
Sekon berlalu entah sudah berapa lama. Denting jarum jam satu-satunya yang menemani suasana apartemen Jeanno kala itu. Sepulang dari acara pertunangan berkedok acara bisnis, Mark mengantar mereka berdua ke apartemen Jeanno, mengingat pria itu telah menanggalkan status sosialnya sebagai putra Alexander dengan berbagai materi yang melekat.
Sepeninggal Mark, tidak ada yang bicara. Jeanno dan Nayara hanya duduk berdampingan, saling memeluk. Seakan ingin menikmati sepuasnya eksistensi satu sama lain setelah cukup lama tidak bertemu. Jemari saling bertaut, keduanya mengalami malam yang kacau. Harus mendeklarasikan hubungan mereka didepan banyak orang, belum lagi fitnahan dan cacian merendahkan yang dilontarkan oleh orang yang berlabel orangtua. Sungguh, Jeanno sangat kecewa.
“Jeanno..”
“Hm?” Nayara yang memulai pembicaraan. “Jika kau menyesal dengan keputusanmu, kau bisa kembali. Kau tidak harus memilihku”
“Aku tidak menyesal, Na”
“Ini adalah pilihan jangka panjang. Kau sudah terbiasa hidup mewah sejak kecil. Apa kau siap dengan keterbatasan materi jika hidup denganku?”
Jeanno mengangkat kepalanya. Sejujurnya ia merasa lelah jika harus berdebat lagi. “Bisakah kita lanjutkan besok? Aku lelah sekali, Na”
“Aku tidak mau pilihanmu hanya euphoria belaka. Aku tidak mau nantinya, setelah kita sudah berjalan jauh, kau merasa tidak sanggup hidup sederhana dan akhirnya meninggalkanku. Jika begitu, ini waktu yang pas untukmu pergi, Jeanno. Sebelum kita melangkah lebih ja—“
Nayara tidak sempat menyudahi kalimatnya akibat ranum Jeanno yang membungkam bibirnya. Ciuman itu begitu dalam, begitu putus asa. Jeanno seakan ingin memberitahu Nayara segala emosi yang ia rasakan. Rindu setengah mati, kesal, marah, kecewa, sekaligus lelah. Jeanno ingin Nayara percaya bahwa ialah rumah terakhir baginya.
Gadis itu memekik ketika Jeanno menggigit bibir bawahnya. Hal itu ia gunakan sebagai kesempatan untuk mengeksplor pagutan mereka. Nayara yang semula berontak, kini melemah dan membalas seadanya. Posisi mereka yang semula duduk bersebelahan, entah sejak kapan berubah menjadi Nayara yang berbaring dibawah Jeanno.
Pergumulan panas itu terhenti ketika Nayara memukul dada Jeanno, memberi isyarat pada pria itu bahwa ia butuh bernafas. Jeanno dengan berat hati menarik kepalanya, tanpa menjauhkan jarak. Ia mengabsen wajah ayu yang telah lama ia rindukan dengan telunjuknya.
“Aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku, Na. Aku memang pria brengsek yang menghilang empat bulan darimu. Tapi percayalah, aku lakukan itu karena papa mengancamku akan menyakitimu. Begitu tahu bahwa papa adalah penyebab beasiswamu dicabut, aku merasa kepatuhanku selama ini sia-sia. Tidak ada jaminan dia tidak menyakitimu lagi”
“Kau rumahku, Nayara. Aku mencintaimu, dan hampir gila karena tidak bisa menemuimu selama berbulan-bulan. Maaf aku tidak membalas voicemail yang kau kirim. Maaf aku sudah menjadi pria pengecut yang terkesan tidak mau memperjuangkan hubungan kita. Maaf karena kau telah dipermalukan dihadapan orang banyak. Maaf untuk segalanya”
Jeanno memejamkan matanya, merasakan jemari Nayara mengusap wajahnya lembut. Dikecupnya tangan itu beberapa kali. “Nayara, ayo kita menikah”
Nayara bisa merasakan keseriusan dari pria itu kala netra mereka bertemu. “Ayo kita menikah. Kita buktikan kepada manusia-manusia sombong disana bahwa kita bisa bahagia memiliki satu sama lain. Kita bisa saling menguatkan. Aku akan berjuang demi keluarga kita supaya bisa hidup berkecukupan tanpa uang keluargaku. Tapi sampai saat itu tiba, temani aku, ya?”
__ADS_1
Nayara tersenyum, berbanding terbalik dengan airmata yang luruh dari ujung matanya. Ia mengangguk, lebih dari sekali.
“Ya, aku mau menikah denganmu, Jeanno”
**
“Memperpanjang..?”
Jeanno berdehem. “Ya, apa kau keberatan?”
Judith sebetulnya tidak keberatan sama sekali. Tidak jika posisinya sekarang sedang tidak berbadan dua. Tapi jika diperpanjang, itu artinya lambat laun Jeanno akan menyadari perubahan fisik tubuhnya. Apa ia harus mengatakannya sekarang? tapi bagaimana jika Jeanno marah dan memutus kontrak kerjanya karena ia telah melanggar salah satu poin?
“Aku.. akan memikirkannya”
“Aku sudah menyiapkan lima miliar untuk perpanjangan kontrak ini. Dua tahun. Apa itu terlalu lama?”
Nada bicara Jeanno mengingatkannya kepada Jeanno yang dulu menawarinya kontrak kerja. Rendah dan penuh intimidasi. Bunyinya memang penawaran, tapi terbesit paksaan didalamnya. Seakan Jeanno tak suka jika kemauannya ditolak. Hal itu yang sedikit melukai hati Judith. Bukan perkara uang yang Judith pikirkan, namun hal lain. Masalah pribadinya. Jika dalam kurun enam bulan saja dunianya sudah dibolak-balikkan, lalu apa yang akan terjadi dalam dua tahun?
Bahkan lima ratus juta, dan uang bulanan yang selama ini Jeanno transfer tidak berkurang banyak. Judith hanya membelanjakannya sedikit, terlebih jika ia melihat pakaian yang lucu untuk Aera ketika berjalan-jalan di mall.
Tawaran Jeanno menarik. Jika Judith adalah Judith yang dulu. Namun kenyataannya, Judith yang sekarang berbeda dari sosok dirinya enam bulan silam. Uang tak lagi menyilaukan matanya. Ia bahkan rela jika harus menjadi sosok ‘Nayara’ tanpa dibayar selama yang Jeanno mau, selama Jeanno juga menurunkan egonya. Tak apa berpura-pura sebagai Nayara di hadapan orang lain. Asal Jeanno melihatnya sebagai Judith ketika hanya ada mereka berdua.
“Aku minta waktu”
Ada raut kekecewaan dari Jeanno. Ia berharap Judith langsung memberinya jawaban, mengingat tawaran yang ia berikan cukup menggiurkan.
“Baiklah. Lusa, aku ingin kau memberiku jawaban” Jeanno menegakkan posisi duduknya. Sembari memandang lurus kearah Judith, seperti yang tadi ia lakukan kepada Sharin.
“Pikirkan baik-baik, Judith. Pikirkan Aera”
__ADS_1
**
One week later
“Apa yang harus mama lakukan sayang?”
Judith mengusap perutnya lembut. Monolog dengan si kecil memang sering ia lakukan, terlebih ketika sahabatnya masih berada difase bulan madu. Tentu saja Judith tidak ingin mengganggu Hannah dengan masalah baru yang ia hadapi.
Bisa saja Judith jujur, tapi ia takut. Terlalu takut untuk menghadapi reaksi Jeanno. Ia belum siap jika harus menghadapi Jeanno yang dulu. Yang dingin dengannya. Judith lupa daratan akibat afeksi yang selama ini Jeanno berikan, terlebih ketika pria itu rela kehilangan banyak uang karena telah membatalkan perjanjian kerjasama demi dirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari namun mobil Jeanno tidak kunjung datang. Terakhir pria itu bilang akan lembur, tapi tidak mengatakan kapan selesainya. Mulai khawatir, Judith meraih ponsel. Baru mendial nomor tuannya, mobil Jeanno memasuki area rumah. Membuat gadis itu bernafas lega. Buru-buru ia menuruni anak tangga untuk menyambut Jeanno.
“Aku baru saja akan menelpon tuan. Karena tuan tidak kunjung pulang, jadi kupikir tuan ketiduran di kantor”
Sedikit terkejut. Begitu yang Judith rasakan ketika ia membuka pintu dan mendapati sosok Jeanno berdiri disana. Pria itu memang Jeanno, tapi aura yang terpancar darinya berbeda. Pria itu memandangnya lurus dan tajam. Ada bau alkohol tipis indera penciumannya.
“Tuan?”
Judith tidak memiliki waktu untuk menghindari ketika Jeanno menerjang tubuhnya tiba-tiba. Menciumnya secara brutal dan penuh paksaan. Wanita itu memekik ketika bibirnya digigit, merasakan rasa amis akibat luka baru diatas bekas luka tamparan Sharin. Sepenuh tenaga Judith mendorong Jeanno dan menampar pria itu. Judith takut, dengan cepat ia berlari menuju kamarnya. Ia terlalu takut untuk menoleh kebelakang, terlebih derap langkah panjang dibelakangnya. Ia menyadari Jeanno mengejarnya.
Ketakutan lama itu kembali menyeruak. Mendobrak benteng yang selama ini berhasil ia pendam. Trauma yang telah ia simpan, kembali diingatkan oleh pria yang dicintainya. Judith dengan cepat menutup pintu kamar, akan tetapi Jeanno jauh lebih cepat. Pria itu melesak kedalam, membawa Judith kembali dalam ciuman yang dingin dan kosong.
Judith meronta, memukul, menendang, namun tenaganya tidak sebanding dengan milik Jeanno. Hingga ia kelelahan sendiri dan memilih pasrah dengan apa yang Jeanno lakukan. Untuk kali pertamanya, ia tidak mengenali sentuhan Jeanno. Sentuhan pria itu dulunya memabukkan, mampu menghantarkannya ke surga tertinggi. Namun sekarang, tak ubahnya seperti pria brengsek yang hanya memanfaatkan tubuhnya.
Setitik airmata jatuh, sakit pada bagian selatannya akibat permainan yang kasar tak sebanding daripada sakit di hatinya. Satu hal yang Judith harapkan, semoga tidak terjadi apa-apa dengan bayinya.
“Pelacur harus diperlakukan seperti pelacur”
Segala bayangan serta memori indah itu, hancur oleh satu kalimat dari bibir Jeanno.
__ADS_1
**