HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Saling Mengenal


__ADS_3

"Mbak, bangun, Mbak. Mbak!" ucap seorang pria muda saat hendak melaksanakan tugas paginya, kepada seorang wanita yang saat ini terlelap di dalam pos jaga, tempat kerja pemuda itu. Ozil yang saat itu akan membersihkan ruangan tempat dia bekerja, merasa terkejut saat mendapat laporan dari para hantu, ada wanita yang tidur di dalam pos satpam.


Setelah dijelaskan oleh hantu hantu yang Ozil lihat, pemuda itu bergegas melangkah menuju pos jaga untuk membangunkan wanita korban penculikan yang semalam berhasil melarikan diri. Wanita nampak tidur di lantai pos dengan kepala menelungkup ke bangku yang ada di sana.


Setelah menepuk pundak dengan diringi suara membangunkan, wanita itu bereaksi dan dia sempat terkejut saat melihat wajah seorang pria sudah berdiri di hadapannya. Wanita itu lantas tergagap dan segera merapikan diri dengan wqjah yang terlihat bingung. "Maaf, Mas, aku ketiduran disini," ucapnya sembari mencoba bangkit


"Nggak apa apa, Mbak," jawab Ozil dengan pelan dan diringi dengan senyum manis. "Kenapa Mbak semalam tidak mengetuk kamar saya saja? Apa nggak dingin tidur di sini?"


Wanita bernama Zhang lantas mengembangkan senyum canggungnya. Dia kini sudah berdiri. "Aku pikir di sini nggak ada orang, Mas."


Ozil pun ikut tersenyum. "Saya tinggal di sini, Mbak. Kebetulan saya juga bekerja di sini," jawabnya. "Kalau mau mending Mbak masuk aja ke kamarku dulu. Biar Mbak lebih tenang. Nanti setelah saya beres beres, Mbak bisa meminta tolong sama saya, jika memang Mbak membutuhkan."


Kening Zhang sontak berkerut. Meski heran tapi Zhang merasa kalau pria di hadapannya itu tertlihat tulus, dan dia juga memang butuh bantuan seseorang saat ini. "Apa nggak merepotkan, Mas?"


OZil lantas menggeleng dengan senyum yang tidak pudar. "Nggak, Mbak. Mari ikut saya." wanita itu lantas mengikuti langkah kaki Ozil menuju kamar yang ada di belakang gedung.


"Loh, Pitaloka!"

__ADS_1


"Seruni!"


Dua wanita yang ada disekitaran Ozil nampak saling terkejut begitu mereka saling melihat satu sama lain. Seruni yang sedang bermain ponsel sontak membulatkan matanya saat melihat Ozil membawa gadis lain ke kamarnya. Begitu juga dengan Zhang alias Pitaloka, wanita itu juga terkejut saat melihat Seruni berada di dalam kamar.


"Kalian saling kenal?" tanya Ozil yang juga nampak terkejut saat melihat reaksi dua wanita yang saling menyebutkan namanya.


"Kenal lah, Bang, Pitaloka ini teman aku, " ucap Seruni yang langsung bangkit menghampiri wanita yang baru datang. "Ternyata kamu korban penculik itu?"


"Korban penculik? Kok kamu tahu?" tanya Zhang dengan kening yang bekerut.


"Ya udah, Run, biar dia nggak bingung, kamu jelasin sama dia. Aku mau beres beres dulu," ucap Ozil. Tentu saja Seruni langsung mengiyakan dan membiarkan pemuda itu melaksanakan tugas paginya. Seruni mengajak Zhang duduk di atas kasur. wajah Zhang benar benar bingung saat ini. Banyak pertanyaan yang tumbuh dalam benaknya,dengan semua kejadian yang dia alami.


"Kamu kenapa ada di sini, Run? Bukankah kamu sedang dicari keluarga kamu?" tanya Zhang bertubi tubi. "Apa jangan jangan pria yang tadi, yang menculik kamu?"


"Hush, bukan," bantah Seruni. "Justrtu, pria itu yang nolong aku. Sebenarnya bukan pria itu aja sih, ada yang lainnya juga," jawab Seruni. "Sekarang aku tanya, kamu kenapa sampai bisa di culik?"


Zhang seketika memikirkan tentang perisitiwa semalam. "Jujur, Run, semalam aku masih bingung, kenapa aku tiba tiba diculik. Semalam aku itu sedang dalam perjalanan pulang, tiba tiba kepalaku sakit banget. Terakhir kali yang aku ingat tuh aku menepikan mobil di suatu tempat. Setelah itu aku nggak ingat apa apa lagi, sampai aku sadar dari pingsannya, tahu tahu, aku sudah berada disebuah ruangan dengan kaki terikat."

__ADS_1


Seruni yang mendengar semua yang dikatakan Zhang, nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. "Sebelum kamu pergi naik mobil, kamu ingat nggak, orang yang terakhir kali ketemu sama kamu?"


Zhang kembali mengingat ingat. "Oh, aku ketemu dokter Sakurata."


"Fix, sesuai dengan apa yang aku pikirkan," ucap Seruni, sama sekali tidak terkejut dengan perkataan Zhang.


"Hah! Sesuai yang kamu pikirkan, Run? Maksudnya gimana?" Zhang benar benar tidak mengerti yang dikatakan wanita di hadapannya itu.


"Dulu dan kemarin, aku hilang juga dengan keadaan yang sama, dan sama sama setelah bertemu dengan Paman Sakutara," terang Seruni.


Kening Zhang sontak berkerut. Meski dia saat ini sedang membutuhkan penjelasan dari Seruni, tapi Zhang juga memikirkan dan mencerna perkataan Seruni yang baru saja terlontar. "Maksud kamu apa sih, Run?"


Seruni menghembuskan nafasnya sejenak. "Paman Sakurata adalah otak dibalik penculikan kita."


"Apa!" pekik Zhang dengan tatapan tidak percaya.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2