Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 104. Grow Old With You


__ADS_3

“Hari ini Mark keluar dari rumah sakit. Rencananya dia akan pulang dulu ke rumahnya sampai kondisinya benar-benar sembuh. Setelah itu barulah kembali ke apartemen. Ibu mengatakan aku bisa menginap sesuka hatiku. Aku senang sekali, Judith. Sejak masalah Louis selesai, kebahagiaanku seperti tidak ada habisnya. Aku akan segera menikah dengan pria yang kucintai, calon mertuaku menyayangiku, dan yang lebih penting aku sudah tidak lagi bekerja sebagai penari erotis. Bukankah ini kehidupan impianku?”


Pandangan Judith masih kearah bibir cangkir yang mengepulkan asap teh herbal yang ia pesan. Tubuhnya memang berada disini, di kafe dekat sekolah Aera tempatnya janjian bertemu dengan Hannah. Tapi pikirannya masih melalangbuana kepada kejadian semalam yang cukup mengguncang khayalannya.


“Sayang, kau oke? Kau mendengarku?”


Judith mengangkat netranya, ia ingin berkata tidak apa-apa, bahwa ia baik-baik saja. Tapi setelah bertemu dengan sepasang binar milik Hannah, alih-alih berpura-pura, pandangannya justru memburam akan airmata yang menggenang dan siap luruh. Tidak, Judith tidak bisa berpura-pura, setidaknya dihadapan Hannah.


“Astaga, sayang. Kau kenapa, hm?” Hannah lantas berpindah kursi kesisi sahabatnya. Dirangkulnya pundak gadis itu, bermaksud untuk membiarkan Judith meluapkan entah apapun yang mengganjal hatinya.


“Aku takut, Hannah. Aku takut sekali”


Hannah tidak serta merta menanyakan apa yang Judith takutkan. Perempuan itu lebih memilih untuk diam, mengusap punggung kawannya yang tengah terisak dipelukannya. Satu hal yang Hannah tau dari Judith, adalah sahabatnya jarang sekali menangis. Dan jika sudah menangis hingga sampai terisak seperti ini, berarti itu sudah sampai pada hatinya. Apakah ini karena Jeanno?


Cukup lama Judith menangis. Hingga gadis itu tenang dan mengangkat wajahnya, hal pertama yang Hannah lakukan adalah mengusap sisa airmata pada wajah cantik karibnya. Melihat Judith yang berantakan seperti ini, membuat Hannah turut bersedih.


“Aku tidak tahu kalau mencintai seseorang rasanya akan sesakit ini. Mengapa aku harus merasakannya”


Untuk selanjutnya, Judith menceritakan segala yang terjadi antara dirinya dan Jeanno. Cukup panjang karena memang mereka sudah lama tak saling berbagi cerita. Bibirnya terbata-bata dan terkadang airmata kembali luruh membasahi pipinya yang belum mengering. Hannah memperhatikan, mendengarkan dengan seksama.


“Aku mencintainya, Hannah. Aku sangat mencintainya” Judith kembali terisak. “Tapi aku tak lebih dari bayangan mendiang istrinya yang tak akan mampu menjadi kenyataan”


Hannah kembali memeluk Judith. Sesungguhnya ia bingung hendak merespon apa. Karena Hannah tahu betul perkataan sebagus apapun tidak akan mengobati luka dihati Judith yang ditorehkan oleh pria yang dicintainya. Hannah menghela nafas samar, inilah yang ia takutkan. Ketakutannya menjadi kenyataan ketika Judith memutuskan untuk menerima perjanjian gila ini.

__ADS_1


Pada akhirnya Judith kehilangan jati diri, berada dipersimpangan antara sosok Judith dan Nayara. Bukan hanya Judith, namun Jeanno juga sepertinya gamang. Bimbang apakah perhatian yang ia curahkan selama ini hanya karena Judith mengingatkannya kepada Nayara, atau karena Judith adalah Judith?


Hannah berpikir, takdir macam apa yang dituliskan untuknya dan dua sahabatnya. Bagaimana bisa mereka bertiga mengalami kisah cinta yang penuh halang rintang. Apakah ini ganjaran karena telah menjalani pekerjaan kotor selama bertahun-tahun? Renatta yang dikiranya bahagia karena memiliki kekasih, ternyata kekasihnya adalah suami wanita lain. Judith yang ia kira perempuan tegar yang tak mengenal cinta, sekejab lemah dan rapuh di tangan pria asing yang masih bergelut pada masa lalunya. Sementara dirinya sendiri, nyaris menikah dengan pria yang tak dicintainya. Syukurlah sekarang badainya sudah selesai, ia melihat pelangi sekarang.


Tapi bagaimana dengan ‘badai’ Judith dan Renatta?


Kapan mereka berdua akan melihat pelangi?


**


“Ya, aku sekarang sudah berada di toko perhiasan sedang mengambil pesananmu. Iya nanti akan kuantar langsung ke rumah sakit, kau cerewet sekali”


Jeanno menutup sambungan telpon dari Mark. Kemudian melangkah menuju counter yang disambut oleh pegawai berpakaian hitam yang tersenyum ramah. “Saya ingin mengambil cincin pesanan atas nama Marco Sebastian”


Sembari menunggu, netranya fokus akan barisan berlian yang berada di balik kaca. Ia tak pernah memiliki kesempatan untuk melihat Nayara memakai perhiasan-perhiasan yang dibelikan untuknya. Membuat barang itu teronggok dingin di lemari, tanpa ada yang menyentuh.


Jeanno tersenyum sendu, membayangkan betapa cantiknya jika berlian itu melekat di tubuh Nayara. Tapi pada kenyataannya, istrinya tetap cantik bahkan tanpa barang mewah yang melekat disana. Nayara cantik apa adanya. Dan itu salah satu yang membuat Jeanno mencintainya sampai mati.


Bicara Nayara, Jeanno teringat pesannya tadi malam. Apakah dirinya terlalu kasar pada Judith? Pagi tadi ia tak melihat gadis itu di ranjang. Pastilah Judith sudah berpindah lebih awal sebelum dirinya atau Aera bangun. Sewaktu sarapanpun ia bisa melihat raut sendunya, sekeras apapun Judith berusaha menyembunyikan. Intinya, Judith tak seceria biasanya.


Dalam kecamuk pikirannya, Jeanno menangkap sebuah kalung sederhana namun tetap cantik dengan batu berlian berukuran pas yang mengkilap. Haruskah ia membelikan satu untuk Judith? Ya, mungkin Jeanno harus memberikan apresiasi karena wanita itu sudah bekerja dengan baik. Anggap saja ini adalah hadiah seorang atasan kepada karyawannya, bukan begitu?


“Boleh saya melihat kalung itu?”

__ADS_1


**


Hannah terkejut bukan main ketika membuka pintu kamar rawat Mark. Bukan karena kondisi Mark yang memburuk, Oh Tuhan jangan sampai itu terjadi. Namun karena kondisi kamar itu yang berbeda dari terakhir kali ia melihat. Kamar Mark didekor dengan banyak balon berwarna putih dan merah muda, kemudian pada meja yang didepan sofa terdapat buket mawar berwarna merah muda yang berukuran besar. Juga diatas nakas disamping ranjangnya.


Akan tetapi ranjang itu kosong. Tidak ada Mark diatasnya. Kemana ia? Baru ketika Hannah hendak berbalik untuk mencari Mark di kamar mandi, pintu terbuka. Menampakkan Mark dengan balutan kemeja dan jas yang rapi sekalipun berada diatas kursi roda. Dibelakangnya, ada Jeanno yang mendorong kursi roda sepupunya, kemudian disusul Maria dan Jose.


“Mark…”


“Aku berpikir bahwa lamaranku sebelumnya sangat tidak romantis dan jauh dari banyak persiapan. Aku ingin melakukannya diluar, di restoran mewah ditemani instrumen yang romantis. Tapi aku sadar jika aku harus melakukannya lagi, maka tempat inilah yang aku pilih. Disini saksi bisu perjuangan kita. Kau yang sabar merawatku, aku yang berjuang untuk sembuh. Aku ingin melamarmu di tempat yang memberikan kita arti berjuang bersama-sama. Aku sungguh-sungguh tidak sabar untuk mengikatmu, Hannah”


Hannah menutup mulutnya ketika tangan Mark mengeluarkan kotak cincin dari saku jasnya. Sebuah cincin cantik yang tersimpan apik disana.


“Aku ingin menghabiskan sisa umurku, membangun keluarga kecil-atau keluarga besar yang bahagia, aku ingin kaulah perempuan yang aku lihat disetiap bangun tidurku. Dari sekian banyaknya perempuan diluar sana, hanya kaulah yang aku inginkan untuk menjadi teman hidupku. Ayo menua bersamaku. Hannah.. Maukah kau menikah denganku?”


Hannah terlalu gugup untuk menjawab ‘ya’. Jadilah gadis itu hanya mengangguk-angguk, bahkan terlalu bahagia hingga ia mengangguk terlalu banyak. Ketika tangan Mark meraih cincin dari kotak, Hannah secara refleks mengulurkan tangannya. Membiarkan Mark menyelipkan benda itu ke jari manisnya.


Semula hanya ada mereka berlima, namun entah sejak kapan dibibir pintu yang dibuka lebar, sudah ramai para tenaga medis, juga beberapa orang lain yang menjadi saksi lamaran seadanya ala Mark Sebastian. Semua bertepuk tangan ketika Hannah bersimpuh, sejajar dengan tinggi Mark yang duduk di kursi roda.


“Aku mau menua bersamamu, Mark Sebastian”


Tepuk tangan itu semakin riuh ketika dua insan berbalut cinta itu saling berpelukan. Maria tak dapat menyembunyikan rasa harunya, sementara Jose membuang muka. Terlalu malu jika ketahuan menangis. Jeanno tak henti tersenyum, turut bahagia karena pada akhirnya Mark berhasil menjemput bahagianya sendiri.


**

__ADS_1


__ADS_2