Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 142. Second Chance


__ADS_3

Bertemu dengan Jeanno bukanlah ide yang baik. Judith tidak yakin apakah ia bisa bertatap muka lagi dengan sang tuan muda, tanpa mengingat saat manis sekaligus pahit mereka. Tapi seperti yang sudah ia tekadkan semalam, lebih baik barusaha dulu untuk memberi pria itu dua miliar, sisanya akan ia angsur secepat mungkin. Karena bagaimanapun ini adalah lingkaran permasalahan mereka, sangat tidak adil jika ia menyeret Mark dan Hannah dalam kesulitannya.


Oh, sebelum menginjakkan kaki ke gedung perkantoran milik Jeanno, Judith telah memutuskan untuk mengubah gaya rambut dan berpakaiannya. Ia melepas hair extension yang selama ini dipakai supaya rambutnya menyerupai model milik Nayara. Dilepas dan dirapikan potongannya hingga sebatas pundak. Lalu gaya berpakaiannya pun sudah ia tanggalkan dari gaya khas Nayara. Tentu saja tidak seseksi Judith dulu.


Nora tergagap ketika melihat Judith yang datang dengan topi dan masker. Tidak perlu menanyakan apa keperluannya, karena sudah pasti tujuannya untuk bertemu dengan si tuan muda.


“Maaf nona Judith, aku harus memberitahu tuan dulu apa berkenan untuk bertemu denganmu atau tidak”


Judith mengangguk. “Tanyakan dulu saja, Nora. Katakan padanya, aku minta waktu sebentar. Kalau tuan tidak berkenan juga tidak apa-apa”


Nora mengangguk, mengangkat telpon yang akan membawanya kedalam ruangan Jeanno. Usai percakapan singkat, sang sekretaris menutup sambungan itu.


“Tuan menginjinkan. Tapi maaf nona, kalau sekiranya mood tuan sudah tidak baik, lebih baik nona cepat-cepat saja pergi, ya?”


Tidak ingin mengingat perkelahian telak antara Mark dan Jeanno beberapa hari silam, Nora memutuskan untuk memberi peringatan kepada Judith. Yang dibalas wanita itu dengan anggukan dan ucapan terimakasih sebelum masuk ke ruangan Jeanno.


Yang menurut Nora Judith baru saja masuk ke kandang singa.


**


Bohong jika Jeanno mengatakan tidak merasakan apa-apa ketika melihat Judith di depan matanya. Ada getaran aneh, entah apa. Bukan luapan emosi, bukan juga buncahan kekesalan yang tertanam belakangan ini. Getaran itu meluluhkan, melemahkan pertahanannya. Sosok di hadapannya bukanlah perempuan berpenampilan seperti Nayara. Di depannya Judith, atau.. Aleta. Yang telah kembali menjadi dirinya sendiri. Berbeda dengan Judith yang pertama kali datang dengan tanktop dan jeans sobek ketika menandatangani kontrak kerja, Judith yang sekarang terlihat kurus, pucat dan.. menyedihkan.


“Wah, ada kejutan menarik hari ini” Jeanno menarik bibirnya kesamping, membentuk seringai dingin.


Judith berdehem, merasa tenggorokannya kering dan semua yang ia rapalkan menghilang begitu saja. Ia gugup setengah mati. Rasanya seperti ingin menangis. Tapi sekali lagi, ia harus mencoba menawar, setidaknya sekali.


“Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu tuan”


“Apa maumu? Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran”


Masih dengan pandangan menunduk, Judith memilin jemarinya. “Mengenai uang kompensasi yang tuan minta, saya baru ada dua miliar. Sisanya… jika berkenan, saya minta waktu”


Jeanno tidak langsung menjawab, membuat Judith semakin keras mendengar detak jantungnya sendiri. Bisa ia rasakan pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari meja menuju tempatnya berdiri. Apa Jeanno akan memukulnya?


“Aku ambil dua miliar itu. Lalu sisanya, mau kau bayar kapan?”


Sejujurnya, Judith sendiri tidak tahu persis kapan waktu yang harus ia janjikan. Dua miliar saja sudah meludeskan tabungan yang ia kumpulkan sejak lama, satu miliar dalam waktu yang singkat tentu saja hal mustahil. Terlebih ia sudah bertekad untuk tidak kembali ke dunia malam.


“Apa kau.. akan kembali menjadi wanita malam lagi untuk membayarkan sisanya?”


Judith masih menunduk, tak ingin, sekaligus tak berani jika memandang Jeanno yang sekarang sudah berada di depannya.


“Kalau aku bertanya, jawab”


Jeanno yang agaknya gemas dengan kebisuan Judith, lantas menarik dagu lawan bicaranya untuk diangkat sejajar dengan pandangannya. Ada bersitan rasa bersalah melihat mata itu memandangnya penuh ketakutan. Apa dia.. semenakutkan itu?


“Aku… akan memikirkan caranya”

__ADS_1


Jeanno tidak tahu kemana Judith selama satu minggu terakhir ini. Perempuan itu seperti hilang tanpa kabar. Bahkan Mark yang sepertinya lebih tahu mengenai kabar Judith, membuat Jeanno mendecak kesal. Mark tidak hanya memutuskan persaudaraan mereka hanya untuk membela Judith, tapi juga pria itu berada disisi Judith pada masa sulit perempuan itu, membuat amarah Jeanno kembali meletup. Dilepasnya dagu Judith sedikit kasar sebelum ia membuang muka kearah lain.


“Satu bulan. Aku mau uangku satu bulan lagi. Dan jangan coba-coba meminjam Mark untuk menggenapi kekurangannya. Atau kau akan tau akibatnya”


Judith mengangguk cepat. “Terimakasih, tuan. Saya.. pamit”


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Judith berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan Jeanno. Sebelum kehadiran pria itu merenggut lebih banyak kewarasan dan tenaganya, lebih baik ia keluar selagi kakinya masih sanggup berjalan.


**


Nayara tidak mengerti mengapa Arjuna mengarahkan motornya bukan ke rumah sakit, namun ke jalanan pinggiran kota yang terbengkalai.




“Arjuna?”*



Yang ditanya tidak menjawab. Alih-alih berhenti, Arjuna justru memasuki area jalan itu hingga bertemu dengan gedung bekas. Dari balik gedung, sudah ramai muda-mudi dengan motor mahal mereka masing-masing. Seketika perasaan Nayara memburuk. Apa Arjuna membohonginya?*



Motor pemuda itu terhenti tepat di depan gerombolan, tepatnya dekat dengan pria berpostur tegap dengan bekas luka di pipinya. Dibukanya helm full face yang membungkus kepalanya sedari tadi. Ia melirik ke belakang. “Sebentar ya, Nay. Aku ada urusan. Bisa buka helm-mu?”*




“Nay, pinjam helm-mu sebentar”*



Nayara memandang teman suaminya beberapa lama. Hingga pada akhirnya ia melepas helmnya. Nayara tidak menyadari interaksi mata antara Arjuna dengan pria yang berdiri di samping motor Juna.*



“Pakai lagi, Nay”*



Nayara menurutinya. “Jun, bisakah kita ke rumah sakit sekarang? Aku takut Jeanno sudah menunggu”*



“Iya sebentar ya?” Arjuna memang menyalakan mesin motornya. Membuat Nayara bernafas lega dan merasa bersalah karena telah berprasangka kepada pemuda itu. “Pegangan, Nay”

__ADS_1


Ketika Arjuna telah siap dengan motornya, pria yang sedari tadi berkomunikasi dengan Arjunapun melakukan hal yang sama.*



“Ingat, Ethan, kalau kau kalah, motor dan mobil barumu untukku”*



Pria yang disapa Ethan itu, terlihat menyeringai dari balik helmnya. “Jika aku menang, kau harus menyerahkannya sesuai kesepakatan”*



Nayara baru menyadari bahwa Arjuna menyalakan mesin motornya bukanlah untuk membawanya ke rumah sakit, melainkan untuk melakukan balapan liar dengan entah siapa. Terlambat untuk meminta turun, karena Arjuna sudah lebih dulu menarik gas motornya dan melesat kencang.*



***



Henry membuang nafas kasar ketika ponselnya berkedip beberapa kali. Mengganggu kegiatannya yang tengah mengerjakan skripsi yang lama tak disentuhnya. Benda pipih itu menunjukkan adanya beberapa notifikasi pesan dari kawan lamanya.




Nicho – online*



Hen, kau tidak ke arena?


Ada Arjuna disini. Dia sedang melakukan satu putaran dengan Ethan.


Tapi dia tidak sendiri, temanmu menawarkan seorang gadis untuk Ethan


Jika memenangkan pertarungan*


*



Dibawah pesan itu terdapat pesan foto yang menampilkan motor Arjuna dan seorang perempuan dibelakangnya.*



‘Nayara?’*

__ADS_1



__ADS_2