
Jeffrey menyadari perubahan bentuk tubuh istrinya yang semakin kurus. Belum lagi pucat yang seakan enggan pergi dari wajah ayunya. Jangan lupakan juga kantung mata yang menghitam samar. Sesibuk-sibuknya mereka menjadi tenaga medis, Jeffrey tidak pernah melihat istrinya terlihat selelah ini. Bukan hanya terlihat lelah, namun pancaran matanya juga sendu.
“Mau sampai kapan kau mendiamkanku?”
Tyona menghentikan gerakannya memoles blush-on. Setidaknya ia ingin ada rona di pipinya sekalipun itu palsu. “Jangan terlalu percaya diri. Siapa yang mendiamkanmu”
Jeffrey menyandarkan punggung, bertukar netra dengan Tyona melalui cermin.
“Kau. Sadarkah kau bahwa kau berubah, Anna?”
Tyona tersenyum. Memutuskan untuk berhenti merias wajahnya bersamaan dengan moodnya yang hilang. “Haruskah aku yang bertanya sebaliknya padamu, Jeff?”
Wanita itu bangkit, meraih tas lipatnya dan berjalan mendahului Jeffrey. “Ayo. Nanti kita terlambat, Mama tidak suka kalau kita datang telat”
Benar yang diperkirakan Tyona. Jam menjelang makan malam sekaligus pulang kerja membuat jalanan macet. Tyona terpaksa mengirim pesan kepada mertuanya perihal keadaan di jalan supaya mereka tidak cemas akan keterlambatan anak dan menantunya.
Berada di satu mobil dengan Jeffrey setelah sekian lama, membuat Tyona merasa tidak nyaman. Setidaknya sewaktu di rumah ia bisa pergi ke dapur, ruang laundry atau sudut ruangan lain yang tidak terdapat eksistensi Jeffrey. Tapi jika di mobil, mau kabur juga kabur kemana?
“Nanti pembahasan Mama pasti tidak jauh seputar anak”
Tyona yang asyik memandang keluar jendela, menghela nafas samar tanpa menoleh kearah suaminya. “Ya. Dan disana tugasmu sebagai suami untuk membelaku”
“Sekuat apapun aku membelamu, Mama akan tetap menyalahkan kita”
“Salah”
“Ya?”
“Salah. Sekuat apapun kau membelaku, Mama akan tetap menyalahkanku. Bukan menyalahkanmu”
Dahi Jeffrey mengerut, tak suka dengan ucapan Tyona. “Kenapa kau bicara seolah-olah Mama begitu buruk?”
“Aku tidak pernah berkata begitu. Kebiasaanmu berasumsi sendiri dan menyerangku dengan asumsimu yang tidak berdasar. Lebih baik kau berhenti bicara, Jeff”
Jeffrey menjalankan mobilnya ketika ada celah di depan. Sayangnya kemacetan masih ada di hadapan mereka. Kendaraannya berhenti lagi, menunggu celah berikutnya.
“Kau bukan Anna seperti yang kukenal. Anna yang kukenal akan menghormatiku sebagai suaminya”
“Oh ya? sekalipun suaminya telah berkhianat?”
__ADS_1
Tyona menoleh, melihat Jeffrey meremat stir kemudi dengan kencang. Rahang pria itu juga mengeras. Tapi ia tak gentar, Tyona sudah lelah dengan kesakitan yang terus-menerus menerjangnya tanpa ampun.
“Jangan kau pikir aku bodoh, Jeff. Kau tdak bisa mengelak, aku sudah tau semuanya”
“Anna…”
Tyona menunduk, memainkan cincin yang masih tersemat apik di jemarinya. “Jeff, kau ingat dulu? Ketika kita memilih cincin ini? Kita sempat berdebat mengenai ukiran nama di dalamnya. Kau ingin inisial nama kita, sementara aku ingin diisi dengan sebaris kalimat penuh makna. Setelah kita membeli cincin ini, kau berusaha keras menahanku supaya tidak terlalu sering mencoba cincin ini”
“Kita sudah melewati banyak hari, banyak malam bersama berbagi selimut. Berbagi cerita mengenai keseharian kita, mengenai mimpi kita di masa depan. Kau ingat? Ada banyak rencana kita yang belum terwujud. Salah satunya liburan di Swiss” Tyona tersenyum. Mengingat daftar impian mereka yang tertempel di pintu kulkas. Salah satunya adalah berlibur. Satu dari sekian poin yang belum bisa mereka realisasikan. Atau tidak akan pernah terjadi?
“Aku marah padamu, Jeff. Tapi rasa kecewaku jauh lebih besar. Pria yang kucintai, yang kupercaya akan menjagaku seumur hidup justru berbalik menyakitiku. Terkadang aku bertanya, apa kesalahanku? Apa kekuranganku? Jika memang aku kurang sempurna bagimu, mengapa kau tidak mengatakannya langsung supaya kuperbaiki sebisaku. Kenapa kau justru menutupinya dengan perempuan lain?”
Hening. Kesenyapan itu pecah karena bunyi klakson dari mobil belakang yang ternyata kondisi lalu lintas sudah kembali normal. Jeffrey lantas melajukan kendaraannya tanpa merespon semua perkataan Tyona. Sementara Tyona, kembali kepada atensi awalnya yaitu melihat kearah luar jendela. Sekaligus menyembunyikan tetes airmata yang entah keberapa kalinya hari ini, jatuh membasahi pipi.
**
“Makanlah Hannah. Kau bisa sakit jika tidak makan”
Posisi Hannah masih sama seperti tadi. Duduk memeluk kedua lututnya dan memandang kosong kedepan. Membuat Johnny putus asa karena makanan yang ia bawa tak kunjung disentuh.
“Biarlah aku sakit, kalau perlu aku mati”
Johnny memasukan kedua tangannya di saku. “Kau pikir Louis akan semudah itu membiarkanmu mati, hm? Ia akan mencari cara untuk memasukkan makanan kedalam sistem tubuhmu. Bukan dengan cara menjejalkan paksa, tapi dengan cara lain”
“Pernikahan sudah di depan mata, Hannah. Kau tidak bisa kabur kemanapun”
Hannah memandang Johnny. “Johnny.. boleh aku meminta tolong?”
“Apa?”
“Aku pinjam ponsel. Ijinkan aku untuk bicara dengan Mark. Ijinkan aku untuk pamit supaya dia tidak bingung mencariku dimana”
Johnny ingin membantah, namun melihat betapa naasnya kisah asmara Hannah dan Mark, hati nuraninya yang tersisa sedikit akhirnya luluh. Ia melangkah mendekati Hannah, menyodorkan ponselnya. Namun baru saja tangan Hannah hendak meraih, sudah lebih dulu terdengar derap langkah. Dengan cepat Johnny kembali menyimpan ponselnya.
Benar saja, tak berselang lama Louis datang dengan senyum paling brengsek menurut Hannah.
“Hai sayang, kau merindukanku?”
Johnny mundur kala Louis mengambil posisi di depan Hannah. Berniat mencuri ciuman di bibirnya namun Hannah memalingkan wajah, kecupannya berakhir di pipi.
__ADS_1
“Jangan terlalu dingin pada calon suamimu. Oia, aku ada kejutan untukmu”
Hannah yang sudah terlalu lelah mentalnya, sama sekali tidak menemukan sedikitpun antusias pada kata kejutan yang dilontarkan Louis. Ia memandang malas kearah pintu dimana tangan Louis terulur ke satu arah. Detik berikutnya, ia bisa melihat Ibu dan Helga berdiri disana. Helga menghambur memeluk Hannah, disusul Ibu yang mengusap rambutnya lembut.
“Aku membawa Ibu dan Helga untuk tinggal bersama kita”
**
Makan malam itu berlangsung canggung terlebih antara Tyona dan Jeffrey. Pertengkaran mereka beberapa menit lalu di mobil yang masih menggantung, agaknya menjadi beban yang membuat interaksi keduanya terlihat berjarak.
“Bagaimana karirmu, Anna?”
Tyona menoleh kearah Gandhi, papa mertuanya. Ia lantas tersenyum sopan, dibanding Mama Rianti, Ayah mertuanya memperlakukannya jauh lebih baik. Tak pernah Gandhi menyentil perkara momongan seperti yang sering Rianti ucapkan. Gandhi menyayanginya layaknya anak sendiri. Memuja menantunya yang tak hanya cantik namun juga cerdas.
“Karirku lancar, Ayah. Memang poli tak pernah sepi, tapi aku mencintai pekerjaanku”
Gandhi tersenyum bangga. “Kau tidak berniat kuliah lagi?”
“Itu.. sebenarnya aku ingin mengambil pendidikan lagi tapi masih bingung”
“Bingung kenapa?”
“Antara manajemen rumah sakit atau psikologi. Dua opsi itu yang masih belum bisa Anna putuskan mana yang lebih menarik, Ayah”
Gandhi membuka mulut, hendak memberikan rekomendasi untuk menantu kesayangannya namun Rianti jauh lebih cepat menyambar.
“Jika kau sibuk sekolah terus, kapan akan ada waktu untuk memiliki anak, Anna? Sekarang usia kalian sudah kepala tiga. Mau sampai kapan kami menunggu?”
Tyona menunduk, menggenggam sendok dan garpunya erat sekali. “Maafkan aku, Ma”
“Sudahlah sayang. Mereka kan juga sudah berusaha, nanti kalau memang sudah waktunya juga Anna akan hamil. Lagipula pendidikan juga penting. Apa kau tidak bangga memiliki menantu berpendidikan seperti Anna?”
Rianti mencebik. “Tapi dia harus menyadari kodratnya sebagai perempuan, Gandhi. Menikah dan mengandung, selagi ia masih muda dan mampu, kenapa harus menunda?”
“Maaf Mama, tapi aku tidak menunda”
Gandhi meraih napkin, mengusap sisa makanan yang berbekas di bibirnya. “Anak yang cerdas terlahir dari Ibu yang cerdas. Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan tidak ada juga kata terlambat untuk memiliki anak sekalipun sudah kepala tiga. Kau harus berhenti menekan menantumu. Anna memang istri Jeffrey, tapi dia juga memiliki kehidupan sendiri. Aku sebagai ayah mendukungnya jika ia sekolah lagi”
Rianti bungkam. Memilih untuk menikmati makan malamnya walau dengan wajah masam. Gandhi bertukar pandang dengan Tyona, memberikan senyum hangat padanya yang dibalas Tyona. Wanita itu melirik kearah Jeffrey yang diam sedari tadi. Berpikir bahwa Ayah mertuanya jauh lebih baik dalam membelanya dibanding Jeff yang notabene suaminya sendiri.
__ADS_1
Tyona tidak bisa membayangkan perasaan Gandhi jika mengetahui dirinya ada niat berpisah dari Jeffrey.
**