
"Eugh!" suara lenguhan orang yang baru saja terbangun dari tidurnya, terdengar dari dalam kamar milik seseorang. Suara itu terasa berat, bertanda kalau pemilik suara itu adalah milik dari seorang pria. Mata yang terpejam sejak semalam, kini perlahan sedang terbuka. Namun betapa terkejutnya pemilik mata itu, saat melihat apa yang tejadi di hadapannya.
"Mbak Rini!" pekik pria itu yang tidak lain adalah Ozil, pemuda yang telah resmi bukan menjadi seorang perjaka lagi meskipun dalam kartu tanda penduduknya, tertulis kalau dia adalah seorang perjaka. Ozil terkejut dengan apa yang sedang dilakukan janda yang semalam telah memberinya kepuasan.
"Kamu sudah bangun, Sayang? Aku ganggu ya?" tanya Mbak Rini dengan suara yang berat. Nampak sekali wanita itu sedang terengah engah. "Maaf ya, Sayang, aku kembali memasukkan batang kamu ke dalam lubang aku, abisnya dari tadi menggoda banget, Sayang," ucap wanita itu sembari kembali menggerakan tubuhnya secara naik turun. Tentu saja dengan batang milik Ozil yang sudah tertancap pada lubang wanita itu.
Ozil hanya tersenyum tipis. Meski dia ingin menolak, tapi, bangun tidur dalam keadaan seperti itu, membuat Ozil merasakan sensasi yang berbeda. Lagi pula kapan lagi pria itu memiliki kesempatan seperti ini. Ozil hanya memandangi saja tubuh yang sedang bergerak dengan indahnya. Sesekali tangannya juga bergerak untuk sekedar memijat bukit kembar yang besar milik janda tersebut.
HIngga beberapa menit waktu berjalan, Ozil meraih puncaknya. Padahal dia tidak bergerak sama sekali. Namun lubang nikmat Mbak Rini, mampu membuat pria itu meraih puncak tanpa harus menggerakkan pinggangnya. Mbak rini terkulai lemas di samping Ozil dengan senyum yang penuh dengan rasa puas.
"Ternyata udah siang banget, Mbak," ucap Ozil, begitu dia memeriksa jam dalam ponselnya. Sudah menunjukan pukul sembilan kurang sedikit. Tapi Ozil sedikit lebih tenang karena semalam sudah pamit pada Mas Ari kalau dia menginap di kontrakan temannya. Mas Ari mengijinkannya karena dia pernah ketemu dengan dua teman Ozil saat di rumah sakit dulu.
__ADS_1
"Ya udah doang, orang aku aja udah siapin sarapan buat kamu dari tadi, tapi kamu nggak bangun bangun," ucap Mbak Rini. "Tadi aku mau bangunin kamu, tapi kamu kayak nyenyak banget tidurnya. Jadi aku nggak tega bangunin. Eh, batang kamu malah mengeras, ya udah karena aku nggak ngapa ngapain, jadi aku masukin aja batang kamu ke lubangku."
Ozil tersenyum tipis. "Aku pikir, kamu masih marah, Mbak. Semalam, aku kesini itu mau minta maaf. Eh, malah jadi nidurin kamu."
"Minta maaf untuk apa sih? Orang kamu nggak ada salah sama aku," balas Mbak Rini sambil memegangi milik Ozil dan memijatnya. "Justru aku yang harusnya bilang makasih. Kamu udah mau main kesini dan memberi aku kepuasan. Aku udah lama loh, nggak merasakan isi celana cowok."
Ozil sontak menoleh dengan wajah nampak terkejut. "Yang benar, Mbak? Yang mau sama kamu, pasti banyak kan, Mbak?"
"Yang mau memang banyak, Zil, tapi kan nggak mungkin aku begitu saja membuka baju buat mereka. Apa lagi aku tuh seorang janda, harus hati hati dalam bertindak. Beruntung lingkungan aku sepi, jadi aku merasa aman saat kamu main disini."
"Hampir dua tahun, Zil. Aku lebih baik main sama alat dari pada main dengan banyak lelaki. Walaupun yang paling enak batang asli sih."
__ADS_1
"Tapi kok Mbak Rini mau main sama aku? Aku kan jadi nggak enak, Mbak."
"Hahaha ... orang semalam kamu terlihat menggemaskan banget saat wajah kamu cemberut. Terus waktu kamu datang juga aku lagi nanggung, lagi enak enaknya main sama alat. Ya udah, aku terusin aja. Lagian kamu udah nggak penasaran kan?"
Ozil pun tersenyum senang. "Mbak, aku numpang mandi boleh?"
"Jangankan numpang mandi, kamu numpang buang benih ke dalam lubangku tiap hari juga aku nggak bakal nolak, Zil."
Ozil pun kembali tersenyum lebar. Mereka berdua segera beranjak untuk mandi bersama. Padahal Mbak Rini sudah mandi tadi saat terbangun lebih dahulu. Tapi dengan adanya Ozil, wanita tu rela mandi lagi. Meski tidak ada permaianan lagi di dalam kamar mandi, tapi mandi bersama seperti itu sangat menyenangkan bagi keduanya.
Setelah mandi dan berpakaian, Ozil dan Mbak Rini menikmati sarapan yang sudah tersaji sejak satu jam yang lalu. Bahkan Mbak Rini juga tidak segan segan memberi uang jajan yang cukup banyak buat Ozil. Uang itu bukan untuk bayaran karena Ozil sudah memuaskan wanita itu.
__ADS_1
Setelah acara sarapan itu selesai, mau tidak mau mereka berdua harus berpisah. Dengan perasaan bahagia, pemuda yang sudah menikmati dua tubuh wanita itu pulang sembari melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
...@@@@@...