
Di pagi garinya.
"Nirmala mana? Kok nggak ada?" Ozil yang baru saja bangun tidur, sempat tertegun saat di ruang dirinya menginap tidak, tidak melihat sosok wanita yang semalam menemaninya. Ini adalah hari berikutnya dan sekarang sudah menunjukan waktu pukul tujuh pagi. "Apa dia sedang keluar?" Ozil bertanya dalam hati dengan segala terkaanya.
Luka Ozil memang tidak terlalu serius. Hanya ada beberapa luka lebam dan juga kepala yang lecet akibat membentur tembok yang menyebabkan dia pingsan. Ozil perlahan turun dari brangkar karena dia ada urusan yang menghuruskan dirinya pergi ke toilet sekarang. Dengan langkah pelan dan sedikit menahan rasa sakit, Ozil melangkah menuju toilet yang ada di ruang rawat inap tersebut.
"Loh, Mas Ari!" pekik Ozil begitu keluar dari toilet dan melhat sosok bosnya sudah berada di ruangan tersebut. "Mas Ari kok sudah ada di sini?"
"Kok kamu nggak ngasih kabar kalau kamu masuk rumah sakit sih, Zil?" protes Mas Ari dengan wajah terlihat kesal tanpa menghiraukan pertanyaan yang keluar dari mulut Ozil. Tapi pria beranak dua itu bergegas mendekati Ozil untuk membantunya berjalan menuju brangkar.
"Aduh, Mas, nggak usah, aku bisa sendiri kok," tolak Ozil merasa tidak enak saat Mas Ari berniat memberi bantuan. Sang bos pun langsung mengurungkan niatnya. "Maaf, Mas, semalam nggak sempat ngasih kabar, karena aku pingsan. Aku sadar aja udah tengah malam. Mas Ari tahu darimana aku berada di rumah sakit?"
Mas Ari kembali duduk di Sofa. "Tadi pagi pagi banget, Nirmala ke rumah dan ngasih kalau kamu di rumah sakit. Tadi dia juga minta ijin sama aku untuk menggantikan sementara tugas kamu di kantor, sekalian ngambil barang barang kamu buat dibawa ke sini," jawab pra itu. "Terus penjahat itu gimana? Apa sudah ditangani polisi?"
__ADS_1
"Kemungkinan sih sudah, mungkin nanti siang polisi akan datang ke sini untuk meminta keterangan," jawab Ozil yang tadi cukup terkejut saat mendengar cerita dari Mas Ari tentang Nurmala.
"Aku sudah menduga, cepat atau lambat Nirmala pasti akan ada yang mengganggunya," ucap Mas Ari lagi. "Apa lagi dia hidup sebatang kara di kota besar. Lagian semalam kamu kemana? Bukankah biasanya kalau dia pulang dagang, kamu bersamanya?"
"Aku semalam main ke tempat temanku Mas," jawab Ozil yang sekarrang sudah duduk di atas brangkar. "Padahal aku udah buru buru pulang, tapi ternyata Nirmala malah udah selesai dagang. Tapi syukur sih, aku masih bisa menolongnya. Nggak terlalu terlambat."
Mas Ari nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. "Kamu sama Nirmala kan sudah sangat dekat, kenapa kalian nggak nikah aja sih, Zil?"
Ozil lantas tersenyum. "Rencananya memang gitu, Mas. Aku dan Nirmala akan segera menikah," ucap sang pemuda sambil cengengesan.
"Untuk waktunya sih belum ditentukan, Mas. Kami aja baru ngobrolin hal ini semalam. Tapi ya kemungkinan secepatnya, Mas," jawab Ozil. "Oh iya, Mas, kemungkinan nanti setelah aku menikah, aku akan keluar dari pekerjaanku, Mas, maaf ya?"
Senyum Mas Ari seketika terkembang. "Ya nggak apa apa. Tapi kamu pamitnya sebelum kamu benar benar pergi loh lah. Sambil mencari gantinya. Biar nggak mendadak, kayak dulu saat kamu baru masuk kerja, itu kan pegawai lama pamit berhenti kerja secara mendadak banget. Untung aku lansgung ketemu kamu, jadi cepat dapat gantinya."
__ADS_1
"Baik, Mas, terima kasih," jawab Ozil merasa lega.
"Emang rencana kamu setelah nikah mau ngapain? Mau buka usaha?"
"Ya rencananya sih gitu, tapi buka usaha di kampung, Mas. Ingin memperbesar warung orang tuaku dan juga meneruskan usaha Nirmala di sana. Sekalian membantu Bapak di sawah."
"Ya baguslah kalau semuanya udah terencana dengan baik. Aku hanya bisa mendukung dan mendoakan, Zil."
Ozil pun mengangguk. Dua laki laki beda usia itu kembali berbincang dan mereka saling berbagi pengalaman. Lebih tepatnya Mas Ari yang membagikan pengalamannya setelah pria itu menikah dan memiliki dua orang anak. Layaknya pria normal pada umumnya, Ozil pun menginginkan menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak anaknya kelak.
Hingga selang beberapa jam kemudian, Polisi pun datang. Ozil dimintai keterangan oleh polisi tersebut mengenai kasus yang baru saja menimpa dirinya dan Nurmala. Wanita yang tadi pergi untuk menggantikan Ozil bekerja, kini sudah kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa makanan dan pakaian yang dibutuhkan Ozil.
Sekarang saat mereka hanya berdua, mereka kembali membicarakan tentang masa depan yang semalam mereka bicarakan. Biar bagaimanapun menikah adalah sesuatu yang sakral dan harus dibicarakan dengan sangat serius oleh kedua belah pihak.
__ADS_1
...@@@@@...