
Dua anak manusia yang sedang beranjak menuju dewasa, terlihat sedang menikmati sarapan mereka berupa nasi bungkus beserta gorengannya. Acara sarapan bersama itu diringi dengan obrolan ringan dari keduanya namun obrolan itu terlihat cukup serius. Meskipun kadang ada candaan yang membuat mereka bisa tersenyum lebar.
"Lalu, apa rencanamu saat ini?" tanya si pria yang lebih akrab dipanngil Ozil, setelah menghabiskan menu sarapannya.
Wanita yang bersamanya lantas tersenyum sejenak lalu berhenti menikmati makanannya dan menatap Ozil dengan tatapan seriius. "Tolong, biarkan aku tetap menginap disini, bisa, Bang?"
Ozil sedikit terkesiap. "Kamu tinggal disini? Tapi ini bukan rumah aku. Ini hanya ..."
"Aku tahu," si wanita langsung menerjang ucapan OZil hingga mulut pria muda itu berhenti berbicar secara mendadak. "Tapi ini satu satunya cara agar aku bisa terhindar dari penculikan lagi. Jujur aku pengin menyelidikinya, tapi aku nggak tahu harus minta bantuan sama siapa."
"Tapi kalau kamu tinggal disini, aku juga nggak punya alasan yang kuat pada bos aku."
"Kamu kan bisa mengatakan kalau aku hilang ingatan. Kamu tahu nggak, Bang, Kalau aku pulang dan nanti diculik lagi gimana?"
Ozil seketika terperangah. Namun saat itu juga Ozil mengingat pembicaraannya dengan lima hantu semalam. Ozil pun jadi memikirkan cara untuk menolong wanita ini. Penculikan yang terjadi pada wanita itu memang bukan penculikan biasa yang meminta tebusan sejumlah uang, tapi penculikan untuk orang yang ingin memiliki harta banyak serta ilmu ilmu hitam yang pastinya hanya untuk berbuat jahat.
__ADS_1
Mencari ilmu hitam juga sebenarnya tidak mudah. Bahkan banyak syarat aneh yang harus dipenuhi agar ilmu hitam itu bisa diterima dengan mudah. Belum lagi saat nanti sudah menerima ilmu hitam itu, akan ada syarat lain yang kadang bisa menggunakan nyawa manusia sebagai tumbal. Seperti contohnya yang sedang dihadapi para hantu dan satu wanita di sana. Ozil yakin, kalau para wanita itu akan dijadikan tumbal dalam sebuah ilmu hitam.
"Baiklah, nanti aku pikirkan jalan keluarnya," akhirnya Ozil mengambil keputusan yang membuat si wanita senang.
"Makasih ya, Bang," wanita itu tersenyum sangat lebar dan terlihat begitu cantik, membuat pria di hadapannya menjadi terpana. "Oh iya, nama asliku Seruni, Bang. Tapi kalau Abang mau manggil aku Seroja juga nggak apa apa."
Ozil langsung mengangguk. "Ya udah nanti aku carikan baju buat kamu sekalian aku mau bilang sama bos aku. Semoga sih ada ijin."
"Jangan, Bang," tolak Seruni. "Kalau Abang bisa, nanti antar aku ke apartemenku ya? Aku mau ambil beberapa baju dan juga uang buat pegangan."
"Iya, Bang, hati hati. Semoga sukses." Ozil hanya mengembangkan senyum manisnya lalu dia bergegas mengambil kunci motor dan segera keluar dari kamar. Begitu naik motor, Ozil langusng saja melajukan motornya ke rumah sang bos.
"Ozil!" pekik Mbak Anin yang saat itu berada di halaman rumah bareng anaknya, begitu melihat Ozil datang dan berhenti tetap di depan pintu gerbang rumah sang bos. Sejak mengalami peristiwa penculikan, pintu gerbang rumah itu selalu ditutup dan di kunci. "Ada apa? Tumben kamu pagi pagi kesini?"
"Mas Ari ada, Mbak? Aku ada perlu," jawab Ozil yang langsung masuk setelah pintu gerbang terbuka. Di saat yang bersamaan, orang yang dicari Ozil keluar dari rumah dan dia juga terkejut dengan kedatangan Ozil. Mbak Anin langsung mengatakan ke suaminya tentang tujuan Ozil datang ke rumah. Mereka lantas berbicara di taman sambil menjaga anak anak.
__ADS_1
"Begini, Mas, sebelumnya aku minta maaf jika permintaanku ini cukup lancang, tapi aku sendiri bingung dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan," ucapan Ozil membuat suami istri di hadapannya sontak sama sama mengerutkan kening.
"Ada apa, Zil? Apa kamu ada masalah?" tanya Mbak Anin.
"Nggak ada sih, Mbak, jadi gini," Ozil lantas mencriitakan tentang Seruni dan pertemuanya dengan sedikut berbohong kalau dia yang menolong Seruni dari penculikan. "Yang jadi masalah, dia sampai pura pura hilang ingatan agar tidak pulang ke rumah karena ini adalah kejadian yang ke dua kalinya wanita itu mengalami penculikan. Maka itu, aku bingung, Mbak, Mas. Dia sampai memohon agar bisa tetap tinggal sama aku."
"Dia sama sekali nggak mau pulang? Alasannya apa?" tanya Mas Ari.
"Ya itu, Mas, dia yakin kalau penculikan yang terjadi sama dia, didalangi oleh orang terdekat. Orang dia diculik saat lagi di luar negeri, kan aneh. Maka itu dia ingin diam diam menyeldiki gitu."
"Kalau dia nggak merepotkan kamu ya silakan, tapi bilang sama dia, harus menghadap kami dulu, ya?"
"Baik, Mas."
...@@@@@...
__ADS_1