HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Kembali Bekerja


__ADS_3

Sejak perginya hantu wanita itu, malam ini Ozil benar benar tidak bisa tidur. Pikiran pemuda itu terus berkelana, memikirkan semua hal yang sedang terjadi kepadanya. Kali ini masalah yang menimpanya lebih dari serius, karena yang dituju dokter Sakurata, langsung kepada dirinya. Jelas sekali kalau ini adalah sebuah pelampiasan dendam.


Ozil mengakui, selain cerdas, ternyata dokter Sakurata sangat licik dalam mencari jalan untuk memancing dirinya. Jika penjahat lain akan memburu keluarga atau orang terdekat sebagai pelampiasan dendam, tapi dokter Sakurata malah menggunakan orang lain sebagai alat untuk pelampiasan dendamnya. Sungguh sangat diluar dugaan.


Namun bagaimanapun juga, Ozil tdak bisa tinggal diam begitu saja. Pemuda itu tidak mau ada korban atas nama dirinya. Ozil harus bisa menemukan dokter Sakurata secepatnya. Mungkin karena terlalu lama berpikir, mata Ozil akhirnya diserang rasa kantuk juga. Beberapa menit kemudian, Ozil pun terlelap.


Waktu terus bergulir dan pagi kini menyapa. Hari senin telah datang, dan Ozil kembali disibukan dengan rutinitas yang biasa dia lakukan sebagai bagian tugas dari pekerjaannya. Pagi ini, Ozil tidak mendapat teror lagi. Setelah memeriksa pintu gerbang, Ozil tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan tergantung di sana.


Hingga beberapa jam berlalu kini tempat itu sudah didatangi oleh orang orang yang bekerja di kantor tersebut. Dengan ramah mereka menyapa Ozil yang sedang duduk bersama pak satpam di dekat pintu gerbang. Mereka langsung saja mengerjakan tugas mereka masing masing.


"Zil, kamu kan banyak undangan untuk wawancara, kapan pelaksanaanya?" tanya Santos beberapa saat kemudian saat Ozil mengantar minuman hangat untuk para karyawan.


"Nggak tahu, Mas, aku masih bingung," jawab Ozil sambil terus melakukan tugasnya, meletakkan gelas gelas diatas meja para karyawan masing masing.

__ADS_1


"Kenapa bingung? Kamu butuh bantuan?" tanya orang yang sama. "Aku mau deh bantuin nemenin kamu. Kali aja aku ikut terkenal."


Para rekan kerja laiin sontak mencibir. "Daripada sama kamu, mending sama aku ya, Zil?" celetuk Mbak Lisa. Ozil pun untuk saat itu hanya tersenyum saja sebelum mengatakan sesuatu.


"Sini, Zil, duduk di sini, kita ngobrol ngobrol sambil kamu bantuin pekerjaanku," pinta Mas Edwin. Ozil pun tidak menolaknya. "Mending kamu atur waktu aja secepatnya, Zil? Banyak loh yang penasaran mendengar tragedi itu dari versi kamu."


Ozil nampak tersenyum kembali. "Ya, rencana sih memang sudah ada, tapi kan aku juga harus bekerja. Aku nggak mau aja waktu kerjaku jadi terganggu. Nggak enak sama Mas Ari."


"Nah ide bagus tuh, Zil. Kamu cari aja beberapa vlogger atau stasiun televisi yang membayarmu lebih mahal. Toh yang mereka tanyakan pasti topik yang sama. Jadi kamu tidak capek capek memberi jawaban yang sama juga kepada setiap orang yang mengundangmu," Santos ikutan memberi saran.


"Akan aku pikirkan, Mas," jawab Ozil dengan santainya. Semua orang yang ada di sana satu persatu member saran dan obrolan sambil melakukan pekerjaan mereka masing masing.


Di saat bersamaan, tidak jauh dari tempat Ozil bekerja, terlihat salah satu orang suruhan Sakurata sedang mengawasi keadan tempat kerja Ozil. Orang itu memang harus memantau setiap saat agar tahu gerak gerik targetnya di tempat yang dia awasi. "Sepertinya anak muda itu belum mengambil langkah apapun. Apa mungkin dia sedang bingung?" gumam pria yang sedang mengawasi. Setelah bergumam pria itu melangkah menuju mobilnya.

__ADS_1


Pria itu tidak sendiri. Ada satu pria lain yang menunggu di dalam mobil. "Bagaimana? Apa anak itu sudah bertindak untuk menemui bos kita?" tanya pria yang duduk di dekat alat kemudi mobil. Anggap saja itu adalah penjahat pertama.


"Mungkin dia sedang sibuk saat ini," jawab penjahat kedua. "Sampai detik ini sepertinya dia belum mengambil tindakan apapun. Dia malah terlihat biasa saja sikapnya."


Penjahat pertama nampak tercenung. "Apa mungkin dia tidak percaya dengan surat kaleng yang kita kirim?" tanyanya.


Penjahat kedua mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban kalau dia tidak tahu. "Bisa saja seperti itu. Mungkin kita dianggap main main."


"Sialan!" penjahat tiba tiba menunjukan murkanya. "Sebaiknya aku ngasih laporan dulu kepada bos," ucap penjahat pertama sambil meraih ponsel yang tergeletak di depannya.


"Apa! kamu yakin?" seru dokter Sakurata begitu mendapat laporan dari orang suruhannya. Saat ini dia masih berbicara melalui celuler dengan para penjahat yang mengawasi Ozil. "Baiklah, tetap awasi anak itu dan kalau perlu, kita lenyapkan saja wanita ini dan kita cari korban lain agar anak itu percaya kalau kita tidak sedang main main!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2