozil sekarang sangat yakin, kelima wanita yang saat ini pernah bersamanya, memang telah mempersiapkan semuanya. Di dalam kamar itu, hanya ada ranjang yang lebih luas dari biasanya. Jantung Ozil langsung berdetak tak karuan, kala pikiran nakalnya mulai menguasai otaknya, Hanya dengan memandang ranjang saja, Ozil langsung memkirkan layaknya lelaki normal pada umumnya.
"Kenapa bengong, Bang?" celetuk Mawar saat menyadari Ozil tengah terdiam sambil menatap ke arah ranjang. "Abang lagi nggak mikir yang macam macam kan?"
"Enggak," bantah Ozil agak gelagapan. "Aku cuma bingung aja, kita disini satu minggu, tapi aku nggak bawa baju ganti satupun."
__ADS_1
Mawar sontak tersenyum. "Nggak perlu khawatir, kita udah siapin beberapa pakaian buat Abang, tuh di lemari yang itu."
Kening Ozil berkerut. Sungguh Ozil benar benar mendapat banyak kejutan sejak beberapa jam yang lalu, setelah sadar dari pengatuh obat bius. Ozil melangkah menuju lemari yang ditunjuk Mawar. Begitu berada di depannya, Ozil langsung membuka lemari tersebut dan mengecek isinya. "Loh, kok kaosnya cuma tiga? Terus ini, kenapa lebih banyak celana kolornya sih?"
Kelima wanita langsung saling tersenyum mendengar nada protes yang keluar dari mulut Ozil.
"Bukankah Abang kalau lagi santai lebih suka pakai kolor? Ya kita beliin kolor doang lah," ucap Melati. "Nanti kalau butuh baju, tinggal kita beli aja di tempat terdekat." mendengar ucapaan Lili, Ozil langsung mendengus.
"Ya udah kita sekarang ke pantai, yuk? Sekalian cari makan," usul Anggrek dan semua wanita langsung setuju. Sedangkan Ozil hanya diam lalu dia memilih duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan lima wanita yang saat ini bersamanya. Ozil melihat salah satu wanita yang dulu di panggil Anggrek, masuk ke kamar mandi sambil menggenggam sesuatu, dan tak lama kemudian mata Ozil terbuka lebar saat melihat Anggrek keluar dari kamar mandi.
Ozil semakin merasa tidak karuan ketika satu persatu dari lima wanita itu sudah berganti dengan pakaian renang. Kelima mantan hantu itu benar benar membuat pria itu semakin resah tak karuan sampai enggan untuk berdiri. apa lagi kelima wanita itu seakan sengaja memamerkan keseksian tubuh mereka dengan mendekat ke arah Ozil.
"Abang nggak ganti baju?" tanya Anggrek sembari duduk tepat di sebelah kanan Ozil. "Abang mau ikut renang nggak?"
"Gimana aku bisa renang dengan tenang, kalau lihat kalian memakai pakaian seperti itu" Ozil mengegrutu.
__ADS_1
Awalnya kening para wanita berkerut, tapi tak lama kemudian suara tawa pecah dalam kamar tersebut. "Hahaha ... pasti Abang sedang mikir yang tidak tidak ya?" terka Melati.
"Ya wajar dong kalau aku mikir yang tidak tidak. Aku pria normal, melihat kalian begitu cantik dan seksi pakai baju renang, siapa yang bisa tahan untuk berpikir lurus coba? Apa lagi pakaian yang kalian gunakan hanya menutup bagian itu saja."
Para wanita itu masih tertawa dan mereka akhirnya duduk di atas ranjang. "Terus mau Abang gimana?" tanya Cempaka. "Ini kan salah satu tujuan kita kesini, Bang. Meskipun kami nggak pakai baju tembus pandang kayak dulu, setidaknya pakaian renang sedikit mewakili kan?"
Ozil mendengus. "Aku tahu, kalian ada niat baik," pemuda itu kembali bersuara. "Tapi kan suasananya tetap beda. Kalian sekarang sudah kembali menjadi manusia yang cantik. Apa kalian tidak takut, aku nanti berbuat diluar batas. Yang ada nanti aku kena masalah karena tidak bisa menahan diri."
"Hahaha ..." kelima wanita malah tertawa serentak. "Kalau Abang nggak bisa menahan diri, ya udah, kamu tinggal ngomong aja, Bang," ucap Mawar dengan entengnya.
"Apa! Tinggal ngomong?" tanya Ozil mempertegas pendengarannya. "Melihat kelima wanita mengangguk sembari tersenyum, Ozil malah ternganga. "Kalian gila! Kalian kan sudah punya suami?"
"Kita tahu, Bang, mungkin kita gila," ucap Cempaka lagi. "Kami sudah memikirkan ini semua kok, bang. Bukankah saat kita masih menjadi hantu, kita pernah janji, kita harus merasakan isi celana kamu meski hanya satu kali. Nah, ini kesempatan kita untuk mewujudkan janji itu, Bang?"
"Hah!"
__ADS_1
...@@@@@...