
"Tu kan benar!" seru salah hantu. "Mereka pindah di komplek ini!" dia dan empat hantu lainnya benar benar dibuat terkejut saat dua pria yang mereka ikuti, masuk ke dalam jalan komplek, dimana ada tempat kerjanya Ozil.
"Apa mereka sudah mendapatkan tempat tinggalnya?" tanya hantu yang lainnnya.
"Dilihat dari barang bawaan mereka, pasti mereka sudah mendapatkan tempat baru lah. Apa lagi di komplek ini memang banyak warga yang membuka jasa kontrakan," balas hantu lainnya.
"Ya udah, kita diam aja dan tetap awasi mereka," ucap salah satu hantu dan disambut anggukan oleh hantu lainnya. Mata mereka terus saja awas melihat jalanan sembaroi sesekali diwarnai candaan.
Di saat mobil yang dikendarai dua penjahat itu hampir sampai di depan kantor tempat Ozil bekerja, dari arah dalam kantor tersebut keluar sebuah mobil yang akan meninggalkan tempat tersebut. Saat para hantu mengetahui siapa yang berada di dalam mobil tadi, mereka nampak terkejut.
"Bang Ozil mau kemana tuh?" celetuk Anggrek begitu mobil tadi berlalu meninggalkan area kantor.
"Paling seperti biasa, tugas lapangan," jawab Cempaka.
"Lah terus, Seruni di tinggal, apa dia pergi?" tanya Anggrek lagi.
"Nggak tahu," jawab Cempaka. "Coba kamu Cek."
Anggrek sontak mendengus, tapi dia tetap saja menuruti perintah teman hantunya itu. Setelah memastikan kalau Seruni ada di kamar, Anggrek kembali bergabung, bersamaan dengan mobil yang dikendarai penjahat berhenti tepat di depan sebuah bangunan.
"Seruni ada di sana," lapor Anggrek.
__ADS_1
"Dia nggak pergi lagi?" tanya Melati.
"Ya nggak lah, buktinya dia ada d rumah."
"Ya kali aja dia pergi biar nggak jenuh."
Anggrek memilih diam. Dia ikut fokus memperhatikan dua penjahat yang sedang turun dari mobil lalu masuk kedalam pekarangan rumah untuk menemui seseorang yang diduga sebagai pemilik kontrakan. Ternyata dugaan para hantu benar, dua penjahat itu memang berpindah tempat tinggal di sana demi mendapatkan seruni.
Pada siang yang sama di dalam mobil yang berbeda, Ozil nampak sedang berbincang dengan wanita yang mengajaknya pergi. Karena mereka pergi sebelum makan siang, jadi mbak Lisa, wanita yang membawa Ozil pergi, mengajaknya mampir ke ruman makan untuk mengisi perut yang memang sudah lapar.
"Kamu pesen apa, Zil?" tanya Mbak Lisa begitu mereka telah duduk pada sebuah tempat di rumah makan yang menyediakan tempat lesehan.
"Zil, kamu ngerasa nggak? Kalau hari ini sikap Rini agak beda?" tanya Mbak Lisa begitu sang pelayan pergi untuk membuatkan pesanan mereka berdua.
Ozil yang tiba tiba dilempar pertanyaan seperti itu tentu saja cukup terkejut. "Nggak tahu, Mbak. Aku nggak memperhatikan," kilah Ozil dusta. Yang pasti, Ozil jelas tahu penyebab Mbak Rini berbeda.
"Aku sih ngerasanya begitu. Harusnya kan, hari ini, Rini melanjutkan pekerjaan yang kemarin dia datangi bersama kamu. Aku pikir dia akan mngajak kamu kembali."
Ozil lantas tersenyum. "Mungkin karena pekerjaannya lebih ringan kali, Mbak, jadi Mbak Rini tidak membutuhkan bantuan saya."
Mbak Lisa pun ikutan tersenyum. "Benar juga ya?" ucap wanita itu. "Zil, kamu kapan, main ke rumahku?"
__ADS_1
Deg!
Ozil sontak terkesiap. Pikirannya langsung berkelana kemana mana, termasuk hal yang akan membuatnya merasa keenakan. "Nggak tahu, Mbak," cuma itu yang bisa Ozil katakan.
Lisa langsung mencebikan bibirnya. "Kamu pasti takut yah, jika berduan dengan janda?"
"Eh, enggak, Mbak. Kata siapa?" bantah Ozil dengan suara agak tergagap karena kembali dibyat terkejut.
"Udahlah, nggak perlu ngeles, mungkin karena kamu sudah kelihatan aura tampannya jadi kamu risih jika main ke tempat janda. Aku udah tahu kok apa yang ada dipikiran kamu. "
"Ya ampun, Mbak, aku hanya ..." Ozil tidak bisa melanjutkan ucapannya karena di saat bersamaan, seorang pelayan datang dengan membawa pesanan mereka berdua. Ozil pun akan melnajutkan ucapannya nanti jika pelayan sudah selesai dengan tugasnya.
Di tempat berbeda, setelah urusan dengan kotrakan barunya selesai, dua pria yang saat ini diawasi para hantu kembali melajukan mobilnya. Tugas selanjutnya adalah dia menemui rekannya yang ditugaskan untuk menjemput tamu dari bandara. Mereka janjian bertemu di suatu tempat. Setelah dua pria itu bertemu dengan rekannya itu, mereka langsung saja menuju bandara.
"Aku penasaran, orang seperti apa yang mereka jemput? Apa dia orang penting bagi bosnya?" tanya Lili.
"Mungkin, kita lihat saja nanti," Melati yang menimpali.
Hingga setelah mereka menunggu cukup lama, orang yang ditunggu para penjahatpun akhirnya tiba. Mereka sudah siap menunggu di tempat para penjemput berkumpul.
...@@@@@...
__ADS_1