HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Berkunjung Ke Tempat Seorang Bos


__ADS_3

"Ini tempat apa, Zil?" tanya salah satu teman Ozil begitu mereka sampai di tempat yang di tuju. Mereka seperti orang bingung karena begitu sampai tujuan, hanya ada pemandangan rumah yang cukup besar tanpa ada papan nama sebagai petunjuk sebuah usaha. Hanya ada nama pemilik rumah yang terpampang di depan pintu gerbang.


Ozil tak lekas menjawab. Dia justru melangkah menemui penjaga pintu gerbang. Setelah berbicara sejenak dengan pria dewasa berseragam keamaan di sana, Ozil hanya berdiri di depan pintu gerbang sambil menunggu kabar dari penjaga yang sedang memberi laporan. Tak butuh waktu lama, pintu gerbang terbuka dan Ozil di suruh masuk menuju pintu utama.


"Ini rumah siapa sih, Zil, kok gede banget?" tanya Surya dengan mata terus memandangi semua yang dia lihat di sana. Ada rumah yang mewah beserta segala macam alat pendukungnya, yang bisa digunakan sebagai tanda kalau sang pemilik rumah benar benar kaya. Seperti taman yang unik, deretan mobil yang masih tertata di halaman, belum lagi bentuk rumahnya. Benar benar gambaran orang yang banyak harta.


"Apa ini rumah salah satu cewek yang kamu tolong, Zil?" kali ini giliran Cipto yang bertanya. Sejak tadi dua sahabat Ozil itu melempar beberapa pertanyaan, tapi Ozil malah menjawab dengan senyum senyum saja, membuat kedua sahabatnya merasa kesal karena rasa penasarannya tidak kunjung menemukan jawaban.


"Ni anak, ditanyain dari tadi kok malah cengengesan mulu," sungut Surya. "Katanya mau ngajak ke tempat yang gratisan, malah ngajaknya main ke rumah orang."


"Hahaha ..." Ozil malah terbahak. "Nanti juga kalian bakalan tahu. Sabar dulu napa."


Di saat bersamaan Ozil melihat sosok pria yang usianya sekitar empat puluh tahun lebih, sudah berdiri di depan pintu utama dan pria itu tersenyum melihat kedatangan Ozil. "Wahh, akhirnya kamu datang juga ke rumah saya, Zil?" sambut pria itu dengan hangat, begitu langkah Ozil mendekati pria itu.

__ADS_1


"Mumpung ada waktu, Pak." jawab Ozil lalu dia menjabat tangan pria itu. "Tapi maaf, aku mainnya malah bawa teman. Kebetulan tadi kita habis main bareng, Pak."


"Nggak apa apa, Zil, tenang aja. Ayo masuk, anak dan istri aku juga sudah pengin ketemu sama kamu," ucap pria itu. Ketiga pemuda itu lantas mengikuti langkah pria tua itu memasuki rumah mewah tersebut. Ketiga pemuda itu benar benar dibuat takjub dengan apa yang mereka lihat di dalamnya. "Bin bin! ini ada Om Ozil loh, katanya Bin Bin pengin kenal sama Om Ozil!" teriak pemilik rumah setelah mempersilahkan Ozil dan dua temannya duduk di kursi tamu.


Tak lama setelah suara pria itu memanggil, ada beberapa orang yang keluar dari ruangan lain. Satu wanita dewasa, tiga anak anak dengan usia yang berbeda beda. Sang wanita yang kemungkinan adalah istri dari pemilik rumah nampak tersernyum, sedangkan ketiga anaknya memandang bingung pada tiga pemuda yang mereka temui.


"Om Ozil yang mana, Pi?" tanya salah satu anak yang memiliki postur tubuh lebih kecil dengan mata yang arah pandangnya terbagi, antara Papi dan tiga tamunya.


"Ini, duduk di dengan Papi, ayo jabat tangan," tunjuk tuan rumah. Ozil pun tersenyum lebar saat bocah itu juga menunjukan senyumnya dan mengajak Ozil berjabat tangan.


"Namanya Bin Bin, Om," jawab bocah itu dengan lantang. "Makasih ya, Om sudah nolongin Binbin."


"Hahaha ... lucu banget sih," ucap Ozil gemas sambil mencubit pipi anak itu, lalu meraih tubuh si bocah dan memangkunya.

__ADS_1


"Sejak Papinya sering cerita tentang kamu, Binbin selalu tanya loh, Mas. Kapan ketemu Om Ozil gitu," cetus wanita yang ada di sana.


"Wahh! Kamu nyariin Om?" tanya Ozil kepada bocah yang dia pangku. Bocah itu mengangguk cepat membuat semua mata yang melihatnya terlihat gemas. "Emang Om mau dikasih apa? Nih, sekarang Om udah ada di sini?"


"Mau dikasih coklat," jawab anak yang usianya belum genap empat tahun itu. Semua yang mendengarnya kembali membuat semua yang ada di sana mengembangkan senyumnya. Mereka pun terlibat obrolan ringan bersama anak anak yang ada di sana.


"Mending kalian berangkat sekarang saja ya? Biar nanti nggak kemalaman. Soalnya ini malam minggu, biasanya agak ramai," ucap pria itu disela sela obrolan mereka.


"Tapi aku bawa teman, nggak apa apa, Pak?" tanya Ozil lagi memastikan.


"Nggak apa apa. Kamu ngggak perlu khawatir," jawab pria itu dengan santainya. "Ya udah kalian berangkat saja, nanti orang aku yang ngantar ke panti pijatnya, ya?"


"Panti pijat?" pekik Surya dan Cipta hampir bersamaan.

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2