Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 154. He Never Left


__ADS_3

Denting jarum jam yang merangkak menuju dini hari, menjadi satu-satunya suara yang menemani Jeanno kala ia tidak kunjung terlelap. Matanya seakan enggan menutup, padahal malam-malam yang sudah berlalu ia tergolong kurang tidur. Tapi mengapa rasanya kantuk tidak sudi menyapanya? Sungguh, ia lelah sekali dan butuh tidur nyenyak.


Entah sudah berapa kali Jeanno mengganti posisi tidurnya. Ranjang yang biasa ditidurinya, dirasakan memiliki permukaan keras dan sprei yang kasar. Membuatnya tidak nyaman terlelap dalam posisi apapun. Sementara si kecil sudah berkelana kealam mimpi sejak jam sembilan malam.


Mendecak frustasi sembari menendang udara kosong, Jeanno memutuskan untuk bangkit dan keluar kamar. Menyadari bahwa ia sudah menanggalkan akal sehatnya, pria itu melangkah menuju kamar yang dulu ditinggali Judith. Perlahan ia membuka pintu dengan hati-hati, seakan masih ada eksistensi perempuan itu didalam sana. Walau pada nyatanya, ruangan itu hampa.


Keadaan kamar itu masih sama seperti kala terakhir ditinggalkan Judith. Jeanno melarang asisten rumah tangganya membereskan. Hanya diperintahkan dibersihkan, tanpa ada satu barangpun yang dipindahkan. Entah apa tujuan Jeanno, ia hanya mengikuti kata hatinya.


Didorong lelah yang tak tahu bagaimana cara menghilangkannya, Jeanno merebahkan tubuhnya di ranjang Judith. Menyadari bahwa masih ada sisa aroma perempuan itu dikain sprei yang masuk dalam indera penciumannya. Aroma yang entah mengapa mampu membuat dirinya sedikit rileks. Sayup-sayup denting jam mampu membawa kantuk menyambangi. Entah karena aroma tubuh Judith, atau karena sudah waktunya tidur, dalam hitungan sekon, mata pria itu menutup. Membawanya terlelap dengan damai bak bayi yang baru lahir.


**


“Selamat pagi”


Judith yang tengah membersihkan display, sedikit terlonjak mendengar ketukan Owen pada pintu kaca tokonya. Karena masih tutup, Judith melangkah mendekat guna membuka kunci pintu, membiarkan pria itu masuk.


“Maaf mengganggumu. Aku hanya ingin menyampaikan kalau ibuku sangat suka pastry buatanmu. Katanya itu adalah pastry terenak yang pernah ia makan”


Senyum Judith merekah, membuat mata kelincinya berbinar lucu. “Benarkah? Tolong sampaikan pada Bibi kalau aku sangat berterimakasih beliau menyukainya. Apa Bibi ingin lagi? Kalau iya aku buatkan rasa apapun yang Bibi inginkan”


Owen terkekeh, melihat bagaimana antusias Aleta yang tak ubahnya mirip anak kecil yang diberi mainan baru. “Ibuku penasaran dengan rasa yang lain. Mungkin nanti siang aku akan membawanya pulang”


“Kau pulang jam berapa? Biar nanti kubuatkan yang baru supaya hangat dan lebih terasa enak”


“Mungkin setengah dua belas? Tapi apa tidak apa-apa? Kau kan bekerja sendirian”

__ADS_1


Judith menggeleng semangat. “Tidak apa-apa. Aku bisa mengatur waktu. Sekali lagi, terimakasih banyak, Owen”


Lawan bicaranya mengangguk-angguk. “Iya. Dan ini.. aku membawakan sarapan untukmu. Kata Ibuku sebagai bentuk ucapan terimakasih karena telah membuat pastry yang enak dan sebagai ucapan selamat untuk pembukaan tokomu”


Judith mengambil paperbag berisi kotak makan yang aromanya mampu membuat perutnya berbunyi dan liurnya menetes. “Harum sekali, pasti enak. Terimakasih, Owen. Terimakasih juga untuk Bibi”


“Iya, akan kusampaikan. Jam buka tokomu masih lama kan?” Judith mengangguk. Membuat Owen mengusap tengkuknya canggung. “Bagaimana kalau kita.. sarapan bersama? kebetulan aku juga dibawakan bekal tapi belum kumakan”


“Boleh. Mau sarapan dimana?”


Bersorak dalam hati, Owen menahan kegirangannya jika tidak mau dicap aneh oleh Judith. “Di kafeku? Aku juga ingin mengenalkanmu pada menu-menu andalanku, bagaimana?”


Judith meresponnya dengan anggukan singkat. “Boleh, ayok”


**


Judith merebahkan tubuhnya ke kasur, memijat pundaknya perlahan untuk mengusir pegal yang menghampiri. Hari ini tokonya bersih, tersisa tujuh kotak kue yang ia bagikan kepada tukang parkir dan orang yang sekiranya kurang mampu. Dirinya tidak merasa rugi, memang sejak awal dibuka ia sudah bertekad untuk berbagi kepada yang kekurangan, walau jumlahnya tak seberapa.


Bertemu kasur setelah seharian bekerja, membuat Judith bahagia bukan main. Spreinya berkali lipat terasa lebih lembut. Membuatnya tak sabar untuk menjemput lelap, supaya esoknya bisa menyambut pagi dengan segar.


Seperti rutinitasnya sebelum tidur yang ia lakukan tiga bulan terakhir, Judith memandang langit-langit kamarnya. Sembari berbagi cerita dengan sang ‘kakak’.


“Hari ini tokoku ramai. Aku melihat beberapa pembeli adalah pembeliku yang kemarin. Jika mereka kembali, itu artinya mereka menyukai kueku kan, Kak?”


“Orang-orang disekitar toko juga sangat baik. Owen, pria yang kuceritakan kemarin, dia terus membawakanku masakan ibunya hampir setiap hari. Sungguh aku tidak enak, maksudku, aku hanya menjual pastry kesukaan ibunya, tapi kenapa ibunya begitu baik padaku? Aku sampai bingung bagaimana cara membalas budi. Tapi Owen bilang cara membalasnya hanyalah memakan masakan yang sudah Ibunya bawakan. Omong-omong, masakannya enak sekali. Bahkan lebih enak dari buatanku”

__ADS_1


Judith tersenyum, kembali teringat hari-harinya yang ia lewati bersama Owen, si teman baru. Beberapa hari saling mengenal, Judith mulai memahami sifat pria itu yang sehangat matahari. Awalnya ia sudah berprasangka terhadap pria itu, tapi ia tepis mengingat perlakuan Owen padanya. Dan lagi ia terlihat sangat menghormati ibunya, berarti ia juga menghormati perempuan. Judith berpikir, sepertinya menjalin pertemanan dengan orang baru bukanlah ide yang buruk.


“Bagaimana kabarmu disana, Al? Aku yakin kau baik-baik saja, karena kau sudah berada bersama Tuhan. Tolong jaga aku disini ya? Seperti Tuhan menjagamu disana..”


“Alana.. aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Memang hasil yang kudapat tidak seberapa dibanding menari dulu, tapi beban moralku tidak seberat ketika aku bekerja di Victoire. Sekarang, aku bisa melalui hariku dengan tenang walaupun….”


Judith menggantung kalimatnya. Ragu apakah ia akan melanjutkan atau tidak. Jemarinya naik, meraba liontin pemberian pria yang sampai sekarang menempati tahta tertinggi di hatinya.


“… Alana, aku masih belum bisa melupakannya. Bagaimana ini? Aku sudah tidak bertemu dengannya lama sekali, tapi bayangannya masih betah di benakku. Maafkan aku, tapi aku merindukannya. Aku merindukan suamimu, Alana”


Judith memiringkan tubuhnya, dibawanya pendant itu ke bibir, dikecupnya cukup lama. Ada kalanya dimalam-malam sunyi seperti ini, benak Judith kembali teringat pada eksistensi pria jauh disana yang susah payah ia lupakan. Teringat kala tubuh mereka saling mendekap untuk menjemput malam. Teringat dengan obrolan sebelum tidur, topik apapun itu. Teringat ketika ia berbagi kasih, yang puncaknya menyebutkan nama satu sama lain dalam syahdunya malam. Judith tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa rasa itu tak pernah padam. Ia masih, masih sangat mencintai Jeanno Alexander. Kerinduan yang terkadang menusuk ulu hati. Kerinduaan yang terkadang mengikis akal sehatnya, membuat Judith ingin pulang ke kota itu untuk bertemu tatap dengan sang pujaan.


Cinta yang ia simpan itulah, yang membuat Judith dengan hati lapang telah memaafkan kesalahan Jeanno, sekalipun tak ada kata maaf yang terucap untuknya.


Jeanno sedang apa? Apa tidurnya teratur? Apa makan-makanannya bergizi? Apa dia sehat-sehat saja?


Pertanyaan-pertanyaan itu, kerap kali menggantung setiap ia sedang berbicara dengan Mark ditelpon. Karena tidak mungkin jika menanyakannya kepada Hannah. Deretan pertanyaan berupa rasa ingin tahu, yang pada akhirnya tak terucap. Membuatnya hanya bisa menebak-nebak jawaban dari pertanyaannya sendiri. Berakhir pada satu jawaban sederhana.


Semoga Jeanno baik-baik saja.


Judith tidak berharap kisah cintanya bak dongeng dimana si tuan putri bersanding dengan pangeran kaya dan tampan. Tidak, mengingat ia sendiri bukan seorang putri raja. Ia hanyalah perempuan biasa yang sudah berapa kali terjamah tangan pria. Jeanno berhak mendapatkan wanita dengan masa lalu yang bersih. Aera pantas mendapatkan wanita baik-baik sebagai pengganti ibunya.


“Alana, bisakah kau bantu aku untuk ‘bicara’ kepada Tuhan supaya cinta ini dipadamkan? Aku lelah sekali.. Aku ingin melupakan Jeanno”


**

__ADS_1


__ADS_2