
"Aku tadi di Mall, nggak sengaja aku ketemu dengan orang yang menculikku, Bang," ucap seorang wanita yang sedang asyik memainkan batang milik pria yang terbaring pasrah di atas kasur. Wanita itu terlihat menghentikan permainannya sejenak lalu dia duduk tegak dengan tangan masih menggengam batang si pria. "Aku mendengar obrolan mereka, dan ternyata benar ya? Tumbal perawan itu ada."
Pria yang terbaring pasrah itu lantas tersenyum menyeringai. Pria yang masih memakai kemeja tapi celananya sudah lepas dari tubuhnya, nampak sedikit terkejut sebelum senyumnya terkembang. "Berarti apa yang aku katakan benar bukan? Nggak bohong?" ucap pria itu, dan si wanita nampak mengangguk dan mengiyakan.
"Lalu, setelah kamu mengetahui tentang kebenaranya. Sikap apa yang akan kamu ambil?" tanya pria muda yang biasa dipanggil dengan sebutan Ozil.
"Aku ..." Wanita bernama Seruni nampak sedang berpikir sampai ucapannya terpotong. "Aku bingung, Bang."
"Bingung kenapa?" tanya Ozil dengan kening berkerut. Tentunya yang keluar dari mulut Ozil, berbeda dengan kata hatinya saat ini.
"Sekarang, kalau aku membiarrkan seseorang merusak segelku, apa nggak akan ketahuan?" ucap Seruni. "Sekarang coba deh kamu pikir, Bang, darimana bos mereka tahu kalau aku masih bersegel atau sudah nggak bersegel? Terus kalau segelku rusak, bagaimana nasib wanita yang terlebih dahulu mereka culik? Aku sih yakin, orang yang melakukan penculikan, bukan orang biasa. Pasti dia memiliki semacam kekuatan gitu."
Ozil tertegun. Setelah mencerna ucapan Seruni untuk beberapa saat, pemuda itu akhirnya memahami apa yang disampaikan oleh wanita yang tangannya setia menggenggam isi celana Ozil. "Benar juga apa yang kamu omongin. Setidaknya kita harus menyelamatkan lima wanita itu, atau paling nggak membuat mereka aman terlebih dahulu."
__ADS_1
"Nah, aku pikir juga begitu, Bang," seru Seruni. "Tapi yang jadi masalahnya, kita nggak tahu markas mereka berada dimana saat ini."
"Udah, jangan terlalu dipikirkan, nanti pasti kita akan menemukan jalannya. Kamu masih ingat nggak, para penjahat tinggal dimana?"
"Ya nggak lah, Bang. Sepertinya saat aku datang ke tempat persembunyiannnya, aku dalam pengaruh obat bius. Bahkan begitu aku sampai sini, aku haru sadar."
"Ya udah, nanti kita pikirkan lagi caranya. Kamu lanjutkan aja permainan mulutnya," titah Ozil. Seruni tentu saja tidak ada alasan untuk menolaknya dan wanita itu kembali menikmati batang Ozil dengan rakusnya.
Sementara itu di tempat lain, kelima hantu masih mengawasi seorang pria yang saat ini sudah kembali ke tempat fitnes. Mereka tidak menyangka, pria tampan bertubuh atletis dengan tatto di lengan dan bahunya, malah menyukai lubang pria daripada lubang wanita. Padahal pria yang katanya tunangan dari salah satu hantu itu terlihat sangat maacho dan gagah lelaki pada umumnya.
"Hihihi ... lucu juga ya?" Melati malah terkikik geli. "Sebenarnya apa yang mereka rasakan saat melihat cowok ganteng ya? Mereka kan sama sama berbatang."
"Hahaha ... mungkin konsepnya gini," celetuk Lili. "kalau cewek kan lubang depannya tuh yang berdenyut, tapi kalau cowok yang berdenyut lubang belakangnya."
__ADS_1
"Hahaha ..." tawa para hantu seketika pecah. "Tapi aku benar benar nggak nyangka sumpah," ucap Cempaka. "Kalian bisa lihat sendiri kan, penampilan Marsel bagaimana? Cowok banget!"
"Udah sih, daripada kamu terus terusan kesal, mending kita pergi dari sini," usul Mawar. "Mungkin dua penculik itu sudah pulang."
"Ya udah yuk," kelima para hantu pun langsung menghilang.
Sementara itu kedua penculik saat ini justru masih di luar konrakannya. Mereka berada di suatu tempat dengan kepala celingukan ke sembarang arah.
"Apa benar, informasi yang disampaikan supir taksi tadi? Kalau target kita diturunkan disini?" tanya salah satu pria yang memakai kaos hitam. Kedua penjahat itu saat ini sedang menelusuri jejak target yang mereka dapatkan alamatnya, dari supir yang tadi siang mengantar target penculikan mereka.
"Ya pasti benar lah. Tadi kamu juga lihat sendiri kan, saat kita menunjukkan foto target kita. Supir itu terlihat sangat yakin memang wanita itu memakai taksinya dan turun di sini," balas pria berjaket.
"Tapi masa pakai taksi kok turunnya di pinggir jalan besar kayak gitu? Nggak laggsung turun di depan tempat tinggal gitu loh."
__ADS_1
"Ya aku juga nggak tahu tujuan target itu apa, tapi kan sekarang kita memilki titik terang. Besok kita cari kontrakan di sekitar sini, biar kita bisa mengawasi daerah sini setiap hari. Aku sih yakin, target kita ada di salah satu rumah dalam komplek ini," ucap pria berjaket sambil matanya memandang bangunan, dimana bangunan itu ada papan nama yang bertuliskan Anindita Wedding.
...@@@@@@...