
Sedikit terperanjat, Judith memandang kamar lamanya dirumah Jeanno. Tak pernah ia sangka akan ada hari dimana ia kembali ke ruangan penuh kenangan itu. Omong-omong, memang rencana awalnya ia menemani Aera selama tiga hari. Akan tetapi karena mengingat kondisi Aera yang masih lemas, maka sesuai janjinya ia akan menemani si kecil sampai Aera dinyatakan sembuh total. Mulanya Judith sedikit keberatan dengan tawaran Jeanno untuk ikut pulang bersama mereka, namun dengan alasan supaya bisa menemani Aera lebih dekat, maka disiapkanlah kembali kamar lamanya selama Judith tinggal.
“Masih ada pakaianmu yang dilemari. Tidak seberapa. Kalau ada yang kurang katakan saja”
Judith menggeleng. “Kurasa cukup. Terimakasih, tuan”
“Ya, selamat beristirahat”
Sejak kejadian semalam, hubungan Jeanno dengan Judith sedikit canggung. Jeanno yang sebisa mungkin tidak berinteraksi dengan gadis itu, sementara Judith yang sibuk memalingkan wajah jika berada dalam satu ruangan dengan Jeanno.
Sepeninggal sang tuan tampan, Judith menutup pintu, menyandarkan punggungnya disana. Mengedarkan ruangan penuh suka dan luka. Ada kehangatan tempatnya berbagi cerita sebelum tidur, atau setelah sesi percintaan yang panas. Berbalut dekapan seakan satu sama lain menjadi sandaran terakhir. Namun disisi lain, ada perih yang tertinggal. Masih membekas segar bagaimana malam terakhirnya disini, ketika ia memilih untuk angkat kaki usai persetubuhan paksa yang tak hanya menyakitinya tapi juga membahayakan anak mereka.
Satu helaan nafas panjang, Judith mencoba tersenyum. “Kau kuat, Judith. Kau pasti bisa”
Kembali ia gaungkan niatnya berada disini, demi Aera. Demi Aera semata. Tidak lebih. Setelah Aera sembuh total, ia akan pergi secepatnya. Menghapus luka yang belum kering, melupakan cinta yang rasanya belum padam.
Setelah ini, Judith bertekad untuk benar-benar move-on.
**
“Banyak pelangganmu yang bertanya padaku ketika mampir ke Coffe Shop”
*
Judith mengganti posisinya dengan memindahkan ponsel ke telinga kiri yang diapit dengan pundaknya. Dikarenakan dua tangannya yang sibuk memasak sup ayam permintaan Aera.
“Mereka bertanya apa?”
“Mereka bertanya mengapa tokomu selalu tutup. Berarti sudah terhitung empat hari. Kau juga tidak menuliskan pesan apapun di pintu. Bahkan ibuku juga merindukan pastry buatanmu”
*
Judith terkekeh. “Perginya aku sangat mendadak, jadi aku belum sempat menuliskan pesan apapun disana. Dan untuk Bibi, sepulang dari sini aku berjanji akan membuatkan pastry spesial untuknya”
“Benarkah? ibu pasti akan sangat bahagia mendengarnya”*
Memasukkan potongan wortel dan kubis, Judith meraih spatula, mengaduknya sesekali.
“Kau kapan pulang, Aleta?”
__ADS_1
“Itu.. aku belum tau, Owen. Mungkin lusa, atau bisa lebih”
Tak ada respon selama beberapa sekon disana, seakan Owen tengah sibuk akan sesuatu. “Oh, kalau begitu kabari aku jika kau pulang. Nanti akan kujemput di stasiun”
“Ya, terimakasih banyak, Owen”
“Sampai jumpa, Aleta”
*
Judith meletakkan kembali ponselnya diatas meja dapur ketika sambungan sudah terputus. Selama kepergiannya, Owen memang intens menjaga komunikasi dengan Judith. Entah dalam bentuk pesan atau telpon. Cukup menghibur Judith dikala ia tengah tenggelam dalam galaunya.
“Astaga!”
Judith nyaris menjatuhkan spatulanya kala ia yang baru berbalik badan, melihat sosok Jeanno yang berdiri mematung disebelah kulkas. Pria itu hanya memandangnya sendu, kemudian membuka lemari pendingin untuk mengambil botol mineral dingin dan kembali ke kamarnya.
‘Sejak kapan tuan berdiri disana. Jika sudah lama itu berarti dia mendengar percakapanku dengan Owen’ Judith membatin. Tanda tanya dalam benaknya berubah menjadi gelengan, jikalau Jeanno memang mendengar percakapannya memang kenapa? Toh tidak ada yang salah. Ia dan Owen hanya teman, dan jika mereka ada hubungan lebih, bukan tempat Jeanno untuk menilai, kan?
**
“Oh, jadi Owen teman dekatmu di kota itu?”
Judith mengangguk sembari mengusapi perut Hannah yang sudah mulai membuncit. Ia bersama suaminya sore itu mengunjungi Aera, berakhir si kecil asyik bermain di taman dengan Oma dan Opanya.
“Mmm.. ya, dia baik. Hampir, ah bukan.. setiap hari dia mengantarkanku makanan. Entah itu dari ibunya, atau dia sengaja beli”
“Dari ibunya? Kau dekat dengan ibunya?”
Judith terkekeh. “Ya, tapi bisa dibilang tidak juga. Kami belum pernah bertemu. Tapi Ibunya sangat menyukai pastry buatanku. Jadi sebagai balasannya Bibi menitipkan masakannya untuk diberikan padaku, melalui Owen”
“Wah, sepertinya kedepannya tidak akan sulit” Tak mengerti maksud perkataan Hannah, dahi Judith mengerut. “Apanya?”
“Kau sudah mendapatkan lampu hijau dari Ibunya, sayang. Tidak apa kan kalau kita berharap lebih?”
Judith baru memahami ketika melihat ekspresi sahabatnya yang tersenyum menggoda. “Jangan bicara sembarangan. Aku dan Owen hanya sebatas teman. Lagipula aku tidak tahu statusnya, siapa tahu dia sudah memiliki kekasih, atau malah istri?”
“Ya, kau bisa menilai sendiri, sayang. Bagaimana dia memperlakukanmu, bagaimana dia memandangmu. Aku yakin kau sebetulnya menyadari, tapi kau masih menyangkal”
Judith terdiam. Benar kata Hannah, bukan dirinya tidak menyadari perlakuan istimewa Owen padanya. Judih tidak bisa menilai bagaimana pria itu didepan wanita lain. Tapi sejauh mereka saling mengenal, tak ada pembahasan seputar kekasih. Yang mungkin saja itu menandakan Owen memang masih sendiri.
“Entahlah.. Hannah”
Mark yang sedari tadi diam, berdehem untuk ikut bertanya. “Hidup harus tetap berjalan, Judith. Jika sudah saatnya untuk bangkit, apa kau mau melanjutkan dengan si Owen-Owen itu?”
Kembali termenung, Judith masih belum memikirkan apapun mengenai pendamping. Karena sesungguhnya jalannya untuk sembuh dalam keringnya luka itu masih panjang. Terlebih ketika ia masih sangat mencintai Jeanno. Judith yang baru pernah merasakan jatuh cinta, tidak tahu bagaimana lama proses seseorang mampu melupakan yang terkasih selamanya.
__ADS_1
Lagipula jahat sekali jika ia memiliki kekasih sementara hatinya masih menjadi milik pria lain.
“Aku belum tau. Mungkin aku ingin fokus dengan tokoku dulu. Lagipula jalanku masih panjang, masalah pendamping bisa dicari nantinya”
Hannah mengulurkan tangannya, menoel lengan sang karib. “Boleh kulihat fotonya? Aku penasaran sekali”
Judith mengangguk, sedikit tertawa kecil. “Lihat, Kak. Istrimu mulai kegenitan dengan pria lain” yang dibalas Mark dengan cubitan kecil dipipi Hannah.
“Aku ambil dari foto profilnya saja, ya?” Judith mengulurkan ponselnya kepada sepasang suami istri itu. Sebuah foto yang diambil Owen di depan Coffe Shopnya.
“Tidak terlalu buruk. Menurutku malah tampan, walau masih jauh lebih tampan suamiku”
Judith menarik ponselnya dan pamit menjauh sebelum terlibat dalam ‘prahara’ rumah tangga sahabat dekatnya.
**
“Jadi begitu, tuan Jeanno”
Jeanno melirik tajam kearah Mark yang menyudahi ceritanya diiringi seringai jahil. “Jangan menggodaku”
“Siapa yang menggoda? Aku hanya memberikan informasi yang kau mau mengenai Owen”
Lawan bicaranya membuang nafas kasar. “Terus saja bicara yang keras sampai didengar orang lain”
Mark tertawa. Tawa yang renyah hingga ia memegangi perutnya. “Apa yang salah, astaga? Kau benar-benar sensitif sekali seperti remaja labil. Kau kan bertanya padaku mengenai pria bernama Owen yang dekat dengan Judith. Dan aku memberikan informasi padamu yang sumbernya langsung dari Judith. Lalu kenapa harus sinis begitu?”
Jeanno melempar punggungnya di badan sofa. Beruntung ruang kerjanya di rumah kedap suara sehingga obrolannya dengan Mark tak akan bisa didengar oranglain diluar sana.
Sekian sekon berlalu, tawa Mark pada akhirnya reda. “Ada apa, Jean? Bukankah kau cerita semalam kau mengatakan sudah melepasnya?”
Sang sepupu memandang Mark lamat-lamat. “Aku memang berniat melepaskannya”
“Berniat? Jeanno, dia bukan binatang yang bisa kau lepaskan seenak jidatmu dan kau ambil lagi untuk disayang. Bukan seperti itu cara memperlakukan perempuan”
“Ya, aku tahu. Tapi melihat dia menjaga jarak dan terlihat ketakutan denganku, kurasa memang sudah saatnya aku membiarkan Judith pergi. Demi kebaikannya”
“Sekarang kubalik. Kau sendiri, apa kau mau dia menjauh? Aku bertanya tentang kau. Jadi jangan dijawab demi Aera. Kita berdua sama-sama tahu bagaimana Judith menyayangi Aera begitu pula Aera padanya”
Jeanno menarik nafas dan menghembuskannya samar. “Aku masih belum bisa mengenali perasaanku. Aku senang bisa melihatnya dalam jangkauan pandanganku. Aku benci ketika dia berbicara dengan pria lain. Tapi aku takut menyakitinya lagi. Sesungguhnya penyesalan dan rasa bersalah itu masih ada, Mark. Aku merasa diriku sulit diprediksi, aku takut kehilangan kendali dan berakhir buruk seperti yang sudah-sudah”
“Jadi kau sudah siap jika Judith berakhir bersama pria lain, termasuk Owen? Karena dari cerita Judith, aku bisa menyimpulkan bahwa ada ketertarikan dari pihak Owen”
Jeanno memejamkan matanya. Membiarkan batinnya saling berperan antara ego dan perasaan.
“Jika mereka berakhir bersama, apa kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan bertindak hal diluar akal untuk memisahkan mereka?”
Baik Mark ataupun Jeanno sama-sama memahami bagaimana keras kepalanya putra Alexander ini. Jika ada hal yang tidak sesuai dengan hatinya, Jeanno akan turun tangan meluruskan. Selalu seperti itu. Tidak ada yang menjamin ia tetap tinggal diam jika dalam kondisi cemburu melihat Judith bersama pria lain.
Jeanno membuka matanya. “Untuk saat ini… aku memilih untuk merelakannya, Mark. Untuk saat ini…”
__ADS_1
**