
Sepasang kelopak mata itu membuka perlahan kala lolosan sinar matahari dari jendela yang terbuka menyilaukan penglihatannya. Usai hari kemarin hujan mengguyur tanpa henti, pada akhirnya sang mentari menyambut hari yang baru. Membuat suasana hati menjadi lebih baik. Begitu pula dengan Judith. Seulas senyum telah menghiasi wajah ayunya, moodnya naik dan dirinya bangun dalam suasana hati yang berbunga.
Memejamkan matanya kembali, meyakinkan bahwa yang terjadi semalam memang nyata adanya dan bukan khayal dambanya belaka. Judith membuka mata, samping sisi ranjangnya kosong, namun masih tersisa aroma sang terkasih disana. Lagi-lagi membuat Judith tak mampu menahan senyum dan rona kala mengingat kejadian manis semalam.
Ya, usai berpelukan cukup lama semalam, Jeanno menginap di apartemen Judith. Keduanya bercerita banyak, lebih kepada Jeanno yang bercerita awal mula dirinya membawa Aera pindah, juga hari-hari Aera mengenai prosesnya beradaptasi dengan kakek-nenek dan lingkungan barunya. Terhitung ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari, keduanya baru jatuh terlelap. Mungkin semalam adalah tidur ternyenyak bagi keduanya setelah sekian lama.
Judith melirik jam, pukul sembilan lebih sepuluh menit. Untunglah Jeanno libur, jadi pria itu tidak perlu bangun lebih pagi. Sementara Judith sudah menitip pesan kepada Alya untuk membuka toko lebih dulu tanpa dirinya.
Tapi omong-omong, kemana Jeanno? Tuan tampan itu jelas belum pulang karena Judith melihat ponsel dan kunci mobil Jeanno berada diatas nakas. Tak berselang lama terdengar bunyi berisik dari arah luar, penasaran, Judith menyibak selimut. Ingin melihat keributan apa yang berasal dari sumber suara.
“Tuan?”
Yang disapa menoleh, menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Yaitu senyuman hangat dengan mata melengkung bak sabit, khas Jeanno Alexander. Oh, pria berpundak lebar itu juga tengah bergelut pada sesuatu didepannya, entah apa. Karena Judith tidak bisa melihat.
“Hey, apa aku mengganggu tidurmu?”
Judith menggeleng, dirinya mendekat untuk melihat apa yang Jeanno lakukan. “Tidak kok. Tuan sedang apa?”
“Aku… “ lawan bicaranya mengusap tengkuk, terlihat malu sekaligus canggung. “Aku mencoba membuat sarapan. Sederhana saja hanya sandwich dengan isian seadanya. Tapi tadi tidak sengaja menyenggol tutup gelas sehingga menimbulkan suara berisik. Pasti itu mengganggumu, ya?”
Judith terkekeh. “Tidak kok. Omong-omong, aku belum pernah masak makanan buatan tuan”
“Tidak terlalu istimewa. Buruk malah”
“Aera pernah bilang kalau sandwich buatan tuan adalah salah satu makanan favoritnya” Judith merespon seraya meraih cangkir, hendak membuatkan kopi untuk si tuan Alexander. Namun keburu dicegah oleh Jeanno. “Aku saja, kau tinggal duduk dan nikmatis sarapanmu”
Judith menurut ketika Jeanno membimbing pundaknya untuk duduk disalah satu kursi makan. Disusul dirinya yang membawa dua piring sandwich, kemudian satu gelas susu untuk Judith.
“Aera mengatakan demikian karena aku hanya bisa membuatkannya sandwich. Selain itu masakanku hancur”
Judith tertawa, terlebih kala mendengar sungutan cemberut dari Jeanno. Pria yang penuh karisma itu terlihat begitu hangat dalam situasi seperti sekarang. Masih dengan balutan celana tidur—yang harus dibeli secara dadakan semalam- dan kaos putih polos, rambut yang masih acak-acakan. Jeanno yang tengah menyiapkan sarapan untuknya, untuk mereka.. adalah salah satu dari angan yang dulu hanya berani Judith bayangkan.
Dalam pandangan Judith, Jeanno banyak berubah. Pria itu jauh lebih hati-hati dalam memperlakukannnya. Jika Jeanno yang lama lebih agresif dalam sentuhan fisik, Jeanno yang sekarang akan meminta ijin jika ingin memeluknya, seperti semalam kala mereka ingin menjemput mimpi dalam ranjang yang sama. Jeanno juga meminta maaf karena telah memeluknya terlalu lama di dalam toko semalam. Perlakuan sederhana yang sekali lagi, membuat Judith merasa didamba dan diinginkan.
“Hey, malah melamun”
__ADS_1
Jeanno yang sudah duduk dihadapannya dengan secangkir kopi hitam yang mengepul, mengulurkan tangannya untuk merapikan anakan rambut Judith supaya tidak mengganggu makannya gadis itu.
“O-oh, maaf. Aku makan sandwichnya, ya, tuan?” Jeanno mengangguk. “Beri aku komentar sejujur-jujurnya”
Judith mulai mengunyah, satu kali. Dua kali gigitan. “Enak, kok. Wajar saja Aera bilang buatan tuan enak”
“Tidak sebanding denganmu yang bisa memasak apa saja”
“Ey, aku tidak sehebat itu”
“Omong-omong, apa rencanamu hari ini?”
“Aku mau pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan, lalu ke toko dekorasi untuk membeli vas bunga dan perlengkapan lucu lain yang bisa membuat toko lebih enak dilihat. Kenapa, tuan?”
Jeanno menyesap kopinya yang sudah tidak begitu panas. “Kuantar, ya?”
“Memang tuan tidak ada kesibukan?”
“Tidak terlalu. Hanya ada pertemuan sebentar dengan klien, tidak begitu formal. Paling satu jam. Tidak apa-apa, kan?”
**
Mood yang baik menciptakan hari yang sempurna. Judith sudah merasakan otot pipinya pegal karena tak henti tersenyum seharian ini. Menghabiskan waktu bersama Jeanno diluar ikatan pekerjaan. Pria itu sungguh menemaninya berbelanja, tak membiarkan tanganya menentang belanjaan bahkan yang ringan sekalipun. Ditambah banyaknya pasang mata yang memandang kagum pada pria yang memakai celana denim dan jaket coklat, sebagian lagi memandang iri pada Judith. Ya, Jeanno memang tampan. Dan Judith beruntung bisa mendapatkan hatinya.
Sebut Judith naif, polos atau bodoh sekalipun. Perempuan itu tidak peduli. Ia yang begitu mudah luluh mendengar pernyataan cinta Jeanno usai kekejaman yang pernah pria itu lakukan padanya. Benar Jeanno faktor utama yang membuat bayi mereka meninggal. Tapi nyatanya Judith memang sudah memaafkan Jeanno sejak lama, tanpa harus pria itu berlutut seperti semalam.
“Sudah selesai semuanya?”
Judith mengangguk. “Tuan mau makan apa nanti malam? Biar kumasakkan”
“Kau tidak ke toko?”
Wanita itu menggeleng. Dalam perjalanan tadi ia sudah mengirim pesan kepada Alya untuk berjaga sendirian. Menurutnya terlalu sayang jika ia harus membuang beberapa jam untuk berjaga sementara ia punya kesempatan menghabiskan hari bersama Jeanno.
“Makanan kesukaanmu. Aku ingin makan makanan yang kau suka”
__ADS_1
Judith lantas tersenyum, semangatnya yang membara membayangkan acara makan malamnya dengan Jeanno. Tanpa sadar Judith meraih tangan si tuan tampan. “Kalau begitu, ayo temani ke supermarket”
**
“Ini wortelnya bagaimana?”
Judith menoleh, menghentikan kegiatannya sejenak memasukkan daging ayam kedalam chopper. “Dipotong dadu saja, tuan”
“Dadu? Oke..”
“Judith, sudah selesai”
Sang lawan bicara menoleh, sedikit mengerutkan dahi melihat hasil potongan Jeanno yang bentuknya terlalu abstrak. Betul memang berbentuk dadu, tapi ada yang kecil sekali, ada yang terlalu besar. “Bagaimana? Jelek sekali, ya?”
Judith terkekeh. “Jelek. Tapi yang penting bisa dimakan. Aku serius,tuan. Lebih baik tuan duduk dan menunggu masakanku matang. Aku bisa kok memasak sendiri”
“Tapi aku mau membantu. Selama ini aku tidak pernah melakukannya”
“Baiklah. Kalau begitu tuan lakukan saja yang mudah”
“Seperti?”
“Menggoreng ikan. Mau?”
Jeanno mengangguk dengan binar mata persis seperti anak anjing yang diajak bermain. Judith lantas menuang minyak, mengecek panas suhunya supaya Jeanno tinggal memasukkannya kedalam penggorengan.
“Sudah, hati-hati, tuan”
Usai berkata demikian, Judith pamit sebentar untuk menjawab telpon dari Alya. Sekembalinya dari percakapan perkara keadaan toko yang tidak terlalu rumit, Judith menganga. Melihat bagaimana pria yang selama ini tampil sempurna, tengah berdiri lima langkah dari penggorengan, dengan satu tangan memegang tutup panci layaknya perisai, sementara tangan lain melindungi kepalanya. Setiap letupan minyak yang muncrat, Jeanno mundur satu langkah. Hidupnya seakan bergantung pada ‘senjata’ pada tangannya. Yang padahal ‘musuh’nya kali ini hanyalah ikan dalam penggorengan.
“Judith, Judith apa yang kau lakukan? Jangan mendekat, nanti kecipratan minyak” ujar Jeanno panik ketika Judith dengan santainya malah berjalan mendekati kompor. Diraihnya tutup panci yang dipegang Jeanno, untuk menutupi wajan dan ia kecilkan apinya. Selang sekian sekon, letupan ganas tersebut berhenti. Teredam oleh penutup diatasnya.
“Jeanno Alexander ternyata takut dengan ikan yang digoreng”
Jeanno meringis, mengusap tengkuknya yang tak gatal. Keduanya bertukar pandang lumayan lama, sebelum tawa pecah. Mengingat betapa konyolnya tingkah Jeanno ‘memerangi’ letupan minyak panas dari penggorengan.
__ADS_1
**