
“Jeff, su-sudah, kumohon.. ssh—sakit”
Suara Tyona tersendat akibat hentakan demi hentakan yang ia terima di bawah sana. Jeffrey seperti menulikan telinga, entah memang tidak dengar atau suara Anna tenggelam dalam hasratnya sendiri. Yang jelas Jeffrey nampak masih belum mau berhenti. Padahal sepulang kerja tadi, Jeffrey sudah menuntaskan emosinya dengan mengajak—atau lebih tepatnya memaksakan gairahnya kepada Tyona ketika istrinya sedang mandi. Dipikir itu sudah cukup, namun anggapan Tyona salah. Karena malam ketika ia tengah berkutat dalam mimpi, Jeffrey membalik tubuhnya, menghujaninya dengan kecupan lembut yang berubah semakin dalam. Berakhir pakaian tidur mereka berserakan tak beraturan di lantai bersamaan dengan selimut yang sudah tak jelas kegunaannya.
Satu dorongan terakhir yang membuat Jeffrey meneriakan nama istrinya. Nafas keduanya tersengal. Antara kelelahan dan kepuasan usai menjemput putih.
“Maafkan aku, maafkan aku Anna. Aku menyesal.. maafkan aku”
Jeffrey memberinya kecupan lembut di dahi. Tak hanya satu, namun berkali-kali. Menggoyahkan hati Tyona lagi karena teringat kecupan itu seperti kecupan dari Jeffrey yang lama ia rindukan. Dengan airmata yang menetes, Anna mengangguk samar. Dibalasnya pelukan Jeffrey yang masih berada diatasnya. Pelukan yang sama seperti yang ia rasakan dari Jeffreynya dulu.
Malam ini, untuk kali pertama setelah sekian lama, Tyona menemukan Jeffreynya lagi.
**
Judith, Tyona, dan Hannah.
Tiga perempuan berbeda latar belakang yang hatinya tengah terombang-ambing oleh perasaan yang disebut cinta. Satu berjuang menutupi perasaannya demi mempertahankan secuil waktu yang berharga bersama sang pria. Satu tengah bergelung pada kebimbangan akankah bertahan dalam hubungan yang ternodai pengkhianatan, atau pergi membawa lara. Satu lainnya tengah menghitung hari, seakan hendak dieksekusi. Yang menurutnya bahkan eksekusi jauh lebih baik dibanding harus menghabiskan sisa umur bersama pria yang dibencinya.
Setelah Helga ternyata cukup peka untuk melihat perubahan gestur kakaknya, Hannah menjadi jauh lebih berhati-hati. Ia tetap menjenguk Mark, namun tak lagi se-lama yang pertama. Hanya setengah jam ia sudah kembali ke kamar rawat Helga.
“Selamat sore, sayang..” sapa Hannah lembut. Sore itu adalah kunjungan terakhirnya karena besok Helga sudah diperbolehkan pulang. Karena itulah Hannah harus memutar otak bagaimana ia bisa mencari alasan keluar rumah supaya bisa menjenguk Mark.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu? Apa mimpimu hari ini seru? Aku bertaruh, pasti seru sekali. Karena kau masih nyaman untuk terlelap”
“Hariku buruk, seperti biasa. Tapi setidaknya karena menemani Helga di Rumah Sakit, aku jadi jarang bertemu Louis. Hal itu membuat perasaanku jauh lebih ringan, apalagi karena aku bisa menemuimu.. walaupun harus mencuri waktu”
“Kau tau, Mark? Tempo hari Paman bilang, kalau aku adalah satu-satunya perempuan yang disinggung di depan Paman dan Bibi. Paman juga bilang kalau beliau merestui hubungan kita yang padahal mereka sudah tau bahwa aku adalah penari erotis. Aku tersentuh sekali akan kebaikan kedua orangtuamu, Mark. Sekarang aku paham mengapa kepribadianmu bagus, karena kau mewarisi dari Paman dan Bibi”
Hannah mempertahankan senyumnya. “Aku minta maaf karena belum bisa membuat Ibuku terkesan akan kebaikanmu. Aku malu, Mark. Orangtuamu yang notabene bukan orang sembarangan, mau menerimaku yang rendahan ini. Sementara Ibuku.. Ibu hanya melihatmu seperti pria biasa yang kurang mengesankan. Maaf kurang bisa meyakinkan Ibuku bahwa kaulah yang terbaik..”
“Mark, bisakah kau bangun secepatnya dan membawaku kabur? Aku tidak ingin berakhir dengan pria lain selain dirimu. Aku hanya sudi berbagi selimut denganmu. Aku hanya mau memasakkan sarapan untukmu. Aku hanya ingin memasangkan dasi untukmu”
“Aku hanya ingin kaulah yang menjadi suamiku, Mark”
Hannah menunduk, mengecup punggung tangan Mark, tak lupa pipinya. Dua tempat yang tak pernah Hannah lupakan sebagai salam selamat datang dan salam perpisahan kala jam besuk telah usai. Setelah beberapa hari menemui Mark, perasaan Hannah sudah jauh lebih tertata. Tak lagi tenggelam dalam isak, namun lebih sering mengajak Mark bercerita. Apapun itu, yang penting Mark mendengar suaranya, yang penting Mark merasakan kehadirannya.
Pamitnya, sebelum perawat masuk dan meminta Hannah keluar. Tanpa perempuan manis itu sadari, bahwa ada pergerakan kecil dari jemari Mark yang ia genggam tadi.
**
Renatta tengah gundah gulana. Jeffrey kembali mengacuhkannya. Mengabaikan pesan dan telponnya, tak datang ke rumah hampir tiga hari. Membuatnya kembali teringat awal-awal kehamilannya yang seperti membuat pria itu hilang ditelan bumi. Renatta bertanya-tanya apakah gerangan yang membuat Jeffrey tidak menemuinya. Akankah ada hubungannya dengan Tyona? Padahal Renatta yakin ia sudah men-skakmat Tyona beberapa waktu lalu dipertemuan terakhir mereka. Ia pikir Tyona akan menyerah dan melepaskan Jeffrey, tapi ternyata ia masih harus berjuang untuk merebut pria itu.
Disinilah Renatta sekarang. Memilih untuk memeriksakan kandungannya di Obsgyn Rumah Sakit Pelita, bukan Rumah Sakit Harapan seperti yang biasa ia lakukan dibulan-bulan sebelumnya. Kebetulan dokter kala itu adalah dokter Kiran, yang menyambutnya dengan ramah.
__ADS_1
Tentu saja Kiran tidak benar-benar ramah. Ia lakukan semata-mata hanya karena profesionalitas. Dan tentu saja Kiran tau siapa pasien yang tengah ditanganinya. Nama Renatta Kendra cukup berkesan dan membekas pada ingatannya sebagai wanita tak tau diri yang menjadi duri dalam rumah tangga kawannya.
“Wah kandungan anda sehat. Detak jantung jabang bayipun normal. Pertahankan, ya?”
Renatta mengangguk gembira. Usai proses USG selesai, ia lantas kembali ke kursi pasien.
“Dokter, saya sepertinya akhir-akhir ini banyak pikiran. Kemungkinan setelah ini akan ke poli kejiwaan. Apakah aman jika saya mengkonsumsi obat dari sini bersamaan dengan obat dari psikiater?”
Kiran tersenyum. “Tergantung jenis obatnya. Ah, kebetulan saya memiliki rekan dari spesialis kejiwaan. Dia cukup kompeten dan dipercaya banyak pasien, namanya dokter Jeffrey”
Dokter kandungan itu dapat melihat dengan jelas bagaimana perubahan raut wajah Renatta begitu mendengar nama Jeffrey. Terlihat antusias yang dalam, seakan ingin bertanya lebih akan tetapi ragu.
“Kebetulan sepertinya dokter Jeffrey sedang masuk shift pagi. Jadi kalau anda mau ke psikiater, sekarang adalah waktu yang tepat. Tapi jangan terkejut ketika melihatnya”
“K-kenapa?”
Kiran menangkupkan satu telapak tangannya di pipi, seolah berbisik. “Karena dia sangat tampan. Jadi banyak pasien wanita yang gagal fokus ketika berkonsultasi dengannya. Bukannya menceritakan gejala, malah diam menikmati ketampanan Jeffrey—maksud saya dokter Jeffrey”
“Tapi dia sudah membuat banyak perempuan kecewa, karena ketampanannya hanya bisa dilihat tapi tidak bisa dimiliki” Kiran terkekeh, sembari menuliskan resep untuk Renatta.
“Kenapa begitu, dokter?”
__ADS_1
Kiran membubuhkan parafnya di resep, kemudian diserahkannya pada Renatta. “Karena dokter Jeffrey sudah memiliki istri yang juga luar biasa cantiknya. Keduanya membuat oranglain iri karena kemesraan mereka. Maaf jadi bergosip seperti ini, untuk resepnya bisa anda tebus di apotik. Sehat selalu, nona Renatta”
**