
Di tempat lain, seperti biasanya, Ozil saat ini sedang melaksanakan tugas tugasnya. Hari ini sama seperti hari kemarin, tidak ada tugas lapangan yang harus dikerjakan Ozil. Sama seperti beberapa hari kemarin juga, salah satu karyawan wanita yang ada di sana masih bersikap dingin kepada Ozil.
Ozil benar benar tidak menyangka, kalau penolakannya atas ajakan Mbak Rini, membuat wanita itu bisa marah banget. Bahkan marahnya sangat awet, bisa sampai berhari hari. Tadi saat Mbak Rini datang, Ozil berinisiatif menyapanya, tapi Mbak Rini hanya meliriknya dengan wajah datar. Jujur, sampai sekarang Ozil merasa tidak enak hati.
Jika Ozil tidak ada tambahan pekerjaan, seperti biasa, pria itu akan mengisi waktu luangnya untuk rebahan di dalam kamar. Sudah beberapa hari ini, dia juga tidak ngobrol dengan pak satpam. Mungkin karena paginya sudah ngobrol, jadi Ozil memilih menghabiskan waktu senggangnya di dalam kamar sampai makan siang tiba nanti.
"Seruni pergi, bang?" tiba tiba salah satu hantu bersuara, sebelum menunjukkan wujudnya sampai membuat Ozil sempat merinding.
"Hih, kalian ini," sungut Ozil. "Kalau ngomong, nunjukin wujud kalian dulu dong. Ngagetin tahu nggak?" Para hantu pun langsung bermunculan sambil cengengesan. "Seruni sedang menjalankan tugasnya."
"Kira kira, dia berhasil nggak ya?" ucap Anggrek. Kini para hantu sudah mengelilingi Ozil yang sedang rebahan.
"Doa kan saja dia berhasil. Apa lagi dia pergi bersama Zhang, lumayankan kan, bisa dijadikan saksi yang bisa membuat Seruni kuat," ucap Ozil yang tetap merebahkan tubuhnya meski ada para hantu.
"Oh, nama wanita itu, Zhang? Wanita yang semalam kita tolong kan?" tanya Lili, dan Ozil langsung mengiyakan. "Dia akan ikut tinggal di sini apa gimana, Bang?"
__ADS_1
"Ya aku belum membicarakannya. Orang tadi mereka pergi terburu buru. Nanti aku coba tanyakan kalau mereka kembali. Tapi Zhang udah tahu rencana kita sih, jadi dia dengan senang hati mau membantu," ucap Ozil.
"Ya syukurlah. Makin banyak orang, kita bisa lebih kuat lagi kan?" ucap Cempaka. "Ya sudah kalau gitu, kita akan mengawasi para penjahat lagi. Mungkin saat ini mereka akan nyari korban pengganti lagi."
"Nah, iya tuh benar," seru Mawar. "Ya udah, yok berangkat."
Para hantu segera saja pada pergi. Ozil hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah para hantu yang langsung hilang dari hadapannya, lalu Ozil kembali fokus menatap layar ponselnya.
Tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat. Sekarang sore hari telah datang dan jam pulang kantor telah tiba. Karena hari jum'at dan besok libur, seperti biasa, kantor tutup lebih awal. Di tempat kerja Ozil sendiri saat ini sudah sepi, sedangkan waktu baru menunjukan pukul tiga sore lebih tiga puluh menit. Hanya ada Ozil yang sedang kembali membersihkan dan merapikan semua ruangan, serta Pak satpam yang akan segera meninggalkan tempat tugasnya. Begitu Pak Satpam pulang, tak lama setelah itu Seruni pun datang.
"Loh, kok kamu pulang sendirian?" tanya Ozil yang saat itu sudah selesai dengan tugas bersih bersihnya. "Zhang mana?"
"Oh gitu, ya syukurlah. Tapi kenapa Zhang pulang? Apa nggak takut nanti ketemu dokter Sakurata?" tanya Ozil lagi sambil melangkah menuju kamarnya setelah menutup pintu gerbang. "Kirain, dia akan ikut tidur di sini."
"Ada sesuatu yang harus dia urus katanya," jawab Seruni, "Bukankah malam ini kita akan ke apartemen aku? Kalau Zhang ada di sini ya, rencana aku gagal dong."
__ADS_1
"Oh iya, kamu katanya ada rencana ya? Emang apa sih rencana kamu?"
"Nanti, kamu juga bakalan tahu, gimana kalau sekarang aja ke apartemennya? usul Seruni.
"Nggak mandi dulu?"
"Kan kita bisa mandi di sana, kamu bawa baju ganti aja, di sana perlengkapan mandiku lengkap kok."
Mau tidak mau Ozil pun menyanggupinya. Lagian Ozil juga penasaran, seperti apa tinggal di aparetemen itu. Pukul empat lebih sedikit keduanya berangkat menuju apartemen milik Seruni.
"Wahh! ternyata mewah juga ya, apartemenn kamu, Run,"ucap Ozil setelah dirinya berada di dalam apartemen milik wanita yang bersamanya. Tidak membutuhkan waktu lama, kini keduanya berhasil masuk ke apartemen dengan aman.
"Ya, yang namanya apartemen ya kayak gini, sebenarnya nggak beda jauh dengan rumah," jawab Seruni setelah menutup pintu dan membuka tirai untuk memperlihatkan pemandangan kota besar di sore hari.
"Wahh!" Ozil nampak takjub dengan apa yang dia lihat sekarang. "Bagus banget ya?" Seruni pun hanya tersenyum. Keduanya berdiri berdampingan memandang indahnya suasana sore ibu kota dari kaca yang cukup besar. "Oh iya, katanya kamu ada rencana yang berhubungan dengan Paman kamu, rencana apa itu?"
__ADS_1
Seruni kembali tersenyum, lalu dia mendekatkan mulutnya ke telinga ozil dan membisikan sesuatu sampai Ozil terperangah.
...@@@@@...