
Senyum Ozil sedari tadi terus berkembang. Malam ini pria yang usianya sebentar lagi akan menginjak angka dua puluh empat tahun, sedang merasakan bahagia yang tidak terkira. Bahkan apa yang Ozil alami saat ini, serasa seperti mimpi yang sering dia bayangkan. Ozil tidak menyangka, keputusannya untuk pergi merantau membuat dia bisa merasakan nikmatnya lubang wanita tanpa harus susah susah mencarinya.
Baru kali ini Ozil merasa beruntung memiliki badan yang kekar dan juga wajah yang tampan. Dia tidak menduga, hanya dengan modal dua faktor yang dia miliki, Ozil bisa mendapatkan wanita cantik yang bersedia dijebol mahkotanya. Bahkan Ozil tidak mencarinya, justru wanita itu sendiri yang datang dan menyerahkan dirinya dengan sangat suka rela.
hal itu tentu saja berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Ozil saat masih di kampung. Wajah dan badan kekarnya tidak sekalipun dilirik oleh para gadis. Meski di kampung Ozil sering bertenjang dada, nyatanya tidak ada wanita yang minat dengan pemuda itu. Ozil merasa faktor ekonomilah yang menyebabkan para gadis kampung seusia Ozil enggan pada mendekat.
Sekarang Ozil sedang menikmati pemandangan kota sambil berendam di dalam buthtup. tentu saja Ozil tidak sendiri, ada wanita yang ikut berendam juga bersamanya sambil bersandar pada dada bidang pria itu. Sudah pasti kalau wanita itulah yang sudah memasrahkan dirinya kepada Ozil. Setelah ronde kedua selesai, keduanya memang memutuskan mandi berdua.
"Kenapa kita tidak tidur di sini aja, Bang?" tanya Seruni sedikit menoleh ke arah belakang dimana Ozil memang berada di belakangnya.
Pemuda yang tangannya sedang sibuk memainkan bukit kembar Seruni itu lantas tersenyum. "Nanti kalau para hantu nyariin aku gimana? Lagian, aku nggak enak sama bos aku, Run. Takutnya nanti dia marah."
Seruni pun mengangguk tanda mengerti. Biar bagaimanapun wanita itu mengerti kalau Ozil sangat membutuhkan pekerjaan itu. Seruni kembali mengedarkan pandangannya ke pemandangan kota lewat kaca yang ada di sana. Kaca itu memang dirancang khusus. Dari luar, kaca itu tidak tembus sampai ke dalam, tapi kalau dari dalam, kaca itu bisa digunakan untuk memandangi area luar.
__ADS_1
"Lagian kalau kita tidur disini, aku takutnya, pengin nyodok terus, Run. Lubang kamu masih sakit kan?" tanya Ozil memecah kehenginan. Seruni otomatis mengangguk. "Nah, sambil nunggu rasa sakitnya hilang, kita mending nginap di tempatku. Nanti gampang kalau udah nggak sakit, kita bisa main sepuasnya di tempat ini."
Seruni seketika langsung tersenyum senang. Wanita itu benar benar menikmati momen dan perlakuan Ozil saat ini. Keduanya pun lantas saling diam. Mereka menikmati mandi bersama tanpa ada obrolan yang dibahas. Hingga beberapa menit kemudian, keduanya terlihat telah memakai pakaiannya kembali dan bersiap untuk pulang.
Mereka keluar dari apertemen dengan keceriaan yang tidak surut hingga mereka memasuki lift. Namun saat mereka sampai pada lantai yang paling bawah, setelah mereka keluar dari Lift, Seruni dikejutkan dengan sosok yang dia kenal baru masuk ke area apertemen dan melangkah menuju ke resepsiionis.
"Sial, mereka ada di sini!" pekik Seruni langsung berbalik badan dan menyeret Ozil untuk bersembunyi.
Tentu saja Ozil sangat kaget dan bingung dengan sikap Seruni yang tiba tiba berubah. "Ada apa?" tanya Ozil setelah mereka bersembunyi pada sebuah pilar yang cukup besar, tak jauh dari keberadaan Lift
"Yang mana orangnya?"
Seruni sedikit melongok ke arah Lobby. "Itu, tiga pria yang berdiri di depan resepsionis."
__ADS_1
"Oh itu!" Ozil nampak mengangguk beberapa kali. Untuk pertama kalinya, Ozil melihat wajah para penjahat yang ditakuti Seruni. "Mereka ngapain kesini? Apa mereka tahu kamu ada di sini?"
"Aku nggak tahu," jawab Seruni. Ozil pun sadar kalau wanita itu saat ini sedang merasa ketakutan.
"Gini aja deh, aku coba dekati mereka. Para penjahat belum pernah melihat wajahku ini kan?"
"Mau ngapain? Kamu jangan aneh aneh deh," Seruni jelas melarangnya.
"Kamu tenang aja. Aku cuma mau menguping pembicaraan mereka. Kali aja mereka kesini karena ada target lain. Bukankah Zhang juga melarikan diri?"
Seruni pun terdiam dengan pikiran mencerna ucapan pria yang bersamanya. Tidak butuh waktu lama, wanita itu mengijinkan Ozil untuk mendekat ke tempat tiga pria yang saat ini sudah duduk, di kursi yang ada di lobby. Beruntung Ozil memakai masker, jadi dia dengan mudah dia duduk di kursi lain, yang letaknya tidak jauh dari keberadaan tiga penjahat itu.
Ozil pura pura gelisah agar dirinya terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Hingga beberapa saat kemudian, Ozil terkejut dengan apa yang dia dengar dari obrolan tiga pria itu.
__ADS_1
...@@@@@...