
Yvone Alexander tidak bisa menahan harunya ketika melihat sang putra datang bersama cucunya dalam gendongan. Jika Yvone langsung bangkit dan memeluk anak cucunya, maka berbeda dengan Thomas Alexander. Pria itu hanya memandang datar, seakan yang datang ke meja mereka hanyalah orang asing yang tidak pantas mendapatkan atensinya.
“Jeanno sayang.. bagaimana kabarmu?”
Jeanno mengangguk sekilas. “Baik”
“Cucu Oma sudah besar.. Aera sayang, Aera cantik sekali. Masih ingat dengan Oma?”
Aera melihat kearah ayahnya sebelum menaruh atensinya kembali pada wanita paruh baya yang menyebut dirinya sendiri ‘Oma’.
“Dia tidak ingat dengan Mama. Kalian hanya pernah bertemu sekali, dan itu ketika usianya masih kecil”
Yvone mengangguk, memaklumi karena memang sejak Jeanno pergi dari rumah, hanya sekali ia datang menemui putranya. Wajar jika sang cucu tidak memiliki banyak kenangan bersamanya. Jangankan membuat kenangan, bertemu saja hanya satu kali. Figur kakek dan nenek yang paling dekat dengan Aera adalah orang tua Mark. Bukan orang tua dari papanya sendiri.
“Kalian terlihat.. sehat. Bagaimana kabar perusahaanmu, nak?”
Jeanno yang baru mendudukkan Aera dan dirinya sendiri, mengejek dalam hati mendengar pertanyaan Yvone. Mereka tidak bertemu bertahun-tahun, dibanding bertanya perkembangan cucunya, Ibunya justru bertanya mengenai bisnis.
“Baik. Bisnisku berkembang pesat tanpa campur tangan papa”
Dua pasang netra para pria bertemu. Thomas berdehem perlahan. “Kau masih memakai nama Alexander di belakang namamu. Itu sudah bentuk ‘bantuan’ karena dengan nama itu mempermudahmu mencapai segalanya”
“Thomas”
Jeanno tersenyum tipis. “Aera sayang, Aera main dulu dengan Gio dan Olliver ya? Nanti papa menyusul”
Aera mengangguk, usai mengucap salam sederhana pada para dewasa yang duduk di meja itu, Aera berlari menuju kearah sepupu-sepupunya yang kebetulan masih berada di sekitar restoran.
“Papa pikir aku bangga menyandang nama Alexander di belakang namaku?”
“Jangan dengarkan papamu, nak”
Jeanno mengangkat bahunya. “Papa benar, aku seharusnya berterimakasih kepada Papa karena jika bukan karena kearoganannya, aku tidak akan ada di tempatku sekarang”
“Beginikah perlakuanmu setelah lama tidak bertemu dengan orangtuamu?”
__ADS_1
Jeanno menegakkan tubuhnya. “Kalian yang lebih dulu memilih untuk pergi ke Australia, tanpa memberitahuku. Aku tahu dari paman Jose. Bukankah itu lebih menyakitkan? Kalian, terutama papa tidak bisa menyalahkanku jika sikapku masih seperti ini. Ini adalah luka yang dihasilkan akibat penolakan kalian terhadap gadis yang dicintai putra kalian”
“Jeanno..” Yvone mengulurkan tangannya, meraih jemari Jeanno yang entah sejak kapan mengepal kuat. “Itu sudah berlalu sayang, sudah bertahun-tahun yang lalu. Nayara-pun sudah meninggal, bisakah kau.. kembali pada kami?”
Dahi Jeanno mengerut. Ia lantas menarik tangannya dari genggaman Maria, merasa tak nyaman. “Atas dasar apa aku harus kembali pada kalian? Supaya bisa menjadi ‘boneka’ yang bisa dikendalikan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang tuaku?”
“Jeanno! Jaga bicaramu”
“Kalian bahkan tidak memberitahuku kalau akan pulang, kemudian kalian berharap aku kembali menjadi anak yang penurut. Sementara Papa dan Mama sendiri tidak mencerminkan orangtua yang baik?”
Jeanno tertawa kecil, terdengar remeh. “Ironis, ketika aku belajar menjadi orang tua yang baik dari figur orang tua Mark dibanding orangtuaku sendiri. Karena apa? Karena aku tidak bisa mengambil contoh yang baik”
“Bahkan setelah aku memiliki anakpun, papa dan mama tetap bersikap angkuh. Tidak pernah ada kata maaf sekalipun, tidak pernah berusaha menjalin hubungan kembali. Jangan heran jika Aera lebih mengenal Paman Jose dan Bibi Maria sebagai kakek dan neneknya, dibanding orangtuaku sendiri”
Jeanno bangkit dari duduknya, menyadari bahwa jika ia lama diposisi itu, akan lebih banyak ucapan tidak mengenakkan yang keluar dari bibirnya. “Aku pamit. Senang bertemu dengan anda, tuan dan nyonya Alexander”
Jeanno berbalik, mengambil langkah panjang tanpa menoleh lagi.
**
“Permisi, saya dengar dari Shinta kalau nyonya memanggilku?”
“Jangan panggil aku nyonya. Panggil saja Ibu Martha seperti yang lain”
Nayara mengangguk kaku. Sesungguhnya ia gugup ketika rekan kerjanya mengatakan bahwa sang pemilik memanggilnya masuk ke ruangan. Bertanya-tanya, karena sejauh yang Nayara ingat ia tidak melakukan kesalahan apapun dalam bekerja. Nayara tepat waktu, ramah, cekatan. Selama ini Ibu Martha jarang pernah memanggil karyawan ke ruangannya. Membuat Nayara terkejut sekaligus takut, jika bu Martha membawa kabar buruk.
“Kau nyaman bekerja disini?”
“eh? Ny-nyaman, Bu. Saya sangat berterimakasih bisa diberi kesempatan bekerja disini, juga diberi tempat berteduh untuk sementara”
Martha melepas kacamatanya, kemudian menatap lurus kearah sang karyawan. “Yakin kau nyaman dengan kamar sementaramu? Ruangan itu sangat kecil, Nay. Tidak ada jendela, tidak ada sirkulasi udara yang sehat. Pasti pengap sekali. Belum lagi hanya beralaskan kasur tipis. Apa badanmu tidak pegal-pegal?”
Nayara dengan cepat menggeleng. “Itu sudah lebih dari cukup, Ibu. Saya justru tidak enak hati karena belum bisa membalas kebaikan anda”
“Begitukah? Hmm.. sebenarnya tujuanku memanggilmu kesini ada kaitannya dengan tempat tinggalmu, Nay”
__ADS_1
Nayara memilin jemarinya gugup. Jika bosnya hendak mengusirnya pergi, Nayara tidak tahu harus tidur dimana lagi. Tapi tidak mungkin ia memohon untuk tetap tinggal, bagaimanapun dirinya sudah diberi tempat berteduh secara Cuma-Cuma. Akan sangat tidak tahu terimakasih jika Nayara mengemis untuk tetap tinggal secara gratis.
“Kau gugup sekali” Martha tertawa kecil. “Jangan takut, Nayara. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa adikku baru saja diterima bekerja di perusahaan asing di Jepang. Masalahnya.. apartemennya sudah dibayar dimuka selama satu tahun. Karena perjanjian diawal, dia tidak bisa meminta biaya sewa kembali. Jadi daripada dibiarkan kosong dan tidak terawat, kupikir lebih baik kau yang memakainya”
Nayara tergagap. “T-tapi.. maaf Ibu, tapi tabungan saya belum cukup untuk mengganti deposit dan uang sewa. Lebih baik saya disini saya, kalau diijinkan”
Martha menggeleng cepat. “Tidak perlu dipikirkan untuk biaya sewa dan deposit, Nay. Tugasmu hanya merawat apartemen itu. Kau bisa memakainya sampai masa sewanya habis selagi mengumpulkan tabungan. Jangan khawatir, adikku akan menetap lama di Jepang. Dia sendiri mengatakan mungkin dua sampai tiga tahun baru bisa pulang kemari”
“Nay, kau pegawaiku yang sangat rajin. Anggap saja ini bentuk apresiasiku atas kinerjamu yang luar biasa. Jadi.. aku tidak mau mendengar penolakan, mengerti?”
Setelah memakan waktu cukup lama untuk memaksa Nayara menerima tawarannya, Martha meminta gadis itu untuk kembali bekerja, tentu setelah Nayara mengucapkan terimakasih yang tak ada habisnya. Sekian detik usai pintu ruangannya tertutup rapat, ponselnya berbunyi.
“Tuan Alexander? Ya, dia sudah menerimanya. Saya pastikan dia akan pindah hari ini juga”
*
**
Judith masih menunggu.
Usai pamit untuk bertemu dengan kedua orangtuanya bersama dengan Aera, Jeanno kembali tidak berselang lama ke kamar mereka, sendiri tanpa Aera. Yang ketika ditanya dimana keberadaan putrinya, Jeanno hanya menjawab putrinya bersama dengan sepupu Mark. Sudah, setelah itu sang tuan muda masuk ke kamar mandi.
Awalnya Judith mengira semua baik-baik saja. Well, ekspresi Jeanno memang tegang ketika pria itu masuk. Tapi Judith pikir bukan masalah berarti, sampai ia mendengar pecahan kaca dari dalam kamar mandi. Disitu Judith tahu, jika pertemuan antara mereka tidak berjalan baik.
“Jika tuan sudah tenang, tuan keluar ya? Lukanya harus segera diobati sebelum infeksi. Aku disini, menunggu tuan..”
Begitulah yang diucapkan Judith setengah jam yang lalu. Tak ada sautan dari dalam. Membuat Judith panik, takut jika Jeanno melakukan hal yang tidak diinginkan. Namun sedetik kemudian ia menyadari bahwa Jeanno bukanlah tipe orang seperti itu. Mungkin yang diinginkan pria itu hanyalah waktu sendiri, dan Judith akan memberikannya.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Jeanno dengan wajah berantakan dan darah yang menetes dari buku-buku jarinya. Judith menghampiri, membiarkan pundaknya menjadi sandaran bagi Jeanno. Dari posisi berdirinya, Judith bisa melihat kepingan kaca yang pecah berantakan.
__ADS_1
Tuan muda itu, masih menyimpan luka yang dalam. Yang tidak tahu kapan sembuhnya. Dan kehadiran orangtuanya, selayaknya garam penabur luka yang membawa kembali perih itu.
**