
"Hotel!" pekik salah satu hantu begitu taksi yang membawa wanita bernama Gloria, berhenti tepat di halaman sebuah hotel mewah. Hantu itu dan hantu yang lain cukup terkejut karena wanita yang katanya sebentar lagi akan menikah, malah meninggalkan calon suaminya dan pergi menemui orang yang menelpon Gloria. "Ngapain dia kesini?"
"Daripada penasaran, mending kita cepat keluar, ayo," ucap hantu yang lain, dan mereka bergegas keluar dari taksi tak lama setelah manusia yang mereka ikuti juga turun dari taksi yang sama. Kelima hantu itu memperhatikan gerak gerik Gloria yang sedang melambaikan tangan sembari melangkah dan teersenyum kepada seseorang. Para hantu sontak ikut mengarahkan pandangan ke arah yang sama dengan Gloria.
"Hah! dia kan!" pekik Lili begitu melihat sosok yang akan ditemui oleh Gloria.
"Dia siapa, Li? Kamu kenal?" tanyya Melati.
"Dia itu suaminya dari Tentenya Gloria. Om Sin Ceng," jawab Lili dengan sangat antusias, tapi berhasil membuat ke empat hantu lainnya melongo.
"Waah! lihat! Nggak beres ini, suami tantenya sendiri aja disikat, apa lagi calon suaminya sepupu," celetuk Anggrek.
"Sepertinya ini saatnya kita ngerjaian sepupu kamu, Li," ucap Cempaka, dan semua mata langsung saling memandang. Tak lama setelahnya mereka pun tersenyum senang. Mereka bergegas mengikuti Gloria yang sedang bergandeng mesra memasuki hotel milik pria yang bersama Gloria.
"Aduh, Om ku sayang. Bisa sabar nggak? Aku mau mandi dulu nih, badanku bau," rengek Gloria. Karena begitu mereka masuk dalam kamar yang pastinya kamar paling mewah, Pria yang bersama Gloria langsung menyerangnya dengan menempelkan bibirnya di leher Gloria.
"Percuma mandi, kan kita mau bikin keringat, Sayang," ucap si Om dan dia terus memberikan serangan sampai gloria harus pasrah. "Seminggu nggak ketemu sama kamu, Om kangen banget tahu, Glo. Terumata sama jepitan lubang kamu."
"Hihihi ... bisa saja sih, Om. Tapi berlian yang aku minta, Om dapat, kan?"
"Tentu, sayang," Om San Ceng menjawab dengan sangat antusias. "Tapi kamu harus puaskan Om sampai malam nanti."
__ADS_1
"Dengan senang hati Om ku, sayang."
Akhirnya permainan panas pun terjadi di hadapan para hantu. Bukannya mereka merasa gatal atau bagaimana, Tapi para hantu justru dibuat jijik sama tingkah Gloria karena tega menjadi selingkuhan dari suami tantennya sendiri. Mereka juga sibuk memikirkan cara untuk memberi pelajaran pada wanita itu.
"Gimana? Kapan kita melakukannya, buat ngerjain mereka?" tanya Anggrek, yang sudah tidak sabar.
"Tunggu dulu, sebentar lagi," ucap Lili dengan senyum jahatnya. Hingga beberapa saat kemudian, tibalah waktu yang ditunggu oleh Lili. "Lakukan sekarang, Besti!"
"Siap!" dengan kompak keempat hantu langsung fokus pada pandangan dua tubuh yang sedang saling tindih.
"Akhh~ lubang kamu memang enak banget, Sayang," racau Om San Ceng sambil terus meyodok nyodok milik Gloria.
"Yang kencang dong, Om," pinta wanita yang tergeletak pasrah di bawah tubuh kekar Om nya.
"Kenapa, Om?"
"Batang aku nggak bisa keluar dari lubang kamu, Sayang," Om San ceng langsung panik.
"Jangan bercanda deh, Om, nggak lucu ih," ucap Gloria.
"Serius, Glo. batang Om nggak bisa keluar. Nih," San Ceng berusaha memundurkan pinggangnya, tapi hasilnya tiidak sesuai harapan, pingganya tetap nempel, tidak bisa digerakan.
__ADS_1
"Aduh, Om, tolong jangan bencanda sih," Gloria masih tidak mempercayainya meski wwajahnya juga sudah terlihat panik.
"Siapa yang bercanda, Gloria!" San Ceng malah jadi emosi. "Orang beneran nggak bisa keluar," pria itu terus mencobanya dan hasilnya sangat nihil.
"Aduh, Om, jangan gitu deh. Gloria takut," wanita itu semakin panik dan dia juga berusaha membantu Omnya agar bisa mengeluarkan batang dari lubang miliknya. Namun sayang, setelah beberapa menit berlalu dan keduanya tetap tidak bisa melepaskan tubuh mereka sampai Gloria menangis ketakutan.
"Mampus kalian!" umpat Lili penuh dengan kepuasan.
"Sudah, gini doang?" tanya Melati.
"Belum lah," jawab Lili. "Aku ada rencana tambahan."
"Apa itu?" tanya Mawar.
"Kita matiin ponsel mereka dan kita paksa agar mereka keluar dari hotel. Biar dunia tahu betapa busuknya mereka berdua."
"Wuih! ide yang keren tuh, Li," puji Cempaka, dan mereka langsung melakukannya.
Ternyata benar, mereka hendak menggunakan ponsel untuk menghubungi seseorang tapi semua alat komunikasi di kamar itu mati. Keduanya semakin frustasi. Salah satu hantu membuka pintu kamar sampai membuat keduany terkejut.
"Gawat! Kenapa pintu kamarnya terbuka sendiri!" sungut San Ceng. dan mau tidak mau mereka bergerak bersama untuk menutup pintu agar tidak ada yang melihat dengan apa yang mereka alami saat ini. Tapi sayang, begitu tubuh keduanya sampai di pintu, para hantu menghempas pelan tubuh mereka sampai keluar kamar dan pintu kamar tertutup kembali dengann kencang.
__ADS_1
"Tidak! Ini tidak mungkin, Tidak!"
...@@@@@...