HANTU-HANTU CANTIK

HANTU-HANTU CANTIK
Masih Di Area Mall


__ADS_3

"Apakah benar anda yang bernama Leo?"


Pria yang sedang mencuci tangannya di sebuah wastafel sontak menoleh. "Anda mengenal saya?"


"Saya tahu anda dari seseorang," jawab orang itu yang tak lain adalah Ozil. "Saya hanya ingin menyampaiakn pesan untuk anda."


Kening pria bernama Leo sontak berkerut. Tangannya mematikan keran air, lalu tubuhnya sepenuhnya menghadap ke Ozil. "Pesan? Pesan dari siapa?"


"Dari seseorang," ucap Ozil dengan degup jantung yang tidak karuan. "Dia cuma bilang Ole si tukang ngocok."


Mata Leo sontak membelalak, tapi tak lama kemudian tubuhnya bergerak dan langung mencengkeram kerah kaos Ozil. "Kamu siapa, hah! Dari mana kamu tahu nama panggilan itu?"


Mawar yang melihat Ozil sedang diancam malah terlihat khawatir, Ozil pun bingung mau menjelaskannya dengan cara seperti apa. "Apa anda percaya jika saya bisa melihat arwah Mawar, tunangan anda?" mau tidak mau, Ozil memang harus jujur dan pengakuan pemuda itu kembali membuat Leo membelalak.


"Apa maksud kamu?" tanya Ozil dengan suara agak tergagap. "Arwah Mawar?"


Ozil mengangguk. "Dia ada di belakang anda." Leo langsung melepas cengkramannya dan mengedarkan pandangannya ke belakang tubuh dia. "Apa kamu sedang membohongi saya?"


Mawar segera maju ke samping Ozil dan kembali mengatakan sesuatu. "Kata Mawar nama Ole si tukang ngocok dijadikan kata sandi wifi dan nama kontak anda karena tiap malam minggu anda minta jatah dikocokin."

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Leo kembali menunjukan rasa terkejutnya. "Jadi ... Mawar sudah ..."


"Kemungkinan belum," Ozil langsung mermotong ucapan Leo karena dia tahu apa sedang ada dipikiran Leo saat ini. "Kemungkinan Mawar belum meninggal. Cuma dia dalam keadaan koma."


"Apa? Terus dimana dia?"


"Saya sendiri kurang tahu, cuma dari ciri cirinya, kemungkinan besar Mawar belum meninggal."


Leo tercengang dan lututnya tiba tiba terasa lemas. Dia sampai terduduk di lantai. Tidak peduli ada mata yang memandangnya aneh, yang pasti pikirannya mendadak kacau saat ini. Bersamaan dengan itu, Melati dan Anggrek masuk menghampiri Mawar yang sedang menatap Leo dengan tatapan penuh kerinduan.


"Apa yang terjadi, War?" tanya Melati. "Apa dia sudah tahu tentang kamu?"


"Bang, bilang sama pria itu, kopinya jangan diminum," ucap Anggrek. "Karena sudah dikasih obat oleh cewek yang bersamanya."


Ozil mengangguk lalu menatap Leo. "Kopi yang tadi anda pesan, tolong jangan anda minum. Wanita yang datang bersama anda, telah mencampur sesuatu ke dalam kopi itu."


Leo langsung mendongak dan tatapannya langsung dipenuhi dengan amarah. Leo bangkit dan mengepalkan tangannya lalu beranjak keluar dari toilet. Ozil dan juga para hantu langsung saja ikut beranjak dari sana dan melihat Leo duduk di tempat yang sama, dimana Mauren telah menunggunya dan menyambut Leo dengan senyuman manis.


Namun senyum Mauren memudar saat matanya melihat Leo menukar minumannya. "Kenapa ditukar? Itu kan pesanan kamu tadi?" tanya Mauren agak terbata.

__ADS_1


"Aku berubah pikiran," jawab Leo dengan dinginnya lalu menyeruput kopi yang berbeda. Sedangkan para hantu langsung tersenyum senang. Tanpa mereka turun tangan, Leo malah mengambil sikap diluar dugaan. "Kenapa nggak di minum?"


"Aku lagi nggak selera dengan kopi ini," jawab Mauren masih dengan senyum yang dipaksakan agar Leo tidak curiga. "Aku mau pesen yang lain aja."


"Udah dipesen, nggak mau di minum!" hardik Leo.


"Orang aku lagi nggak selera dengan kopi ini," mauren masih memberi alasan yang sama.


"Sepertinya aku harus bertindak," ucap Anggrek sembari menatap Mauren dengan kefokusan yang tinggi. Saat Mauren mengangkat tangannya hendak memanggil pelayan, Anggrek mengendalikan tangan Mauren dan mengarahkannya untuk meraih kopi itu.


"Ini tanganku kenapa?" gumam Mauren dengan wajah terkejutnya. tangan itu terus bergerak meski Mauren berusaha untuk menahannya.


"Kamu kenapa? Katanya nggak mau minum kopi itu?" tanya Leo antara heran dan sebal.


"Nggak kenapa kenapa, kok," bodohnya Maruen, dia malah berbohong. Leo pun akhirnya kembali fokus kepada ponselnya. Tangan kiri Mauren yang hendak mencegah tangan kanannya juga dikenndalikan oleh Mawar. Mauren benar benar di bawah kendali hantu dan mau tidak mau dia menyeruput kopinya meski beberapa kali kepalanya menggeleng.


"Minum yang bener! jangan bertingkah memalukan seperti itu!" hardik Leo lagi, yang tidak tahan dengan sikap Mauren yang aneh. karena hardikan itulah, Mauren akhirnya menenggak setengah cangkir kopi yang sudah dia campur dengan obat perangsang.


"Mampus kau!" umpat Mawar dan semua hantu sontak terbahak.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2