Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 90. Where Are ‘You’?


__ADS_3

“Anna!”


Tyona menghentikan langkahnya untuk melihat siapa yang memanggil namannya. Darren dengan langkah cepat menghampiri tempatnya berdiri. Begitu jarak keduanya dekat, Tyona baru menyadari ada lebam dan luka sobek di ujung bibir kawannya.


“Wajahmu kenapa?”


Pria itu refleks menyentuh luka bekas bogeman Jeffrey tadi. “Ini, bukan apa-apa. Aku terpeleset tadi”


“Oh..” Tyona manggut-manggut, bingung hendak merespon apa.


“Kau baik-baik saja?”


Tak dinyana, Tyona justru terkekeh. “Bukan aku yang wajahnya lebam karena habis terpeleset. Mengapa kau yang bertanya seperti itu, Darren? Harusnya kan’ aku yang bertanya”


Darren ikut tertawa, namun detik berikutnya memekik karena nampaknya tawanya cukup lebar sehingga menimbulkan perih di luka bibirnya yang masih basah. Sontak saja tawa Tyona semakin kencang. Sembari menggelengkan kepala melihat tingkah ceroboh rekannya.


“Sayang? rupanya kau disini”


Tawa Tyona berhenti seketika begitu melihat Jeffrey menghampirinya dan memeluk pinggangnya. Darren bisa melihat dengan jelas gestur ketakutan di wajah ayu Tyona. Yang mana menurutnya janggal karena Anna yang ia kenal tak pernah terlihat takut apalagi kepala suaminya sendiri.


“Ah, ada Darren juga rupanya” Jeffrey menoleh kearah Darren, tersenyum lebar. “Omong-omong, kau terlihat berbeda dengan wajah lebam seperti itu”


Darren membuang muka, jika tidak ada Tyona disana sudah pasti ia akan membalas bogeman Jeffrey.


“Sayang, nanti sebelum pulang kita mampir ke supermarket, ya? aku ingin memakan masakanmu”


Tyona hanya mengangguk sebagai balasan. Netranya terus menghindari dari bola mata Jeffrey. Ia menunduk, pandangannya kelam. Bagaimana bisa ia bersikap biasa saja setelah perkosaan yang dilakukan oleh suaminya sendiri semalam? Jeffrey melakukannya seperti orang kesetanan. Tak ada kelembutan seperti biasa, tak ada kata-kata penenang yang menghapus sakitnya, tak ada pula sentuhan yang sarat akan cinta seperti dulu. Tak salah jika Tyona menganggap yang semalam bukan bercinta, namun pemerkosaan.


Tapi payahnya, keberanian Anna seperti menguap begitu saja. Jeffrey tidak bersikap kasar setelah aktivitas ranjang mereka. Sebaliknya, pria itu justru memperlakukannya lembut sekali. Namun itu justru membuat Tyona takut. Karena merasa sosok yang tinggal bersamanya bukanlah suaminya. Ia rindu Jeffreynya, ia rindu Jeffreynya yang dulu. Jeffrey yang sekarang tak hanya menghancurkan hati dan mentalnya, namun juga melemahkan Anna.


Ironis ketika psikiater yang seharusnya mengobati mental pasien, justru menjadi pelaku utama penghancur mental istrinya sendiri.

__ADS_1


“Begitu bahagianya memiliki istri yang tidak hanya cantik tapi juga hebat dalam segala hal. Kurasa kau harus mencari pendamping juga, Darren? Supaya lain waktu kita bisa double date”


Darren mendengus, ia berpamitan dan mengusap selamat jalan kepada Tyona saja sebelum berlalu. Seakan-akan Jeffrey hantu yang tak bisa ia lihat.


Sepeninggal Darren, raut wajah Jeffrey berubah sepenuhnya. Dengan genggaman kelewat erat, ia menghela Tyona menuju mobil untuk pulang.


“Aku tidak suka kau berduaan dan tertawa lepas seperti tadi bersama dengan Darren”


Tyona menoleh. “Kenapa? Kau iri karena aku tidak bisa tertawa lagi ketika denganmu?”


“Ck, ayolah Anna. Aku sedang berusaha memperbaiki pernikahan kita”


Airmata Tyona luruh, ia menggeleng lemah. “Kau tidak sedang berusaha memperbaiki pernikahan kita, tapi kau sedang berusaha memperbaiki image-mu sendiri”


“Jangan memancing pertengkaran lagi, kumohon”


“Pertengkaran ini tidak akan terjadi jika kau tidak selingkuh!”


“Aku lelah Jeff, aku sudah berkali-kali mengatakan padamu bahwa aku lelah sekali. Aku ingin Jeffreyku yang dulu. Yang menjadikanku ratu satu-satunya, yang tak pernah mempelakukanku secara kasar. Tapi percuma aku berharap, karena Jeffreyku sudah mati”


Tangan pria itu terulur hendak menggapai wajah Tyona, namun lawannya beringsut mundur membuatnya terpojok ke pinggiran pintu mobil. Hal itu membuat Jeffrey tertohok. Tyona menolak sentuhannya. Yang lebih buruknya lagi, Tyona terlihat takut akan sentuhannya.


**


Jeanno mimpi buruk! Ia tak ingat jelas seperti apa mimpinya, namun yang ia tau dirinya terbangun bermandikan keringat dan nafas yang tersengal-sengal. Detak jantungnya pun berlarian, kengerian itu tak juga hilang sekalipun dirinya sudah kembali ke dunia nyata.


Pria itu menilik jam yang baru menunjukkan pukul dua dini hari. Matanya menyapu sekeliling, kamarnya yang begitu lapang namun dingin. Membuatnya untuk kali pertama, tak nyaman berada dalam ruangan itu. Jeanno lantas menyingkap selimut untuk membuka pintu kamar Aera perlahan. Melihat sang putri terlelap sendiri, Jeanno kemudian melangkah menuju kamar yang berseberangan dengan kamar Aera. Tanpa perlu repot mengetuk pintu, ia bawa langkahnya masuk ke ruangan gelap yang samar-samar terlihat tubuh lelap perempuan berbalut selimut disana.


Judith yang setengah sadar, mengerjapkan matanya ketika merasakan sebuah lengan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Tak perlu ia bertanya siapa, dari aroma maskulinnya, Judith tau bahwa Jeannolah yang menelusup ke selimut untuk berbaring di sampingnya.


“Tuan?”

__ADS_1


“Kau bangun? Maaf membangunkanmu. Aku tidak bisa tidur”


Judith hanya mengangguk, tanpa perlu memutar tubuhnya. Ia biarkan saja posisi mereka seperti itu, tangannya memberikan afeksi kecil berupa usapan lembut pada lengan tuannya. Dan benar saja, tak berselang lama nafas Jeanno berubah teratur. Nampaknya sang Tuan tampan sudah berhasil terlelap lagi.


Dalam minimnya cahaya, Judith tersenyum. Dua setengah bulan berlalu dan cintanya akan Jeanno Alexander tumbuh tak terkendali. Ia tak ingin berharap lebih, namun terkadang ada kalanya momen seperti ini yang membuat Judith lancang untuk berharap sedikit, seperti bagaimana jika ternyata Jeanno juga memiliki perasaan yang sama sepertinya?


Bermodalkan bayangan indah itu, Judith tertidur dalam senyumnya. Menjemput mimpi dimana ia bisa bersatu dengan Jeanno tanpa adanya bayang-bayang Nayara.


**


“Kau habis darimana, Kak?”


Hannah yang sedang membaca buku lantas menoleh kearah Helga. “Ya?”


“Tadi siang Kakak kembali dengan wajah sembab. Jangan dipikir aku tidak menyadarinya”


Hannah berdehem, mencoba menghilangkan kegugupannya persis seperti maling yang tertangkap basah. “Kakak mencari makanan”


“Kalau mencari makanan kenapa lama sekali? Asal Kak Hannah tau, aku terbangun tidak lama setelah Kakak pergi. Lalu kembali hanya dengan segelas kopi hangat setelah pergi hampir satu jam. Memangnya Kak Hannah kemana?”


Hannah memalingkan wajahnya, mengatur nafas tak kentara supaya tak terlihat sedang berbohong. “Kakak berdiam di kafe seberang Rumah Sakit. Mengapa wajah Kakak sembab? Ya karena Kakak habis menangis. Menangisimu yang tak pernah sakit, sekalinya sakit harus operasi”


“Oh.. begitu. Tapi walaupun sakit aku tetap bahagia”


“Kenapa?”


Helga memeluk bonekanya seraya tersenyum lebar. “Karena sebentar lagi impianku bersekolah diluar negeri akan terwujud. Aku sudah menceritakannya pada teman-teman sekolahku yang lama, mereka semua iri padaku, Kak! mereka bilang aku beruntung karena memiliki calon kakak ipar yang tak hanya tampan dan kaya tapi juga baik seperti Kak Louis. Jika aku saja beruntung, apalagi dirimu Kak yang akan menjadi pendampingnya?”


Hannah tersenyum kaku. “Tidurlah Helga. Ini dini hari, kau habis operasi. Lebih baik kau istirahat”


Tapi Helga tak mengindahkan. Remaja tanggung itu justru semakin bersemangat mengeluarkan kata-kata pujian penuh antusias yang ditujukan untuk Louis. Tanpa ia tau kata-kata seakan pisau-pisau yang menyerang hati Kakaknya disana.

__ADS_1


**


__ADS_2