
Suatu pagi di hari minggu pada sebuah kamar yang berada di dalam sebuah rumah yang cukup mewah.
"Run, kamu serius dengan keputusan kamu?" tanya seorang wanita yang saat ini bersama wanita lainnya, ketika mereka sedang bersiap diri untuk pergi. Mereka akan pergi ke suatu tempat dimana mereka akan membicarakan rencana yang akan mereka buat dengan beberapa pria dan juga dengan para hantu.
"Kenapa? Kamu meragukan aku?" wanita yang dipanggil Seruni itu malah melempar pertanyaan balik kepada temannya yang akrab dipanggil Zhang. Sejak berpisah dengan Ozil, wanita itu memang lebih banyak mengungsi di rumah Zhang. Bahkan saat Seruni menghubungi orang tuanya, dia juga merahasiakan tempat keberadaannya.
"Ya gimana ya? Apa nggak sayang, menyerahkan mahkota kamu kepada Ozil? Dia kan hanya Ob, Run? Bukannya aku menghina Ozil ya, bukan, cuma ya kayak gimana aja gitu," ucap Zhang dengan pemilihan kata yang tepat agar dia tidak menyinggung perasaaan lawan bicaranya.
Seruni lantas tersenyum. "Emang apa salahnya kalau Ozil seorang Ob, Zhang? Bagiku mending cowok kayak Ozil loh, dia itu selalu terlihat tulus," ucap Seruni dengan santainya.
"Kan masih banyak laki laki yang menurutku lebih baik, Run," Zhang masih kokoh dengan pendapatnya. "Lihat aja temen temen kamu, yang diluar negeri juga temen kamu banyak yang keren kan?"
__ADS_1
Seruni kembali menunjukan senyumnya. "Tapi ada yang setulus kayak Ozil nggak? Setidaknya, aku pernah belajar dari pengalaman yang aku alami selama ini, Zhang. Mungkin karena kamu belum lama mengenal Ozil jadi kamu berpikiran seperti itu. Kamu bahkan tahu kan, Zhang, aku putus dengan tunanganku karena apa. Jadi ya udah, mending mahkotaku ini, aku serahkan saja sama orang yang jelas jelas ada ketulusan saat bersamaku."
Zhang lantas mengangguk beberapa kali. Biar bagaimanapun dia memang tahu kehidupan Seruni seperti apa. "Apa kamu jatuh cinta sama Ozil, Run? Kamu sampai mau berbuat sejaug itu, ingin menyerahkan mahkota kamu kepada dia?"
Kali ini Seruni tersenyum dengan sangat lebar. "Jatuh cinta sih enggak, Zhang. Apa lagi aku dan Ozil sepakat untuk tidak saling jatuh cinta. Kamu juga tahu sendiri orang tuaku kayak gimana. Kita nggak bakalan pernah dapat restu dengan perbedaan agama dan juga harta, yang sangat mencolok. Aku nggak mau, nantinya Ozil dan keluarganya akan menderita jika keluarga besarku sudah bertindak. Kamu kayak nggak tahu keluargaku sja, Zhang."
"Yayaya, aku tahu kalau itu," balas Zhang. "Tapi kan orang tua kamu tahu siapa Ozil, Run. Dia yang telah nolong kamu. Masa mereka nggak mau menerima?"
"Ya ampun, Zhang. Meskipun Ozil pernah jadi pahlawan, itu bukan alasan khusus, untuk orang tuaku mau menerima dia. Oke lah, kalau sekedar berteman, orang tuaku tidak akan mempermasalahkannya, tapi jika kehubungan yang lebih serius, mending pikir seribu kali," ucap Seruni lantang. "Udah ayok berangkat, udah siang. Kita kemana dulu?"
Sementara itu di rumahnya Mas Ari, Ozil masih tertegun dengan apa yang dia dengar dari bosnya. Ozil tidak menyangka kalau tamu yang ada di rumah Bosnya, datang karena ingin bertemu dengan dirinya. Yang satu orang, Ozil cukup mengenalnya karena dia pernah bertemu sekali, sedangkan yang dua orang, Ozil sama sekali tidak mengenalnya.
__ADS_1
"Gimana kabar kamu, Zil? Sehat?" sapa seorang tamu yang mengenal Ozil. Dia bahkan langsung tersenyum lebar dan menyambut kedatangan Ozil dengan hangat.
"Sehat, Pak," jawab Ozil agak canggung. "Bapak sendiri gimana? Sehat juga kan?"
"Tentu!" ucap pria itu dengan antusias. "Kamu kapan main ke tempat usahaku, Zil? Apa aku kirim lagi aja, satu tukang pijat yang cantik?"
Mendengar penawaran seperti itu, tentu saja Ozil langsung tersenyum lebar dan agak malu. "Maaf, Pak. Kebetulan di tempat kerja lagi sibuk sibuknya, jadi belum sempat main ke tempat Bapak."
Pria pemilik usaha tempat pijat kaum elit itu sontak tersenyum lebar. "Tapi kan sabtu minggu kamu libur, Zil? Atau aku kirim tukang pijat lagi, mau?"
"Terserah bapak aja," jawaban yang keluar dari mulut Ozil tentu saja membuat semua yang ada di sana tertawa. Sedangkan Ozil wajahnya langsung bersemu merah. "Katanya Bapak ada perlu sama saya?"
__ADS_1
"Oh iya, Zil, aku dan adikku ini datang kesini karena ada perlu sama kamu," ucap pria itu, lalu dia menyerahan sesuatu yang membuat Ozil membelalakan matanya.
...@@@@@...