
“Kau yakin dengan hal ini, Jean? Jika tidak, kita masih punya sedikit waktu. Kau bisa mengirim pengacara kita untuk bicara ke publik”
Bibir Jeanno tersungging senyum tipis. Sudah kesekian kalinya sang sepupu menanyakan hal serupa dalam kurun waktu dua jam sebelum konferensi pers dimulai. Tersirat jelas pula bagaimana cemasnya Mark, seakan Jeanno sedang menunggu detik-detik eksekusi. Mengharapkan si Alexander mengurungkan niatnya, namun jawaban Jeanno tetaplah sama.
“Sudah terlambat, Mark. Imageku sudah hancur. Jika aku mundur, mereka akan menganggapku pengecut dan itu akan memperburuk segalanya. Lebih baik aku akhiri sekarang”
Jeanno menilik arloji, masih kurang dari satu jam konferensi pers dimulai. Namun ia bisa melihat riuhnya lalu lalang awak media yang tak sabar mendengar penjelasan dari bibir Jeanno sendiri.
“Lagipula…”
Pria tampan itu menoleh, memandang sepupunya lamat-lamat. “…. Aku sudah lelah lari, Mark”
**
Jeanno ingat bagaimana gugupnya ia menjelang pemberkatan pernikahannya dulu. Segala hafalan janji suci yang seharusnya ia lontarkan, justru bertumpuk dalam benak membentuk kalimat yang acak. Jeanno ingat bagaimana ia tak pernah merasakan kegugupan luar biasa dalam hidupnya, yang mana datang pada hari pernikahannya. Disana, disampingnya kala itu.. ada Nayara yang diam-diam menggenggam tangannya. Mengaitkan jemari mereka tanpa satu patah lisan terucap. Jangan ditanya, efek sentuhan kecil itu mampu mengikis kegugupan Jeanno. Membuat proses pemberkatan berjalan lancar.
Jeanno ingat, bagaimana kegugupan yang sama kembali menghampiri ketika ia menunggu vonis dokter dikala Nayara krisis. Berbeda dari gundah-gundah yang lalu ketika Nayara ada bersamanya dan mampu menihilkan cemasnya, sekarang ia berdiri sendiri. Merasakan separuh tubuhnya membeku dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Berharap ada tangan Nayara yang meraihnya, memberikan dukungan tak kasat mata yang mampu mengangkat beban pundaknya. Walau pada kenyataannya, tangan itu tak pernah bisa menggapainya lagi.
Sekarang, ketika kegugupan itu kembali muncul, Jeanno berharap ada uluran tangan dari seseorang yang bisa menenangkannya. Jika dulu ia berharap sosok itu adalah Nayara, maka berbeda dengan sekarang. Ia berharap Judith yang datang. Sisi egois dalam dirinya berharap Judith mengetahui apa yang terjadi padanya, dan bersedia menyusul kemari. Tidak muluk-muluk mengharapkan gadis itu kembali padanya, setidaknya melihat Judith datang, agaknya mampu meringankan gugupnya, seperti yang Nayara bagi padanya dulu.
Pria itu tak ingin berharap banyak, namun apa yang ia pikirkan tak sejalan dengan apa yang ia inginkan. Dibuktikan beberapa kali Jeanno melihat kearah pintu.
Lima menit sebelum acara, pintu yang terbuka tak kunjung menampakkan sosok yang ia tunggu. Dirinya tersenyum kecut, menyadari mungkin ia memang tak cukup berharga untuk membuat Judith meninggalkan rutinitasnya sejenak. Mungkin dirinya sudah tak lagi istimewa dimata Judith. Mungkin apa yang Jeanno lakukan dulu sudah tak termaafkan.
__ADS_1
Mungkin… inilah karma yang pantas ia dapatkan.
“Jeanno…”
Cukup memandangi daun pintu, atensi Jeanno mengarah pada Mark yang selalu setia menemaninya.
“Sekarang waktunya”
**
Judith mendecak frustasi. Kesalahan rute yang diambil oleh supir taksi yang ditumpanginya, yang rupanya berbarengan dengan konvoi kelulusan pelajar menengah atas membuat kondisi jalanan macet. Parahnya lagi belum ada ada petugas kepolisian yang turun kejalan untuk menertibkan, membuat lalu lalang bergerak kacau. Saling serobot berujung kemacetan yang membuatnya tak bisa kemana-mana.
Dalam keadaan genting seperti ini, ponselnya mati. Bodohnya ia yang lupa membawa charger akibat kepergiannya yang mendadak. Mulanya Judith tidak berniat untuk menyusul Jeanno. Semalaman ia berpikir untuk tetap berada di apartemennya yang kecil namun nyaman. Berpikir untuk tidak lagi masuk kelingkup Jeanno Alexander. Bahwa Jeanno hanya masa lalunya yang kelam. Malam itu ia mencoba terlelap, hanya untuk bangun dalam keadaan banjir keringat akibat mimpi buruk. Dalam mimpinya Jeanno dan Aera sedang berlari kearahnya, siap memeluk Judith dengan raut wajah bahagia. Hanya tinggal selangkah menjangkaunya, tanah yang dipijak Jeanno dan Aera runtuh, membuat keduanya jatuh kebawah. Hilang selamanya.
Setidaknya Jeanno tau dirinya tidak sendirian.
Tak henti mengetuk kakinya gelisah, sudah pasti konferensi pers sebentar lagi akan dimulai dan taksi yang ditumpanginya tak ada tanda-tanda bergerak. Mengesampingkan akal sehatnya, ia lantas membayar sang supir kemudian membuka pintu keluar. Setengah berlari melewati kendaraan lain yang terjebak macet. Ia tak mengenal daerah sana, tapi yang Judith pikirkan hanyalah menjauh dari jalur macet. Berharap menemukan pangkalan ojek atau kendaraan apapun yang mampu membawanya menuju Jeanno.
Ia tidak ingin terlambat untuk kali ini.
**
Para rekan media yang semula hening kini saling bersautan ketika pintu dibuka dan menampilkan sosok yang mereka tunggu, tengah berjalan kearah podium. Kedatangan Jeanno disambut flash kamera yang berebut menusuk mata. Namun agaknya hal itu sama sekali tidak kelihatan mengganggu Jeanno. Pria itu tetap terlihat berwibawa seperti biasa. Seperti tidak sedang melakukan kesalahan yang publik tuduhkan.
__ADS_1
Seorang pria dengan setelan rapi yang berdiri disamping podium, bertugas sebagai moderator yang mengangkat tangannya usai Jeanno sudah berada di tempat. Mengisyaratkan supaya rekan media hening, karena acara akan segera dimulai.
Jeanno memejamkan matanya beberapa sekon. Menguatkan diri bahwa ini bukanlah akhir segalanya. Setidaknya usai pengakuan dosa, bebannya sudah terangkat sebagian. Tak ada lagi kepalsuan yang harus ia tutupi. Ia sebut nama Aera yang menjadi sumber terbesar kekuatannya. Ia sebut nama Nayara sebagai separuh jiwanya yang kini ia hormati sebagai kenangan yang indah.
Terakhir, ia sebut nama Judith. Sekali lagi, berharap sosok itu ada disini. Tak apa terlambat, setidaknya ia ada.
“Kuatkan aku, Judith”
**
Terimakasih, Tuhan!
Judith tak berhenti bersyukur ketika ia yang berlari menelusuri gang-gang sempit yang asing, pada akhirnya bertemu dengan pangkalan ojek yang dengan senang hati mengantarnya ke tempat tujuan. Abaikan saja helm berbau apek dan gaya berkendara abang ojek yang ugal-ugalan. Tetaplah Judith sangat berterimakasih karena abang ojek yang mampu membawanya ke tujuan dalam kurun waktu sepuluh menit.
Usai membayar ditambahi dengan tip, Judith berlari menuju ballroom. Beruntung ia bertemu dengan Nora, sekretaris Jeanno yang sepertinya juga baru datang. Keduanya melangkah bersisian menuju lantai 23, sembari berharap segalanya akan berakhir baik.
“Mark!”
“Astaga Judith! Kau datang!” Mark yang sedang memonitoring Jeanno dari layar, sontak menoleh ketika namanya dipanggil. Bereaksi campur aduk ketika sang pemanggil adalah seseorang yang paling ia tunggu.
“Maaf aku datang terlambat. Bagaimana acaranya?” Judith melepas pelukan Mark. Berharap akan ada kata-kata baik dari lisan suami sahabatnya. Walau jawaban yang ia inginkan tak sama dengan ekspresi yang terpeta di wajah Mark.
“Acara baru dimulai. Tapi mari kita berharap semuanya berakhir baik…”
__ADS_1
**