
"Apa mumgkin aku berada di sini, karena ulah Paman dan Bibiku?" tanya seorang wanita yang baru sadarkan diri dari tidur panjangnya. Mata wanita itu menerawang, menatap langit langit ruang yang menjadi tempatnya dirawat. Wajahnya terlihat begitu sendu dan hal itu membuktikan, sepertinya kehidupan wanita itu cukup berat.
Ozil masih terdiam, tapi kali ini mata pemuda itu menatap lekat kepada wanita yang baru saja bergumam. Ozil juga mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita itu, tapi Ozil memilih bungkam. Wanita itu baru pulih dan Ozil tidak mungkin mengiyakan pertanyaan wanita itu.
"Jangan mikir yang aneh aneh dulu. Ingat, kamu baru aja sadarkan diri, sebaiknya kamu fokus aja pada kondisimu saat ini," Ozil mencoba memberi nasehat untuk mengalihkan pemikiran wanita itu. "Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?"
Wanita itu menoleh dan tersenyum samar. "Namaku Nirmala. Apa kamu yang sudah membeli tubuhku?"
Ozil sontak tercengang mendengar pertanyaan dari wanita yang baru sana menyebut namanya. "Membeli tubuh kamu? Buat apa?" tanyanya dengan wajah terkejutnya.
"Ya, mungkin aja kamu yang membayar tubuhku. Niat BIbi kan sepeti itu, menjual diriku ke orang kaya," jawab Nirmala sembari kembali menatap langit langit. "Karena aku selalu dituntut untuk balas budi. Katanya dia rela hidup susah demi bisa merawat aku, jadi aku harus membalas kebaikan Bibi dan Pamanku."
__ADS_1
"Kok bisa kejam gitu?" Ozil melempar pertanyaan dengan segala keheranan yang semakin menebal. Selain itu, Ozil juga tiba tiba merasa kesal setelah mendengar cerita pahit dari Nirmala. "Emang kamu sudah lama ikut Paman sdan Bibi kamu?"
"Sebenarnya belum lama," jawab Nirmala. "Aku kehilangan orang tuaku saat usiaku lima belas tahun. Sejak saat itu aku ikut Paman dan Bibiku. Awalnya mereka menerimaku dengan baik. Tapi sejak mereka menguasai rumahku, sikap mereka langsung berubah."
"Astaga!" Ozil menatap tak percaya kepada wanita yang terlihat lemah saat bercerita. "Lalu, rumah kamu direbut paksa oleh mereka apa gimana?" Ozil malah menjadi penasaran dengan kisah yang dialami Nirmala. Biar bagaimanapun, baru kali ini, Ozil mendengar kisah kejam seperti yang dialami wanita di hadapannya.
"Diam diam mereka menjual rumahku. Entah kapan mereka mencuri sertifikatnya," jawaban yang Nirmala berikan menambah rasa terkejut dari wajah Ozil. "Sejak saat itu, aku jadi tergantung sama mereka dan dituntut untuk selalu nurut."
"Kenapa kamu nggak kabur aja? Atau paling nggak, kamu lapor polisi gitu," Ozil mencoba memberi saran.
"Benar juga sih," ucap Ozil sambil menganggukan kepalanya beberapa kali. "Tapi kamu punya teman kan?"
__ADS_1
"Teman ya punya, tapi nggak mungkin juga aku membebani mereka. Belajar dari Paman Bibiku saja. Ada uang aku disayang, udah nggak ada apa apa, aku dibuang. Apa lagi utang mereka banyak," meski masih agak lemah, Nirmala malah terlihat bersemangat mnceritakan tentang kisahnya sendiri. Dia lalu kembali menatap Ozil. "Kamu bayar aku berapa, Mas?"
Ozil sontak tersenyum sinis. "Emang tampang aku, tampang orang kaya? Lagian buat apa aku membeli seorang wanita, mending duitnya aku tabung buat masa depanku. Udahlah, mending kamu istirahat, aku juga ngantuk," Ozil lalu bangkit dari duduknya dan dia melangkah menuju ke sofa.
Nirmala sendiri hanya bisa memperhatikan gerak gerik Ozil dengan segala pertanyaan dan juga rasa penasarannya. Wanita itu sama sekali tidak ingat kalau dirinya pernah menjadi hantu dan arwahnya mengenal pemuda yang sudah terbaing di sofa. Wanita itu kembali merenungi nasibnya sendiri sampai malam benar benar sangat larut.
Dan keesokan harinya, kondisi Nirmala semakin membaik. Wanita itu semakin penasaran dengan pemuda yang masih setia menemaninya. Untuk saat ini, Nirmala kagum dengan sikap pria itu dan dia cukup terharu, karena Ozil benar benar merawatnya dengan baik. Dari sarapan sampai wanita itu ingin ke toilet, Ozil dengan sigap membantu Nirmala. Karena sikap Ozil yang terlihat baik itulah, Nirmala merasakan sesuatu di dalam hatinya secara perlahan.
"Mas, kamu nggak ingin pulang?" tanya Nirmala setelah dia dibantu minum obat oleh pria yang menemaninya. "Udah dari semalam kamu disini terus loh, apa kamu nggak kerja?."
Ozil lantas tersenyum sembari mencomot anggur yang dia pegang. "Aku sedang libur kerja, jangan khawatir."
__ADS_1
Kening Nirmala sontak berkerut, tapi lak lama kemudian wanita itu mengangguk tanda mengerti. "Mas, setelah aku keluar dari rumah sakit ini, apa aku boleh ikut kerja sama kamu? Biar aku ada tempat tinggal?"
...@@@@@...