
"Hah! Kalian masih ingat tentang itu!" Ozil sungguh dibuat takjub begitu mendengar semua yang Cempaka ucapkan. Pria itu tidak menyangka kalau para hantu mengingat semua yang pernah terjadi diantara mereka termasuk hal hal kecil yang pernah mereka bicarakan. Ozil benar benar tidak percaya, bisa berada dalam situasi seperrti ini.
"Tentu kami masih ingat dong, Bang," Lili menjawab dengan antusias. "Dari awal kita bertemu aja kita masih inget. Apa lagi hal hal penting seperti itu. Apa Abang sudah melupakannya?" tuduh wanita itu. Semua mata langsung menatap tajam kepada satu pria.
"Sepertinya Abang memang melupakan kisah kita deh," terka Mawar. "Atau jangan jangan, Abang hanya mengingat tentang Seruni dan tukang pijat itu doang ya?"
"Ya bukan begitu," Ozil langsung membantah dengan suara yang tergagap. "Aku bukannya lupa. Cuma ya kan aku mikirnya ngapaian di ingat ingat, karena aku yakin itu nggak akan terjadi. Apa lagi saat kalian sadar dan kembali menjadi manusia, kalian langsung menjalani hidup kalian masing masing, jadi buat apa aku mengingatnya kan?"
Para wanita sontak mengangguk beberapa kali. "Maka itu, Bang, kita merencanakan hal ini karena ingin mengenang saat saat seperti itu," sekarang Anggrek yang mengeluarkan suaranya. "Anggap aja, Abang saat ini sedang dengan hantu wanita kayak dulu, jadi Abang tidak perlu merasa canggung."
"Duhh, kalian ini," Ozil malah menjadi gemas. "Terus tadi Cempaka bilang, kalian akan merasakan isi celanaku meski satu kali, apa itu berarti kita nanti kita akan berhubungan ranjang?"
__ADS_1
"Iya dong," Melati yang menjawab dengan lantang. "Kenapa, Abang nggak mau?"
"Bukan begitu," bantah Ozil cepat. "Mana ada sih cowok yang nolak begituan sama cewek cantik kayak kalian? Maksud aku tuh begini, apa aku mampu melawan lima cewek, sedangkan waktu kita hanya seminggu. Apa kita mainnya satu lawan lima langsung apa gimana?"
"Hahaha ..." para wanita kembali tertawa. "Abang sendiri maunya gimana?" Mawar melempar pertanyaan. Bukannya menjawab, Ozil malah terlihat bengong dengan pikiran yang berkelana, lalu tiba tiba dia tertawa sendirian. "Kenapa Abang malah tertawa?"
"Hahaha ..." suara tawa Ozil semakin keras. "Ya aku nggak nyangka aja ngebayanginyya, masa main dengan lima wanita sekaligus. Musibah atau anugerah ini? Apa lagi kalian kan istri orang semua."
"Tahu ah, aku bingung," jawab Ozil dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalian kok idenya ada ada aja sih? Aku benar benar nggak nyangka sumpah, ini kayak mimpi. Mana kalian cantik cantik banget lagi."
Kelima wanita itu setia dengan senyumnya. "Ya kan, kami melakukan inii semua sebagai rasa terima kasih kami kepada kamu, Bang. Coba kalau kamu nggak bisa melihat hantu dan bertemu dengan kami, mungkin kita saat ini sudah dimakamkan," ucap Mawar.
__ADS_1
"Betul, itu, Bang," Melati menimpali. "Maka itu Abang jangan sungkan. Abang tinggal ngomong, mau main satu lawan satu apa satu lawan lima, kita siap kok. Intinya selama beberapa hari ini, kita ingin membuat abang Bahagia. Lagian kapan lagi coba, kita membuat Abang senang? Mumpung Abang belum menikah juga kan?"
Ozil lantas tersenyum tipis. "Ya udah kalau itu sudah keputusan kalian, tapi keputusanku nanti aja ya? Kalian kan mau renang. Mending kalian renang dulu, aku juga pengin istirahat. Meskipun tawaran kalian sangat menggiurkan dan aku nggak mungkin mampu menolak, tapi aku juga butuh memikirkannya juga kan?"
Kelima wanita itu serentak mengangguk. "Baiklah. Ya udah, Bang. Kalau gitu aku dan yang lainnya renang aja dulu, gimana besti?" ajak Lili. Keempat wanita yang lain langsung setuju dan mereka semua segera keluar dari kamar, meninggalkan Ozil yang masih tidak menyangka dengan apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Secara kebetulan, letak pantai memang sangat dekat dengan villa yang mereka tempati. Bahkan Ozil bisa memandang kelima wanita itu dari tempatnya berada saat ini.
"Bukankah aku secara tidak langsung sudah menyakiti Nirmala? Tapi aku juga nggak mungkin mau mengecewakan mereka," gumam Ozil. "Lagian kalau aku menolak permintaan mereka, apa aku bisa pulang? Ini aja aku nggak tahu ada dimana. Baiklah, apa boleh buat, biarlah ini menjadi rahasia gelapku yang akan aku simpan sampai kapanpun."
Ozil beranjak dan melangkah menuju ke lemari. Di sana dia mengambil kolor untuk dia pakai. Setelah itu, Ozil melangkah menuju balkon kamar sembari mengawasi para wanita yang sedang asyik bermain air laut dan pasir pantai. Selain mereka, tidak ada seorangpun yang ada di sana. Sepertinya tempat itu memang disediakan untuk kalangan pribadi saja.
Ozil duduk di kursi santai yang ada di balkon tersebut. Tangan kirinya dia masukkan ke dalam celana kolor dan mengusap isinya yang sudah tegang sedari tadi. Lalu tak lama setelah itu, Ozil mengerluarkan isi kolornya dan menatap benda menegang tersebut. "Bro, kamu bisa kan? Lawan lima lubang? Harus bisa loh, Bro, jangan buat aku malu ya," gumamnya sambil cengengesan.
__ADS_1
...@@@@@...