
"Kalian darimana saja sih? Kok baru kelihatan?" tanya Ozil kepada lima hantu yang beru menampakan wujud mereka setelah semalaman pergi.
"Kami habis mengawasi para penculik wanita itu, Bang, yang ada di kamar Bang Ozil," jawab Lili. "Bang, sepertinya abang harus jebil mahkota wanita itu deh."
"Apa!"pekik Ozil dengan suara yang cukup lantang. Namun tak lama setelahnya dia menutup mulutnya sendiri karena takut terdengar oleh Seruni. "Apa maksud kalian?"
"Begini, Bang, berdasarkan informasi yang kami dapat, kemungkinan, para wanita yang diculik itu akan dijadikan tumbal untuk seseorang agar dia bisa kaya dan juga kebal dengan senjata tajam maupun senjata api," terang Cempaka.
Kening Ozil sontak berkerut, lalu dia mengganggukan kepalanya beberapa kali. "Sudah aku duga, pasti penculikan yang dialami Seruni, ada hubungannya dengan ilmu hitam."
"Seruni? Seruni siapa, Bang?" tanya Anggrek nampak terkejut dengan nama yang disebut oleh Ozil. Bukan hanya Anggrek saja, ke empat hantu yang lainnya juga menunjukkan reaksi yang sama.
"Ya itu, wanita yang ada di dalam kamar. Nama panggilannya Seruni."
"Hah! Itu nama dari kamu, Bang?" seru Mawar.
Ozil pun mengangguk. "Bukan, dia hanya pura pura saja hilang ingatan buat ngetes aku. Soalnya dia pikri kalau aku adalah komplotan para penculiik. Dia ngaku tadi pagi kalau namanya Seruni."
"Owalah gitu toh? terus kenapa dia masih disini?" tanya Mawar lagi.
__ADS_1
Karena mendapat pertanyaan seperti itu, Ozil akhirnya menceritakan semua yang dialami Seruni dari penculikan pertama sampai perculikan yang kedua. Ozil juga menjelaskan alasan Seruni tetap bersembunyi di tempat ini. Kelima hantu, tentu saja terkejut mendengar cerita itu.
"Jadi pada bulan yang sama saat kami menghilang, Seruni juga jadi korban penculikan? Astaga!" seru Anggrek. "Pantes, para penjahat itu bilang kalau dia adalah target terakhir. Jadi itu alasannya."
"Target terakhir? maksudnya?" tanya Ozil.
"Jadi gini, Bang. Kemungkinan, tahun lalu kita akan ditumbalkan, tapi karena Seruni berhasil melarikan diri, jadi ritual penumbalan akan berlangsung tahun berikutnya dan kemungkinan beberapa bulan lagi. Maka itu, para penjahat harus menemukan Seruni secepatnya, karena mereka tidak punya banyak waktu nyari tumbal yang lain," terang Cempaka.
"Iya, Bang. Karena nyari yang memenuhi syarat buat dijadikan tumbal katanya susah," Lili ikut menimpali. "Maka itu, untuk mengagalkan rencana mereka, Abang harus bisa jebol mahkota Seruni."
"Bagaimana caranya? Aku mana berani lah ngajakin Seruni untuk gituan. Apa lagi dia anak orang kaya. Lagian aku juga malu buat ngajakin kayak gituan," sungut Ozil tapi membuat para hantu jadi kesengsem.
"Tapi aku tidak tahu caranya, astaga!" Ozil nampak frustasi. "Masa iya tiba tiba aku bilang, Run, kita enak enak yuk? Yang ada aku malah digampar."
"Hahaha ..." kelima hantu malah pada tertawa. "Coba dulu sih Bang? Ajak Seruni ngomong baik baik, lalu Abang rayu gitu," usul Melati agak mendesak.
"Tahu ah, pusing aku. Nanti deh, aku coba bahas dengan Seruni, kali aja ada jalan."
Kelima hantu pun langsung setuju dan mereka kembali membahas sesuatu yang disertai dengan candaan. Bahkan para hantu sesekali iseng menggrayangi kolor Ozil disela sela percakapan mereka.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain yang jauh dari kota, terlihat seorang pria berbadan kekar. Dengan lengan kiri bertato ular cobra yang melilit sebuah tongkat dimana salah satu ujung tongkat itu ada gambar tengkorak dengan mata yanng menyala berwarna merah. Pria itu memandang tajam tubuh wanita berbusana tipis tembus pandang yang terbaring tak berdaya dalam keadaan jantung yang masih berdetak.
"Bos, ada tamu," ucap salah satu anak buahnya yang baru saja masuk ke dalam ruang khusu tersebut.
"Tamu? Siapa?" tanya pria itu tanpa menoleh ke arah anak buahnya. Suara yang berat dengan wajah yang agak hitam., membuat pria itu terlihat sangat menakutkan.
"Hanya pasien biasa, Bos, seorang wanita," jawab anak buah.
Pria bertato itu mendengus. "Pelanggan lama atau pelanggan baru?"
"Pelanggan baru, Bos, dan lumayan cantik."
Pria bertato itu sontak menyeringai. "Ya sudah, kamu awasi mereka. Pastikan mereka harus tetap hidup. Aku keluar dulu."
Pria bertato ular itu segera keluar, meninggalkan sang anak buah sendirian. Anak buah itu mendekat ke arah ranjang lima ranjang dimana ada lima wanita yang terbaring disetiap ranjangnya. dengan bantuan alat canggih yang di impor dari luar negeri, kelima wanita itu masih bisa bernyawa meski dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Padahal mereka masih perawan, kenapa nggak segera dinikmati aja sih? Aku kan juga pengin?" gerutu si anak buah.
...@@@@@...
__ADS_1