HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Rencana Malam Minggu


__ADS_3

"Loh, ini kok? Kenapa Mbak Lisa bisa punya?" Ozil nampak tercengang saat membuka laci, dimana laci itu berada pada meja kerja milik salah satu karyawan wanita yang tadi menelfonnya. Ozil pun mengambil dua benda itu. Satu benda adalah benda yang tadi Ozil cari dan satu bendanya lagi adalah benda yang membuat Ozil tercengang.


"Apa aku sebaiknya antar ini ke rumahnya Mbak Lisa? Sambil menanyakan tentang ini?" Ozil bermonolog Sendiri. Padahal tadi pas telfon Ozil tidak mendapat perintah seperti itu, tapi karena Ozil penasaran dengan benda yang satunya lagi, Ozil akan berinisiatif mengantarkan benda itu ke rumah Mbak Lisa sekaligus menyakan tentang benda lain yang dia temukan di sana.


"Baiklah, nanti mumpung malam minggu, aku ke rumah Mbak Lisa aja deh. Sekalian main. Siapa tahu aja dapat enak enak lagi," gumam Ozil sambil cengengesan, lalu dia membawa dua benda itu keluar dan memasukkannya ke dalam tas slempang.


Sebagai pria yang baru saja merasakan nikmat berhubungan badan, tentu saja membuat pria muda itu kembali ingin merasakan hal yang sama. Meski sudah dua tubuh yang dia nikmati, namun jika ada kesempatan dengan wanita lain, sepertinya Ozil juga tidak akan menolaknya.


Begitu sampai kamar, Ozil kermbali merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tidak ada kegiatan yang dia lakukan siang ini, jadi Ozil hanya akan menghabiskan waktunya untuk istirahat. Apalagi Seruni juga tidak ada di sana, membuat Ozil merasa kesepian. Para hantu juga sedang asyik dengan penyelidikiannya, membuat kamar suasana sepi semakin terasa.


Seruni memang seharian ini berada di kamarnya Zhang. Tentu saja wanita itu sangat disambut baik oleh keluarga Zhang, karena kedua keluarga wanita itu memang saling mengenal. Zhang sangat terkejut saat mendengar kabar kalau Seruni telah ketahuan bersembunyi di tempat Ozil. Seruni juga cukup terkejut saat Zhang bercerita kalau pagi kemarin Sakurata mendatangi tempatnya.


"Kok hidup kita jadi nggak tenang gini ya, Run?" ucap Zhang disela sela obrolannya. "Kita kayak jadi buronan gitu. Mau keluar aja nggak bebas. Bahkan sampai keluar negeri, kita tetap akan ketangkap."


Seruni lantas tersenyum. "Maka itu, rencana yang dijalankan Bang Ozil harus berhasil, biar kamu tenang pergi kemanapun, Zhang."

__ADS_1


"Kok cuma aku, kamu juga kali." balas Zhang.


Seruni lantas tersenyum. "Mungkin dengan kita menyerahkan mahkota kita ke seorang pria, kita bisa aman, Run," ucapan yang keluar dari mulut Seruni seketika membuat kening Zhang berkerut dan menatapnya. Seruni kembali tersernyum. "Aku ngomong benar kan?"


"Iya sih, tapi apa nggak ada cara lain?" tanya Zhang. "Cara yang kemarin Ozil ceritakan, bukankah itu cukup bagus?"


"Iya, aku tahu," Seruni bangkit dari rebahannya dan duduk menghadap lawan bicaranya. "Tapi kita kan nggak tahu sekuat apa musuh kita, Run. Lagian kalau kita gagal, seenggaknya kita bisa menggagalkan rencana penjahat itu untuk menumbalkan diri kita."


Zhang pun ikutan duduk dan menghadap Seruni. "Tapi, apa itu namanya bukan egois? Kan ada lima hantu yang juga sangat membutuhkan kepastian nasib mereka?"


"Ya kita harus tetep mengutamakan untuk menolong mereka. Karena para hantu cukup penting untuk menjadi saksi atas kejahatan Pamanku. Tapi kta juga harus bisa melindungi diri kita juga. Seandainya pamanku ke tangkap, bisa saja kan ada orang lain lagi yang mengejar kita karena kita sesuai dengan syarat untuk tumbal."


"Kalau aku sih sudah memutuskan, aku akan menyerahkan mahkotaku pada Ozil, Zhang," ucap Seruni sedikit berdusta.


"Apa!" Zhang benar benar dibuat terkejut mendengar pengakuan Seruni. "Kamu serius?" Dengan antusias, Seruni mangangguk. Kedua wanita itu kembali terlibat pembicaraan seru seputar kejadian yang mereka alami.

__ADS_1


Tanpa terasa waktu yang berputar, telah menunjjukan saat sore hari. Di sana, Ozil terlihat baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggangnya.


"Mau kemana, Bang? jam segini udah mandi?"tanya salah satu hantu. Kebetulan saat ini para hantu sedang berkumpul di kamar Ozil.


"Mau main ke tempat orang yang kerja di sini, sekalian nganterin barangnya yang tertinggal?" jawab Ozil yang dengan cueknya membuka handuk yang melilit tubuhnya dan berganti pakaian di depan para hantu.


"Emang benda apaan?" tanya Mawar.


"Buku catatan pekerjaan. Kerjaannya jadi keganggu karena bukunya ketinggalan," ucap Ozil sambil terus mengenakan pakaiannya. Tidak butuh waktu lama, Ozil telah siap untuk pergi. Barang yang akan diantar sudah berada di dalam tas slempangnya.


"Kita boleh ikut, Bang?" tanya Anggrek iseng,


"Janganlah. Nggak enak aku nanti di sana. Ya walaupun kalian tidak kelihatan," balas Ozil. "Kalian tetap awasi para penjahat, dan jangan lupa, doakan aku, semoga kali ini ada kabar baik."


"Kabar baik?" tanya para hantu hampir bersamaan.

__ADS_1


Dengan sangat yakin, Ozil menganggukan kepalanya dan dia pun pamit.


...@@@@@@...


__ADS_2