Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 117. Truly, Madly, Deeply


__ADS_3

“Judith…”


Judith tak pernah menyadari bahwa namanya terdengar begitu indah ketika disebut Jeanno dalam puncak gairahnya. Ada kepuasan tersendiri, seperti kebanggaan. Kebanggaan karena telah ‘mengalahkan’ Nayara yang selama ini membayangi Jeanno ketika mereka bercinta. Waktu membawa Jeanno untuk menyadari bahwa perempuan yang berada dibawah kungkungannya adalah Judith, bukanlah Nayara.


Ironis, ketika satu-satunya pesaing terberat Judith adalah wanita yang sudah meninggal. Yang menurutnya adalah suatu keberuntungan dan kesialan secara bersamaan ketika wajahnya begitu mirip dengan wajah mendiang Nayara. Beruntung karena dengan wajahnya, ia bisa mendapatkan satu miliar hanya dalam tempo waktu singkat. Sial karena ia terjebak dalam identitas palsu yang terkadang membuatnya bimbang.


“Selamat pagi..”


Ujung bibir itu tertarik keatas, memberikan senyum manis. Jeanno menangkup wajahnya, mengecupi keningnya penuh sayang. Pria itu tak pernah selembut sekarang ketika mereka bercinta. Well, tidak pernah kasar memang, tapi kelembutan yang Jeanno berikan sebelumnya semata-mata karena ia merasa telah bercinta dengan Nayara. Berbeda dengan saat ini.


“Apa aku menyakitimu?”


Sepasang netra itu bertemu, teduh dan dalam. Judith menggeleng, sedikit takut untuk keluar dari momen indah ini. “Tidak. Tuan tidak menyakitiku sama sekali”


Jeanno menarik tubuh mungil itu lebih dekat ke dekapannya, membuat kulit mereka yang sama-sama polos bersentuhan tanpa adanya jarak. “Seperti ini dulu. Aku masih mengantuk”


Yang dipeluk tak berkutik. Terlebih ketika menyadari nafas teratur sang tuan muda yang kembali terlelap. Tangan Judith terulur, memeluk pinggang Jeanno. Sesungguhnya ia mengantuk juga. Tapi takut jika segala keindahan yang ia lalui semalam hingga saat ini, hanya kesemuan yang dibalut dalam mimpi. Ia takut ketika terbangun, dirinnya berada di kamarnya di rumah Jeanno. Sendirian.


Itulah mengapa Judith lebih memilih untuk berjaga. Membawa kepalanya bersandar di dada tegas Jeanno, menjadikan detak jantung pria itu sebagai latar suara yang menemaninya.


“Aku akan mengalahkanmu, Nayara”


**


“Maafkan Ibu, Nayara. Kau tau sendiri asrama ini khusus untuk mahasiswi penerima beasiswa. Sementara kau.. sudah bukan lagi diantaranya”




Nayara meremat ujung bajunya. Asrama yang telah ia tinggali hampir empat tahun, menemui titik dimana ia harus mengemasi barang-barang, pergi dari bangunan tempatnya berteduh.*



“Ibu, bisakah saya memohon waktu satu hari saja? saya butuh waktu untuk mencari tempat yang baru”*



Ira, begitulah nama penjaga asrama bertubuh tambun itu, menghela nafas sembari membetulkan letak kacamatanya yang tidak miring. “Ibu ingin memberimu waktu sebanyak yang ibu bisa. Tapi diatas Ibu masih ada yang lebih tinggi dan berwenang. Mahasiswi penggantimu akan datang siang ini untuk menempati kamarmu. Maaf, Naya. Ibu tidak bisa membantu banyak” *



Nayara tersenyum simpul, kebaikan Bu Ira sudah lebih dari cukup. Mungkin dirinya yang terlalu kurang ajar karena meminta perpanjangan waktu. “Tidak apa-apa, Ibu. Terimakasih untuk segalanya. Jaga kesehatan Ibu”*



Bu Ira bangkit dari duduknya, mendekati gadis malang itu dan memeluknya. Sungguh, ia tak sampai hati mengusir Nayara seperti itu. Tapi sekali lagi, kedudukannya tak lebih berwenang dibanding ‘si penguasa’.*


__ADS_1


“Kau juga, sayang. Jaga baik-baik dirimu, kesehatanmu”*



“Selamat tinggal, Ibu”*



“Selamat tinggal, Nayara”*



**


“Jadi semalam kau juga tidak pulang?”


Jeanno memalingkan wajahnya, menghindari cermin yang memantulkan sosok Mark yang tengah menatapnya penuh penghakiman. “Ya”


Mark menahan responnya sejenak untuk menyelesaikan jemarinya membuat dasi kupu-kupu. “Aku pasti melewatkan banyak hal, kan?”


“Bisa dibilang begitu”


Mark mematut dirinya di cermin. Fitting terakhir sebelum hari pernikahan yang tinggal menghitung hari. “Man, how do I look?”


Yang ditanya mengangkat bahunya. “Kau sudah memberiku pertanyaan yang sama 3x, Mark”


Mark terkekeh. “Sorry”


“Apakah aku brengsek?”


“Tergantung” Mark menyesap cairan keemasan itu perlahan. “Tergantung kau memperlakukannya sebagai Judith, atau sebagai Nayara”


“Kalau kujawab.. dua-duanya?”


“Then, you are an asshole”


“Perjanjian kalian kurang dari satu bulan lagi, Jean. Kuharap kau sudah menemukan rencana untuk melanjutkan hidupmu dan Aera tanpa sosok ‘Nayara’. Bagaimana kau akan menjelaskan kepada putrimu, hm? Kau tidak bisa mengatakan padanya bahwa Nayara sudah tidak ada sementara yang ia lihat terakhir, ‘Nayara’ nampak sehat-sehat saja. Lalu bagaimana dengan publik? Kau sudah terlanjur memperkenalkan istrimu pada khalayak umum. Jika dia menghilang, lalu menemukan fakta bahwa Nayara yang asli sudah meninggal, bukankah itu akan menambah.. masalah?”


Jeanno menahan nafas. Mendadak kepalannya pening akibat kemungkinan-kemungkinan yang diucapkan Mark.


“Kau sudah menyeret Judith terlalu jauh dalam hidupmu dan Aera. Pilihanmu hanya ada dua, Jean. Satu, jujur kepada semua orang dan menerima segala resikonya. Atau dua, kau melanjutkan kepura-puraan ini sampai jangka waktu yang tidak ditentukan”


**


“… Hai, Jeanno disini. Aku sedang sibuk, jadi jika ada hal penting yang mau kau sampaikan, tekan 1”



__ADS_1


Nayara menekan tombol satu pada ponselnya dengan tangan gemetar. “Hai, Jeanno… ini aku, Nayara. Bagaimana kabarmu, sayang? apa kau sudah makan? Tidurmu.. nyenyak kan?”*



Ada jeda pada kalimat yang diucapkan gadis itu. Semata-mata untuk menyembunyikan supaya suaranya tidak terdengar bergetar akibat efek dari menahan tangis. “Jangan sering-sering minum kopi. Sayangi dirimu, sayangi lambungmu”*



“Kau sibuk sekali ya? Aku memaklumimu. Tapi terkadang ada waktu dimana aku merindukanmu, membutuhkanmu. Aku rindu masa-masa ketika kau berada disisiku, Jeanno. Aku baru menyadari kehadiranmu begitu besar sehingga ketika kau tidak ada, langkahku menjadi berat dan hampa. Ketika urusanmu sudah selesai, temui aku lagi, ya?”*



“Aku..mencintaimu, Jeanno. Sangat mencintaimu..”*



Nayara meletakkan ponselnya, kemudian membenamkan wajah untuk menangis sepuasnya. Sudah setengah hari ia mencari tempat baru untuk ditinggali, tapi hampir semua flat menerapkan sistem deposit yang tidak sedikit. Sementara tabungannya ketika bekerja di kafe dulu ditambah toko bunga yang hanya beberapa bulan, tidak mampu menutupi biaya deposit. Bisa saja ia menaruh semua uangnya, tapi bagaimana dengan hidup sehari-harinya?*



Nayara menatapi ponselnya. Benda pipih pemberian dari Jeanno yang terpaksa ia terima karena paksaan lelaki itu. Apa ia jual saja? tapi itu pemberian dari Jeanno… bagaimana jika nanti Jeanno kembali dan beranggapan bahwa ia tak menghargai barang pemberiannya?*



Tidak, Nayara menggeleng. Menghapus pemikiran untuk menjual ponselnya. Mungkin ada flat yang jauh lebih kecil, lebih murah yang bisa ia jangkau. Kan?*



**


“Mark benar, aku sudah terlalu jauh melewati batas. Perjanjian awalnya hanya sebagai Ibu pengganti, namun aku malah menjadikannya sekaligus seperti istri pengganti..”


Jeanno menggumam sendiri sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Fokusnya buyar akibat pernyataan Mark beberapa jam lalu. Kontrak kerja Judith dengannya sebentar lagi selesai, sementara dirinya, jika boleh jujur, belum siap jika harus jujur kepada Aera dan juga publik mengenai masalah yang ia timbun selama ini.


“Jika kau memilih opsi kedua, kau mungkin akan aman untuk sementara. Tapi ini sama saja seperti kau menyimpan bom waktu. Ketika sudah waktunya meledak, ledakannya akan jauh lebih besar dibanding kalau kau memilih opsi pertama”



*


Jeanno menyukai Judith, Ya. Perempuan itu menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Disamping fakta bahwa ia adalah perempuan malam, well, mantan perempuan malam, Judith sangat keibuan. Membimbing Aera dan menemaninya setiap waktu. Ia lembut, tak pernah marah kepada putrinya. Judith juga pintar memasak, membuat mereka jarang makan diluar bersama karena Aera lebih memilih untuk membantu Judith memasak di dapur. Kehadiran Judith memberi kekosongan dalam keluarga mereka, membawa kembali kehangatan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Setelah sekian lama, Jeanno merasakan keharmonisan ‘keluarga’.



Opsi kedua yang diberikan Mark, tentu saja lebih menggiurkan dibanding opsi pertama. Jeanno sudah kehilangan Nayara, ia tak ingin mengambil resiko yang akan membuatnya kehilangan Aera jika harus jujur pada gadis kecilnya. Aera bukan anak yang bodoh, ia pasti akan membenci Jeanno ketika menyadari bahwa selama ini sang ayah membohonginya.


Mungkin untuk sementara Jeanno lebih memilih opsi kedua. Melanjutkan kepura-puraan ini, berlaku layaknya keluarga kecil yang bahagia. Ia yakin Judith akan setuju jika ia memperpanjang kontrak kerjanya. Mungkin melipatgandakan gajinya dua atau tiga kali lipat. Bukan hal sulit bagi Jeanno untuk mengeluarkan uang lima miliar.


Dari luar, Nora bergidik melihat atasannya tersenyum licik. Entah apa yang dipikirkan bosnya, Nora lebih memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


**


__ADS_2