
“I want raw tonight”
Judith membuka matanya. Masih terbayang jelas bagaimana suara berat Jeanno yang memandangnya penuh gairah. Pria itu tidak bergurau ketika mengatakan ingin ‘memakannya’. Karena usai pulang dari acara makan malam, mereka makan sebentar di dapur, dilanjutkan melewati aktivitas malam orang dewasa yang berlalu panjang. Seakan energi Jeanno tak pernah habis, Judith yang dengan susah payah mengimbangi walaupun tubuhnya lelah dan rasa kantuk mendera hebat.
Oh, Jeanno juga menginginkan tanpa pengaman, berbeda dari malam berikutnya. Untunglah hari ini bukan masa suburnya, jadi setidaknya Judith tak perlu pusing memikirkan jika nantinya ia akan hamil.
Perempuan itu menoleh, mendapati Jeanno yang masih terlelap dalam. Dilihat dari sudut manapun, pria itu sungguh tampan luar biasa. Judith merasa beruntung, sekaligus kasihan disaat yang bersamaan. Diperlakukan manis oleh pria pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta, namun perlakuan itu semata-mata hanya karena kemiripannya dengan mendiang istrinya.
Nayara.
Nama yang masih Jeanno ucapkan disaat ia telah menjemput nikmatnya sembari memeluk tubuh Judith erat. Judith memiringkan tubuhnya, mengamati wajah tidur Jeanno yang damai. Ia bertanya, apakah pernah sekali saja Jeanno memandangnya sebagai Judith? Bukan Nayara? Pernahkah Jeanno memikirkan bahwa ia juga manusia biasa yang memiliki perasaan?
Tangannya terulur, menelurusi dahi Jeanno yang berkerut merespon sentuhannya. Lalu jemarinya menuruni hidung tinggi pria itu. Beralih turun ke ranum merah muda yang entah sudah berapa kali menghujaninya dengan cumbuan melenakan. Judith menggeser tubuhnya mendekati Jeanno, berhati-hati sekali supaya pria itu tidak terbangun. Dikecupnya pipi Jeanno lembut.
“Judith. Namaku Judith. Sebut namaku, Jeanno…”
Bisiknya penuh luka. Sebelum Judith menyerah dan terlelap kealam mimpi, berharap akan mendapatkan akhir yang bahagia bersama Jeanno dan Aera sekalipun hanya didalam khayalan.
**
Tyona pingsan!
Tubuh ramping wanita itu limbung usai keluar dari kamar mandi. Beruntung di belakangnya ada perawat yang sigap menerima tubuh Tyona sebelum kepala perempuan itu menyentuh lantai. Segera dokter spesialis anak itu dibawa keruang pemeriksaan untuk mengetahui kondisinya.
Singkatnya, dokter jaga memberitahu bahwa tekanan darah Tyona rendah sekali dan asam lambungnya naik. Menyarankannya untuk diinfus satu atau dua hari, jika kondisinya membaik maka satu hari saja sudah cukup.
Dan disinilah Tyona sekarang, sudah tak lagi memakai seragam jaganya sebagai dokter, melainkan mengenakan seragam pasien rawat inap. Perempuan itu memandang keluar jendela. Kamarnya yang terletak di lantai atas membuatnya mampu melihat kerlap-kerlip lampu dari gedung pencakar langit diluar sana. Menyadari bahwa sekalipun jam sudah merayap menuju malam, bukan berarti aktivitas pekerjaan berhenti.
Tyona mencoba memejamkan matanya karena kepala yang mulai berdenyut ketika pintu kamarnya terbuka. Detak jantungnya meningkat kala indera penciumannya menangkap aroma parfum Jeffrey. Tyona tak membuka mata. Sekali lagi, takut jika airmatanya meluncur dengan lancang.
“Kau membuatku cemas. Bagaimana bisa kau pingsan?”
__ADS_1
“Aku tau kau belum tidur. Kau sudah makan?”
Tyona membuka matanya, memilih memandang lurus ke langit-langit kamar. “Sudah”
“Aku tidak bisa menginap malam ini. Mungkin akan menemanimu dua jam kedepan sebelum aku pulang”
Wanita itu kembali memejamkan matanya. “Ya”
Tak ada yang bicara. Keheningan yang menyayat itu semakin membuat kepala Tyona meronta-ronta. Ia pingsan kuranglebih pukul lima sore, dirinya juga yakin rekannya telah menghubungi Jeffrey sekitar pukul segitu. Namun ponselnya tak berdering, tak ada pesan maupun telpon yang menanyakan kabarnya. Jeffrey tahu-tahu baru datang sekarang, ketika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah tak berartikah dirinya bagi Jeffrey? Sehingga walau ia jatuh sakit, sang suami tak cemas sedikitpun?
“Tadi Mama menelpon. Menyalahkanku mengapa kita tidak….”
Masih dengan mata tertutup, Tyona merespon. “Kau pikir Mama tidak menyalahkanku?”
Jeffrey menarik nafas panjang. “Setidaknya berbohonglah, Anna. Katakan saja kau sudah mengambil test tapi hasilnya negatif”
Tyona membuka mata, menoleh memandang Jeffrey nanar. “Kenapa harus aku yang berbohong? Jikapun aku melakukan itu, tetap tidak ada bedanya. Mama tetap menyalahkanku atas apapun yang terjadi didalam rumah tangga kita”
Cukup. Tyona sudah sangat lelah dengan perang argumen dengan Jeffrey yang seperti tidak ada akhirnya.
“Jeff, bisakah kau berhenti membawa Darren kedalam rumah tangga kita? Aku dan Darren tidak ada hubungan apapun. Kenapa kau keukeuh sekali dengan pendirianmu?” Tyona diam sejenak. “Atau jangan-jangan kau memang ingin rumor itu benar adanya?”
Jeffrey membuang muka. Tangannya terlipat angkuh di depan dada.
“Kau mengenalku lebih dari siapapun, Jeffrey. Sesulit itukah kau untuk percaya padaku?”
Tyona mencoba mengubah posisinya duduk, tak peduli tubuhnya masih lemas dan kepalanya sakit bukan kepalang. “Aku tidak ingin membahasnya sekarang tapi kau terus-menerus menekanku dengan tuduhanmu yang tidak berdasar. Sekarang biar aku yang balik bertanya, bagaimana jika kau pihak yang berkhianat?”
Rahang Jeffrey mengeras. “Maksudmu?”
“Bagaimana jika di dalam rumah tangga kita memang ada pengkhianat, dan itu adalah dirimu?”
__ADS_1
“Tidak mungkin, Anna” Jeffrey menggeleng sembari tersenyum meremehkan. Kearoganan yang seakan menampar Tyona lebih keras. Perempuan itu lantas mengulurkan tangannya, membuat Jeffrey kebingungan maksud uluran tangan istrinya. “Apa?”
“Ponselmu. Jika memang kau tidak berkhianat, aku ingin lihat ponselmu. Kemarin aku sudah memberimu akses untuk melihat isi milikku, sekarang giliranku”
Jeffrey tertegun. Tentu saja ia tak berpikir Tyona akan balik menekannya. Perihal ponsel, benda itu masih menyimpan percakapannya dengan Renatta yang sudah lama tak ia hapus. Juga riwayat panggilan dengan nomor Rena yang sudah ia samarkan namanya.
Tyona menarik tangannya. Pegal karena terus menggantung tanpa respon dari Jeffrey. Perempuan itu tersenyum pedih melihat keraguan sang suami yang enggan menyerahkan ponselnya. Jika benar ia tidak berkhianat, bukankah pria itu akan dengan murah menyerahkan ponselnya, seperti yang Tyona lakukan sebelumnya?
“Jeff, boleh aku bertanya satu hal padamu?”
Tak perlu menunggu persetujuan Jeffrey. Tyona kembali menekan Jeffrey dengan satu pertanyaan sederhana.
“Apa kau masih mencintaiku?”
**
Satu airmata Tyona luruh, menemani keheningan yang membekap ruang rawatnya. Sudah hampir lima belas menit sejak ia melontarkan pertanyaan paling sederhana yang seharusnya bisa Jeffrey jawab dengan cepat. Namun nyatanya, pria itu mematung seperti batu. Pandangannya penuh kebimbangan, seakan pertanyaan Tyona lebih rumit dari kasus pasien manapun.
Tyona menghela nafas, menyeka airmatanya dengan kasar sebelum kembali ke posisi tidurnya. Kali ini berbaring miring, membelakangi Jeffrey.
“Pulanglah, Jeff. Aku tau kau melalui hari yang panjang. Kau butuh istirahat” Tyona menghentikan kalimatnya ketika menyadari suaranya mulai bergetar, sebagai efek dari airmatanya yang semakin mengalir deras.
“Baju kotornya diletakkan saja di keranjang, besok… kalau aku sudah pulih, akan kucuci. Untuk makan, pesan antar saja, atau makan di rumah Mama. Yang penting kau tidur tidak dalam keadaan perut kosong”
“Anna”
“Aku ingin istirahat Jeff. Sebentar saja. Jadi, bisa tolong tinggalkan aku?”
Kabut pada pandangan Tyona masih mampu menangkap bayangan Jeffrey yang terpantul dari kaca jendela kamarnya. Pria itu masih di tempatnya berdiri, yang kemudian mendekati ranjang Tyona seakan ingin mengatakan sesuatu, namun tak kunjung terucap. Hingga sang suami berbalik, memilih untuk meninggalkan kamar rawat Tyona tanpa sepatah katapun.
Sepeninggal Jeffrey, pecahlah tangis Tyona. Menyadari betapa sesak dan sakit hatinya tak sebanding dengan sakit fisiknya sekarang. Wanita itu menangis hingga tersengguk, sampai pada akhirnya ia terlelap karena kelelahan menangis.
__ADS_1
**