
Siang ini, sambil menunggu jam makan siang, Ozil memanfaatkan waktu luangnya untuk bersantai di dalam kamar. Karena memang tidak ada lagi tugas yang dia kerjakan, dan juga tidak ada tugas lapangan yang membutuhkan bantuan tenaganya, pemuda itu memilih menghabiskan waktu luang untuk mengecek keaadaaan wanita yang ada di kamarnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Ozil, begitu dia membuka pintu kamar dan melihat Seruni duduk di atas kasur sambil menatap layar ponsel. Sebenarnya Ozil sudah tahu kalau wanita itu sudah makan karena tak jauh dari tempat keberadaan Seruni, bungkus nasi dan piringnya serta gelas yang digunakan, masih ada di sana.
"Sudah," jawab Seruni dengan suara yang sangat pelan dan hampir saja lirih. Untung Ozil masih bisa mendengarnya dan pemuda itu merasa lega. "Bang, apa aku bisa mengusulkan rencana?"
Ozil tertegun sejenak." Rencana apa?"
Seruni menatap lekat lawan bicaranya. "Nanti temenin aku ke apartemen ya?"
Pemuda yang baru saja mendaratkan pantatnya di atas lantai sontak mendongak, menatap lurus wanita yang baru saja melempar pertanyaan untuknya. "Ke apartemen, mau ngapain?" tanya Ozil dengan tatapan penuh selidik.
"Aku ada perlu," jawab seruni singkat dan dia menduduk. "Tapi sepertinya agak lama di sana," sambungnya.
"Berapa lama? Satu jam, dua jam?" cecar Ozil.
"Mungkin sampai pagi," jawaban Seruni tentu saja membuat Ozil sedikit terkejut.
__ADS_1
"Kalau sampai pagi ya, nggak bisa," Ozil langsung menolaknya. "Kamu kan tahu aku kerja. Kalau besok malam lah pasti bisa karena besok jumat, dan sabtunya aku libur."
Seruni nampak mengangguk. "Baiklah, besok malam aja setelah selesai kamu kerja."
"Emang diapartemen mau ngapaian sampai pagi? Apa aku ikut masuk juga? nanti malah nggak aman."
"Aku ada perlu. Ini juga menyangkut Paman Sakurata. Aku membutuhkan waktu lama karena nggak mungkin akan cukup dilakukan selama satu jam atau dua jam."
"Oh gitu?" sahut Ozil, dan sahutannya membuat Seruni mengangguk. "Apa kamu sudah memberi tahu tentang Paman kamu ke keluarga kamu?"
Seruni menggeleng. "Aku tidak ingin membuat Paman Sakurata curiga. Apa lagi aku tidak memiliki bukti yang kuat. Yang ada aku malah disalahkan. Biar bagaimanapun, Paman Sakurata orang yang penting dalam keluarga besarku. Dia seorang dokter ahli yang kepandaiannya tidak diragukan lagi."
Seruni mendongak dan menatap lawan bicaranya. "Apa para hantu mengenal Paman sakurata juga?"
Dengan cepat dan atusias, Ozil mengangguk. "Katanya, keluarga mereka cukup dekat dengan Paman kamu itu. Ya tahu sendirilah, para orang kaya seperti kalian, pasti memiliki dokter pribadi buat mereka dan dokter Sakurata memanfaaatkan hal itu. Mungkin dari paman kamu juga, bos dari penculik itu tahu kalau target mereka masih perawan semua."
Seruni menghembuskan nafasnya secara kasar. "Kenapa Paman bisa bertindak sejauh itu? Apa karena dia sangat penasaran dengan hal hal mistis di negara ini sampai mau mengorbankan keponakannya sendiri?"
__ADS_1
Ozil lantas tersenyum masam. "Yang namanya tumbal itu tidak pandang bulu. Mereka sudah buta mata hatinya karena tertutup dan berganti menjadi mata setan. Jangankan kamu yang hanya seorang keponakan, banyak juga kok orang yang memakai anggota keluarganya sendiri untuk dijadikan ambisi. Orang orang seperti itu memang sangat berbahaya."
Seruni memgangguk mengerti. "Terus, apa benar? Kelima hantu itu masih bisa diselamatkan?"
Ozil kembali mengangguk cepat. "Ya. Berdasarkan dari ciri cirinya dan mereka juga mendengarkan semua obrolan Paman kamu dan juga penjahat, Mereka sepertinya sengaja dibuat koma. Biar bagaimanapun, bos mereka harus berhasil mendapatkan kamu terlebih dahulu, baru, bos mereka bisa melaksanakan ritual yang dia inginkan."
"Pantas, semalam kamu begitu marah sama aku, ternyata kamu tahu banyak, Bang."
Ozil lantas tersenyum canggung. "Ya mau bagaimana lagi, aku juga merasa kasian pada lima hantu itu yang sudah setahun lamanya terlunta lunta."
Seruni ikutan tersenyum. Dia meletakkan ponselnya di atas kasur lalu dia bangkit dan beranjak. Ozil tercengang, karena wanita itu malah mendekat ke arahnya dan tanpa pemberitahuan, Seruni mendaratkan pantatnya di atas pangkuan Ozil. Tentu saja dengan senang hati Ozil menerima perlakukan wanita itu.
Kini mata mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Ozil pun meletakkan ponselnya di atas lantai dan melingkarkan tangannya di pinggang wanita yang saat ini berada dipangkuannya. Wanita tersebut juga melingkarkan tangannya di leher Ozil, membuat jantung pemuda ttu melompat lompat kegirangan.
"Maaf, jika semalam aku sangat egois, Bang," ucap Seruni lirih.
Ozil tersenyum manis. "Nggak Apa apa, yang penting lain kali jangan diulangi. Kita bisa membicarakan semuanya secara baik baik."
__ADS_1
Seruni mengangguk. Tanpa pikir panjang, kepala wanita itu maju dan mendaratkan bibirnya pada bibir Ozil.
...@@@@@...