
Hari ini Louis mengajak Ibu dan Helga kesalah satu Mall. Menggunakan trik murahan untuk semakin merebut hati Ibu dan adik Hannah. Hannah diajak, namun dengan tegas ia menolak. Mau sebanyak apapun Louis menghujaninya dengan materi, tetap tidak akan mampu menyentuh hatinya yang sudah ia titipkan kepada Mark untuk dijaga.
Untuk menghindari Hannah berbuat yang tidak-tidak, Louis meminta bantuan Johnny untuk menjaga Hannah. Oh, Louis juga belum tau mengenai insiden yang menimpa Mark. Biarlah, Johnny juga tidak berniat memberitahunya.
“Hannah”
Lawan bicaranya tidak menjawab, hanya melirik sekilas.
“Aku akan meminjamkan ponselku jika itu yang kau mau. Tapi Mark tidak akan mengangkat telpon darimu”
Dahi Hannah mengerut tak suka. “Kenapa kau berkata begitu?”
Hannah melangkah cepat, setengah berlari meninggalkan Johnny yang berjalan di belakangnya. Sedari tadi, airmata tak kunjung berhenti mengalir begitu mendengar kabar yang menimpa Mark. Ia, ditemani Johnny, lantas mencuri waktu untuk pergi ke rumah sakit tempat Mark dirawat.
“Hannah?”
Begitu melihat Hannah yang berbalut topi, Judith bangkit dari duduknya, memeluk tubuh Hannah yang menurutnya semakin kurus. Hannah terisak dalam dekapannya, menyesali mengapa ia baru tau sekarang. Di belakangnya, Judith menggumamkan kata ‘terima kasih’ kepada Johnny. Mengingatkannya akan pembicaraan mereka semalam.
“Dimana dia? Aku ingin melihatnya..”
Judith menoleh kearah Maria dan Jose yang sedari tadi memandang mereka dari tempatnya. “Hannah, perkenalkan.. mereka orang tua Mark”
“Paman, Bibi.. dialah Hannah. Kekasih Mark..”
Maria melangkah pelan, kalah jauh karena Hannah sudah lebih dulu menghampirinya. Dipikirnya ia akan menyambut dengan pelukan seperti Judith, namun Hannah justru merendahkan tubuhnya, bersujud di kaki Maria sembari tersengguk.
“Maafkan aku, Bibi. Maafkan Hannah yang telah menyakiti Mark..”
Judith memutuskan untuk meninggalkan Hannah, memberinya waktu bersama keluarga Mark. Johnny mengekorinya. “Kita tidak punya banyak waktu, Judith. Aku harus mengajaknya kembali sebelum Louis pulang”
“Bagaimana dengan rencana kita? Kau yakin dua minggu waktu yang cukup?”
__ADS_1
Johnny mengangguk. Tak perlu kata-kata untuk meyakinkan Judith. Ia cukup percaya diri rencananya, dengan bantuan Jeanno, akan berjalan dengan lancar.
“Sshh, bangunlah, nak. Jangan seperti ini, Bibi dan Paman sudah memaafkanmu, bangunlah sayang” perlahan, Hannah bangkit, mensejajarkan tubuhnya dengan Maria yang menariknya kedalam dekapan hangat.
“Hannah sayang, kekasih putraku. Wanita yang dicintai putraku. Bibi mohon, bantu Mark melewati masa kritisnya.. dia membutuhkanmu sayang”
Hannah mengusap airmatanya walaupun pundaknya masih tersengguk. “B-bolehkah aku.. menjenguknya?”
Maria mengangguk. Sementara Jose memanggil perawat untuk membantu Hannah memasangkan atribut steril yang harus dikenakan pengunjung setiap akan memasuki ruang rawat Mark.
“Kau harus kuat, sayang”
Hannah mengangguk. Pintu terbuka, dibawanya langkah kaki perlahan. Begitu ia menyingkap tirai, kekuatan kakinya hilang, membuat Hannah kembali ambruk dalam tangisan. Hatinya hancur melihat pria yang ia cintai, kini terbaring tak berdaya dengan berbagai alat medis yang menopang hidupnya. Bertambah hancur ketika ia menyadari bahwa mungkin saja ketika Mark membuka mata, ia sudah tak ada lagi disini.
Hannah tak pernah menangis separah ini. Ia bahkan tak sanggup bangkit, kepalanya berat akan rasa bersalah dan pundaknya tersengguk jauh lebih hebat. Ia memeluk lutut, membiarkan dirinya menangis diatas ubin rumah sakit yang dingin.
Hancur. Dunianya runtuh dan cintanya direnggut secara paksa. Tak ada titik terang yang menyambutnya. Ia akan menjadi istri orang lain dalam kurun waktu dua minggu. Membuyarkan segala bayangan yang telah ia susun jika menjadi istri seorang Mark Sebastian.
“Sayang.. bagaimana kabarmu? Ini aku… Hannah”
Hannah menutup mulutnya, tak kuasa bicara lagi akibat buncahan emosi yang menohoknya dahsyat. Ia memukul-mukul dadanya. Seakan itu bisa mengurangi kesakitan disana, namun nyatanya, tak berkurang sama sekali. Hingga waktu besuk habis dan salah satu perawat memandunya keluar, Hannah masih memakukan pandangannya kearah Mark.
**
Ada pemandangan berbeda di Rumah Sakit. Tyona dan Jeffrey datang bersama, usai sekian lama mereka tidak disuguhkan pemandangan pasangan ideal itu. Tentu saja berita kemunculan Jeff dan Tyona yang datang bersama merebak dikalangan tenaga medis. Terlebih ketika Jeffrey dengan raut wajah berseri menggandeng istrinya mesra, bahkan mengantarnya ke poli anak.
Kabar itu sampai hingga telinga Darren. Well, bukan hanya mendengar tapi ia juga melihat keduanya keluar dari mobil. Dahi pria itu menyernyit, bukan tak suka jika mereka sudah akur. Namun menurutnya ada kejanggalan disini. Jika memang Tyona dan Jeffrey sudah berdamai, mengapa hanya Jeffrey yang terlihat bahagia? Sementara Tyona.. raut wajah dokter itu bahkan jauh lebih kacau dari sebelumnya.
“Selamat pagi, Darren”
Lamunan Darren buyar ketika Jeffrey menyapanya. Ia menoleh, melihat pria itu tersenyum penuh kemenangan kearahnya.
__ADS_1
“Aku tadi melihatmu di parkiran. Kenapa tidak turun untuk menyapaku dan Tyona?”
Darren tidak menggubris, lebih memilih fokus dengan ponselnya.
“Kau pasti kecewa melihatku sudah berdamai dengan Anna. Kau pasti kecewa karena untuk yang kesekian kalinya, kau gagal merebut Anna”
Darren menyimpan ponselnya. Menghela nafas kasar karena pagi yang seharusnya berjalan mulus, mendadak rusak oleh satu orang yang dibencinya.
“Koreksi aku jika aku salah, tapi menurut penglihatanku tadi, Tyona seperti tidak bahagia? Apa ya, menurutku dia tertekan. Jika kalian berdamai, mengapa hanya satu yang terlihat bahagia?”
Senyuman Jeffrey pupus. “Sebaiknya kau fokus pada dirimu sendiri dibanding mengurusi ekspresi istriku, Darren”
Kini Darren yang tersenyum. “Sebaiknya kau fokus pada selingkuhan dan bayimu dibanding harus menyakiti wanita lain, Jeffrey”
Darren melangkah melewati Jeffrey, menabrak bahunya keras sebagai bonus. Jeffrey yang tak terima, berbalik melayangkan tinju kearah Darren hingga kacamata dokter itu terlempar ke lantai. Beberapa tenaga medis yang melihat sontak melerai keduanya. Untunglah suasana pagi kala itu masih sepi, hanya ada beberapa tenaga medis berlalu-lalang.
“Kau, jauhi Anna sebelum aku bersumpah akan membawanya jauh dari jangkauanmu”
Darren mengusap rahangnya, sial, lumayan juga tinju Jeffrey, batinnya. Ia melihat kearah rekannya yang seperti kebakaran jenggot. Darren tersenyum, seraya meniup kacamatanya yang berdebu.
“Kita buktikan saja, Jeff. Akulah yang akan membahagiakan Anna, sementara kau, kau akan menghabiskan sisa hidupmu bergelung dalam penyesalan”
**
“Kita masih memiliki dua minggu. Aku akan membantumu sebisaku untuk menemui Mark secara diam-diam. Tapi aku minta kau menuruti perkataanku. Jangan sampai Louis, atau keluargamu tau mengenai hal ini. Dan.. makanlah, Hannah. Aku tidak mau kau sakit”
Sepulang dari rumah sakit, Hannah seperti orang tak waras. Pandangannya kosong, sesekali airmata mengalir begitu saja. Ia menolak makan, tidak bicara dengan siapapun. Louis, Ibu, bahkan Helga sudah mencoba, namun Hannah tak bergeming. Louis mengira itu hanya bentuk pemberontakan Hannah menolak pernikahan mereka, tanpa ia tau bahwa sebenarnya Hannah memikirkan kondisi Mark yang sewaktu-waktu bisa turun.
Malam yang sunyi, Hannah masih terjaga. Ia melirik kearah Ibu dan Helga yang sudah nyenyak dalam mimpi. Dalam samarnya cahaya, mata Hannah menangkap benda mengkilap yang berada diatas nakas. Ia teringat, tadi Helga sedang belajar sambil makan beberapa potong apel. Sepertinya sang adik lupa menyimpan apel dan pisau kembali ke dapur.
Hey, pisau. Bukankah itu benda yang selama ini Hannah cari?
__ADS_1
**