Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 139. The Good Side


__ADS_3

Agaknya sudah hampir satu minggu Jeanno menitipkan Aera di rumah orangtua Mark. Pria itu tak memiliki pilihan, gempuran pekerjaan yang menggila membuatnya nyaris pulang tepat waktu. Ditambah anak itu yang terus merengek meminta mamanya, berakhir dengan Aera yang memberinya ‘silent treatment’ karena hanya ada sang ayah yang datang ke perhelatan hari ibu di sekolahnya tiga hari yang lalu.


Oh, jangan kaitkan pertengkaran Mark dan Jeanno dengan kesediaan Maria mengasuh Aera. Karena sebenci apapun dengan Jeanno, Mark tetap menyayangi Aera dan meminta ibunya untuk menahan si kecil disana, setidaknya sampai golak emosi Jeanno stabil. Sementara Maria dan Jose juga memilih tidak ikut campur dengan konflik dua pria dewasa itu. Mereka tidak tahu apa yang melatarbelakangi keduanya harus berkelahi baik secara lisan maupun fisik. Namun dengan menghilangnya Judith, Maria yakin ada hubungannya dengan wanita itu.


“Aera sayang, sedang apa hm?”


Gadis cilik itu mendongak sebentar, kemudian melanjutkan sesi mewarnainya di lantai. “Mewarnai, grandma”


“Oh.. ini grandma bawakan cookies kesukaan Aera. Dimakan ya?” setelah meletakkan nampan berisi kudapan menggiurkan, tangan Maria menyugar rambut Aera lembut.


“Grandma, mengapa mama pergi lagi? Apa Aera nakal ya? tapi Aera tidak nakal. Tidak bertengkar juga. Aera selalu mengerjakan PR sendiri”


Hati siapa yang tidak teriris mendengar pernyataan menyakitkan dari bocah berusia hampir 7 tahun ini. “Tidak kok, Aera sudah jadi anak yang sangat baik. Mama sedang ada urusan penting, jadi harus pergi dulu sebentar”


“Dulu mama pernah pergi lumayan lama. Sampai Aera suka bermimpi bertemu mama. Apa mama sakit lagi? Aera tidak mau mama sakit..”


“Nanti coba grandma tanyakan ke papa ya? sekarang Aera makan dulu. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai mama, oke?”


Aera hanya menganggguk. Gadis cilik itu jarang menangis, namun siapapun bisa melihat ada kesedihan pada sepasang bola mata kelinci itu. Membuat Maria tak habis pikir, bagaimana bisa orang-orang dewasa ini begitu tega melibatkan jiwa semurni Aera dalam masalah mereka. Menyakiti Aera, mengabaikan Aera sekolah anak ini tidak berperasaan.


Mark bilang Judith memang sedang sakit, karena beberapa hari ini putra dan menantunya berada di rumah sakit. Tapi Mark tidak mengatakan sakit apa. Maria juga tidak berani bertanya.


“Aera merindukan mama Judith”


Sedikit banyak para orang dewasa itu sadari, bahwa Aera adalah gadis cilik yang cerdas. Yang mampu membedakan bahwa wanita yang selama ini menemaninya di rumah dan disebut mama, bukanlah wanita yang sama dengan wanita yang melahirkannya dulu. Aera tahu, karena ia tak sengaja menangkap para orang dewasa itu menyebut nama ‘mamanya’ dengan sebutan Judith, bukan Nayara.


**


“Sedikit sulit, Mark. Keluarga Johan sangat tertutup. Tak banyak informasi yang bisa digali mengenai anak-anak mereka. Terlebih ternyata istrinya melahirkan sendiri, bukan di rumah sakit. Jadi tidak ada catatan medis mengenai berapa anak yang Maharani lahirkan”



*



Mark menghela nafas samar, menutup telponnya usai mengucapkan terimakasih kepada Haris, sang orang kepercayaan.


“Bagaimana?”


Pria itu menggeleng, memijit pelipisnya perlahan. “Belum ada titik terang”


“Pulanglah, Mark. Kau terlihat sangat lelah. Pulang dan beristirahat, kau tidak apa-apa disini”


Lagi, Mark menggeleng. “Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dan Judith sendirian”


“Tidak akan terjadi apa-apa dengan kami. Lagipula ini rumah sakit, Mark. Siapa yang mau membuat kekacauan disini?”


“Kantong matamu sudah menghitam. Dan jangan berani-berani membohongiku dengan mengatakan kau nyaman tidur di sofa. Aku melihat tubuhmu menggeliat beberapa kali dan dahimu menyernyit dalam tidur”

__ADS_1


“Benarkah?”


Hannah mencubit hidung prianya pelan. “Turuti kataku, pulang dan istirahatlah semaksimal mungkin. Dengan begitu kau memiliki tenaga untuk menjaga kami”


Hannah benar, beberapa malam berlalu dan tidak memberikan kualitas tidur yang maksimal untuk Mark. Tak membantah, Mark mengangguk. “Betul tidak apa-apa?”


“Hm-hm, sana pulang”


“Kalau terjadi sesuatu, langsung telpon aku, rumah, ibu atau ayah, oke?”


Hannah terkekeh. “Iya, sayang”


**


“Marco Sebastian”


Ibunya jarang memanggilnya dalam sebutan nama lengkap. Dan jika begitu berarti ada hal serius yang mengikutinya. “Ya?”


“Apa memungkinkan untuk membawa Aera menjenguk Judith?”


Mark mematung sejenak, sebelum mengangkat bahunya. “Jeanno akan marah besar jika mengetahuinya, bu”


Dan Mark tidak ingin menambah daftar ‘kesalahan’ Judith yang akan semakin membuat gadis itu menderita.


“Dia berhak melihat mamanya. Terlepas dari apapun masalah Jeanno dengan Judith”


Maria menyuguhkan semangkuk sup ayam ginseng yang asapnya masih mengepul. Membuat perut Mark ramai akan suara. Tanpa menunggu waktu, Mark meraih piring untuk disendokannya nasi.


“Ibu kasihan melihat anak sekecil itu menjadi korban masalah orangtuanya”


“Judith bukan orangtuanya, bu”


“Tapi Aera sudah menganggapnya sebagai mamanya”


“Ya, karena wajahnya mirip dengan Nayara”


Maria mengambil kursi di hadapan Mark. Duduk bersebrangan dengan sang putra yang tengah lahap makan. “Jadi kau belum tahu?”


“Tahu apa, Bu?”


“Aera.. dia mengetahui nama Judith. Dia bisa menyadari bahwa wanita yang selama ini menemaninya bukanlah ibu kandungnya”


Begitu saja, sendok Mark terjatuh. Menimbulkan bunyi kelontang yang cukup nyaring. “Apa?”


**


Seharusnya Judith sudah diperbolehkan pulang, namun karena tubuhnya masih lemas akibat tidak adanya nutrisi yang masuk, terpaksa perempuan itu harus menunda kepulangannya. Satu-satunya yang bisa diharapkan adalah cairan infus.


Hannah melakukan rutinitasnya seperti biasa, menyeka, mengajaknya bicara, menyisir rambutnya. Tak ada satupun topik yang mampu meraih atensi Judith. Dokter bilang Judith hanya mengalami syok, ya.. siapa pula yang tidak terpukul kehilangan buah hatinya? Jika Hannah diposisi Judith mungkin ia akan sama terlukanya.

__ADS_1


Atensi Hannah turun ke pesan yang baru dikirimkan Mark. Yakni berupa foto-foto Aera yang sedang belajar di rumah. Suaminya memang mengatakan pulang ke rumah ibunya, karena ia merindukan masakan Maria.


Aera. Nama gadis kecil itu muncul seperti lampu yang keluar dari kepala Hannah. Mengapa tidak terpikirkan olehnya?


“Judith, lihat? Mark mengirimkanku foto-foto Aera yang sedang belajar. Katanya dia sedang mengerjakan PR bahasa Indonesia”


Hannah menunjukan ponselnya yang masih memperlihatkan foto-foto Aera. Dan itu sukses membuat Judith merespon. Pandangannya tidak lagi kosong.


“Dia sedang berada di rumah Mark. Katanya sudah tiga malam terakhir ini Aera minta untuk dibacakan dongeng pangeran kodok sebelum tidur”


Mata yang semula tiada nyawa itu kini berair. Tangan Judith terangkat, menyentuh layar ponsel Hannah seakan ia sedang menyentuh Aera.


“Aera.. anak mama”


“Mark bilang Aera merindukanmu. Tapi kita belum bisa membawanya kemari, sayang. Nanti kami usahakan ya?”


Seperti teringat sesuatu, Judith menoleh kearah Hannah. “Hannah”


“Ya?”


“Sekarang tanggal berapa?”


“Eum.. tanggal 26, kenapa?”


Tak ada aba-aba dari Judith untuk memberi waktu bagi Hannah mencegahnya bangkit secara tiba-tiba, dan mencabut infus yang terpasang. Hannah panik setengah mati, terlebih ketika Judith melompat dari ranjangnya, yang tentu saja membuatnya terjatuh karena tubuhnya yang lemas.


“Astaga, Judith!”


Tangan Judith menolak ketika Hannah hendak memberinya bantuan, sekuat tenaga tubuh ringkih itu berusaha bangkit walau dengan bergetar.


“Pentas hari ibu. Sudah lewat beberapa hari yang lalu. Aku sudah berjanji akan datang, aku tidak bisa membuat Aera kecewa, Hannah”


Lagi, Judith yang berjalan sempoyongan kembali ambruk. Tetesan darah akibat infus yang dicabut paksa menjadi ‘jejak’ langkahnya yang tidak seberapa di lantai.


“Aku harus menemuinya, dia pasti sedih. Dia pasti berpikir aku tidak menyayanginya”


Hannah berjongkok, membantu Judith untuk berdiri walau dirinya juga kepayahan. Entah mendapatkan tenaga darimana yang membuat perempuan itu mampu berontak. Seakan tak terima dicegah oleh Hannah.


“Aku tahu, aku tahu sayang. Tapi tidak sekarang. Kau masih belum kuat”


Judith menggeleng keras. “Aku sudah kehilangan janinku, aku tidak ingin kehilangan Aera juga”


Satu dorongan keras yang membuat tubuh Hannah terhuyung ke belakang, menjadikan itu kesempatan bagi Judith untuk ‘meloloskan’ diri dari sergapan Hannah. Namun naas, karena baru saja akan membuka pintu, dirinya berpapasan dengan dokter dan dua perawat yang akan melakukan check-up rutin.


“Tolong, tahan dia dokter”


Tanpa perlu diminta dua kali, para tenaga medis dengan sigap menyergap Judith. Berontakannya tidak seberapa dibanding tenaga dua orang dewasa yang sehat. Dokter itu pergi sejenak, sebelum kembali dengan suntikan entah apa. Hannah pikir itu obat penenang, karena tak lama kemudian tubuh Judith melemas dan ia tak sadarkan diri.


**

__ADS_1


__ADS_2