Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 78. Lean On


__ADS_3

Bukan Darren tidak melihat bagaimana Tyona datang ke rumah sakit seperti zombie. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Tatapan kosong, juga sembab disana seperti layaknya orang habis menangis. Ingin rasanya ia berlari menghampiri wanita itu, namun Darren memilih tetap di tempatnya. Ia tak ingin menambah rumor jika menghampiri Tyona di pagi hari seperti ini. Omong-omong, firasatnya mengatakan Tyona sudah mengetahui kebusukan Jeffrey.


Tidak. Jika ditanya apakah Darren bahagia sekarang? Jawabannya Tidak. Sebesar apapun cintanya pada Tyona, juga keinginannya memiliki wanita itu, tidak sebanding jika harus melihatnya tersakiti. Darren jauh lebih memilih melihat rona bahagia Tyona dibanding melihat kawannya seperti sekarang. Mentari paginya berubah mendung dan tak ada kehangatan sama sekali. Cahayanya redup, ironisnya, suaminya sendiri yang merenggutnya.


Begitu saja, Darren memutuskan untuk kembali ke polinya. Berharap ia bertemu dengan dokter pediatri itu nanti siang dalam keadaan yang lebih baik.


“Halo, Kiran? Kau masuk pagi atau jaga malam?”


“Ah, masuk pagi. Syukurlah. Tidak, aku hanya ingin meminta bantuan”


“Jika ada waktu luang, bisakah kau mengajak Anna makan siang bersama? Aku melihatnya barusan, ia terlihat sangat kacau. Aku ingin menghampirinya tapi kau tau sendiri akan seperti apa akibatnya jika aku terlihat pagi-pagi bersama istri orang lain”


“Aku mencemaskannya. Hanya kau yang bisa kumintai bantuan saat ini karena aku percaya padamu”


“Baik kalau begitu, terimakasih banyak, Kiran”


Darren menghembuskan nafas lega. Setidaknya dari seantero Rumah Sakit, ia masih memiliki Kirana, rekan sejawat sekaligus sahabatnya dan juga sahabat Tyona. Satu dari sedikit orang yang netral dan tak berpihak pada siapapun akan rumor perselingkuhannya dengan Tyona.


Setidaknya, ada yang menjaga dan menemani Tyona disaat ia tak bisa melakukannya.


**


Kembali pada makan malam Jeanno dan Arman.


Usai berkata mengenai poin kesebelas yang ditambahkan secara mendadak oleh Jeanno selaku pihak pertama, Judith dibuat terkejut lagi karena satu kecupan yang mendarat di bibirnya. Diakhiri dengan senyuman dari Jeanno.


Berbekal itu, kepercayaan diri Judith perlahan kembali. Dengan tangan mengalung di lengan Jeanno, keduanya melangkah bersama menuju meja yang sudah dipesan Arman. Yang kebetulan, si pengundang juga sudah duduk manis disana.

__ADS_1


“Selamat malam, selamat datang Tuan dan Nyonya Alexander” Arman yang melihat kedatangan tamunya, refleks berdiri untuk mengucap salam. Jeanno dan Judith mengangguk sekilas sebelum mengambil duduk diseberang kursi Arman.


Jeanno bisa melihat dengan jelas bagaimana Arman dengan susah payah mengontrol dirinya untuk tidak melihat kearah Judith. Maka dari itu ia berdehem cukup keras.


“Kurasa kita sama-sama tau tujuan anda mengundangku dan istriku makan malam, Tuan Arman”


Arman tersenyum kaku. “Ah ya, seperti yang kita bicarakan ditelpon, undangan ini adalah kesempatanku untuk meminta maaf secara langsung pada anda dan istri anda perihal kejadian kurang menyenangkan yang saya lakukan beberapa waktu lalu”


Jeanno menoleh sekilas kearah Judith sebelum mengembalikan kembali atensinya kearah Arman. “Perbuatan yang anda lakukan kepada istriku bisa termasuk dalam pelecehan. Aku bisa dengan mudah membawa kasus ini ke pengadilan mengingat aku sudah mengantongi banyak bukti”


“Dan untuk kasus ini, aku berani jamin akan langsung bisa menjebloskanmu ke penjara sebelum kau memiliki waktu untuk menyuap hakim, atau menguras uang ayahmu untuk membayar puluhan pengacara. Singkatnya, kau telah membuat masalah kepada orang yang salah, Tuan Arman”


Arman berdehem canggung. Tak bisa dipungkiri ia cukup terintimidasi dengan bagaimana Jeanno bicara dan menatapnya tajam.


“Maafkan aku, sungguh aku benar-benar meminta maaf. Yang terjadi waktu itu murni kesalahpahaman. Aku mengenal seseorang yang menghilang begitu saja, dan kebetulan dia sangat mirip dengan istri anda. Kekalutanku menutup akal sehatku, sehingga mengira bahwa istri anda adalah orang yang kucari”


Jeanno mengeluarkan amplop berukuran sedang dari balik saku jasnya. Ia keluarkan lembaran demi lembaran yang ternyata adalah foto.


“Aku tau kau pasti sudah menyelidiki latar belakangku. Kuberitahu sekarang juga, bahwa aku sudah mengenal Nayara sejak kami masih kuliah. Aku mencintainya, dan memutuskan untuk menikahinya usai kami lulus. Alasanku tidak pernah memperlihatkannya kepada media, adalah karena aku menyukai kehidupan pribadiku tertutup dari dunia luar. Kau bisa lihat bagaimana rupa gadis di foto-foto itu, bukan? Dan bandingkan dengan wanita yang sekarang ada disampingku. Apakah sama?”


Arman menilik lembaran momen dalam wujud foto yang dibagikan Jeanno. Nayara yang dulu, sama persis dengan wajah wanita dihadapannya sekarang. Wajahnya sontak memucat. Jadi benar jika wanita itu adalah.. Nayara Alexander? Bukan Judith?


“Aku sangat kecewa, perkenalan kita di hari pertama menjadi rusak karena hal kurang mengenakkan akibat pikiran pendekmu. Kau bahkan menyebut istriku.. pelacur? Untuk ukuran pria berpendidikan sepertimu bukankah itu sangat tidak pantas? Jadi kusimpulkan, bahwa orang yang kau cari adalah wanita simpananmu? Astaga, Arman. Kuingatkan bahwa Ayahmu adalah pengusaha ternama, dan istrimu juga selebriti. Bagaimana jika media sampai tahu bahwa kau memiliki wanita lain, dan bagaimana jika media tau kau melecehkan istri Jeanno Alexander? Kau bisa membunuh dua orang disini. Nama baik ayahmu, dan karir istrimu”


Arman mengusap wajahnya kasar. “Tuan Alexander, aku benar-benar minta maaf. Aku bersedia melakukan apapun untuk menebus kesalahanku, asal jangan sampai Ayahku dengar mengenai ini, dan media, juga jangan sampai bocor ke pers. Aku bahkan akan bersujud ke kaki istrimu jika kau menyuruhku begitu”


Jeanno tersenyum sinis. “Istriku bahkan tidak sudi jika kakinya disentuh oleh pria sepertimu. Permintaanku hanya satu, jangan ganggu istriku. Jangan pernah muncul lagi di hadapannya, maupun keluargaku untuk alasan apapun. Jika aku melihat kau melanggar bahkan seujung kukupun, kau akan tamat di tanganku, Arman Mahendera”

__ADS_1


**


“Tuan sangat hebat! Aku tidak pernah melihat Arman pucat ketakutan seperti tadi. Tuan berhasil membuatnya hilang kata-kata! Tuan tau? aku sedari tadi menahan tawa, ingin rasanya aku menyumpahi Arman”


Jeanno terkekeh. Perjalanan mereka pulang dilalui dengan kalimat-kalimat sanjungan dari Judith yang tak kunjung terputus.


“Aku tidak sehebat itu”


“Jangan merendah untuk meroket, Tuan” Judith memutar bola matanya jengah. “Omong-omong, mengapa Arman terlihat takut sekali dengan Tuan?”


“Sederhana saja, karena dia takut dengan Ayahnya. Dan aku mengenal baik Ayahnya. Tuan Robert menghormatiku sebagai anak dari Thomas Alexander, pria yang sudah membantu perusahaannya bangkit dari keterpurukan beberapa tahun yang lalu. Jadi jika aku mengatakan keburukan tentang Arman, akan sangat mungkin Tuan Robert lebih percaya padaku dibanding anaknya sendiri”


Judith memandang Jeanno takjub. “Pokoknya Tuan sangat hebat malam ini!”


“Jadi sebelumnya aku tidak keren?”


Judith menggeleng polos. “Tidak”


Tangan Jeanno yang semula berada di persneling, terulur untuk mencubit pipi Judith. Membuat tangannya dipukul pelan oleh perempuan itu.


“Katakan Tuan mau makan apa? Tadi kita kan hanya minum wine sedikit, jadi aku tau Tuan pasti kelaparan. Katakan apa yang ingin Tuan makan, nanti aku masakan spesial untuk Tuan”


Jeanno menginjak rem karena lampu lalu lintas berubah merah. Lalu ia menoleh untuk menjawab pertanyaan Judith.


“Kau. Aku ingin memakanmu”


**

__ADS_1


__ADS_2