
Langkah kaki itu terbata-bata, antara ragu sekaligus takut. Ragu apakah ia memilih untuk mengikuti kata hatinya untuk menemui gadis kecil disana. Takut akan penolakan, karena bagaimanapun ia memiliki janji yang telah diingkari.
Hannah menoleh kebelakang, memutuskan untuk mundur beberapa langkah, menyamakan posisinya dengan Judith. Setia ia menanti bersama sahabatnya, menunggu sang mantan penari erotis itu menata hati.
“Kapanpun kau siap” ucapnya dengan senyuman. Judith menarik nafas panjang, menghembuskannya samar. Ia tak pernah segugup ini barang bertemu dengan anak perempuan berusia tujuh tahun. Dibanding dulu, ia bahkan tak menyimpan kegugupan ketika harus menari setengah telanjang di hadap puluhan pasang mata.
“Aku takut sekali, Hannah”
“Aku mengerti. Tapi ketakutanmu tidak akan pergi jika kau belum menemuinya, kan?”
Pandangannya dibawa lurus, disana ada Mark yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya sendiri. Siap untuk membukanya kapanpun Judith siap. Satu lagi hembusan nafas, perempuan itu mengangguk kearah Mark. Yang ditanggap oleh pria itu dengan sigap. Dibukanya daun pintu yang berdiri gagah. Tak lama kemudian, terdengar teriakan dari dalam rumah.
“Paman Mark!!”
Si kecil berlari, diikuti oleh Maria di belakangnya yang terkekeh karena energi Aera yang membuncah untuk menyambut kepulangan pamannya. Mark menunduk ketika tangan mungil itu memeluk kakinya. Persis seperti yang selalu ia lakukan pada papanya dulu setiap pulang bekerja.
“Aunty Hannah mana?”
Rupanya si kecil belum melihat penampakan Judith. Mark yang ditanya seperti itu, hanya menoleh dan menunjuk ketempat Hannah dan Judith berdiri. Sontak saja, bola mata kelinci itu berbinar lucu.
“Mama!”
Dekapan di kaki Mark hilang pada detik berikutnya, karena Aera tak ingin membuang barang sesekonpun untuk tidak berlari dan memeluk pinggang Judith.
“Ini betul mama?”
Judith bertukar pandang dengan Hannah, yang matanya sudah berkabut suka-cita. Judith menunduk, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Aera. Ditangkupnya wajah sang malaikat kecil, menatapnya lama seakan ia ingin menyimpannya sebagai memori.
“Iya, sayang. Ini mama.. mama Judith”
Validasi yang cukup bagi Aera untuk menghambur memeluk Judith. “Aera rinduuu sekali.. Aera rindu mama”
Kendati kalimatnya kurang jelas karena wajah Aera terbenam di ceruk leher Judith, sang lawan bicara cukup mendengarnya samar. Sederet kalimat sederhana yang mampu mengikis ketakutan yang semula melingkupi hati dan pikiran Judith.
**
Judith menghabiskan sehari itu dengan menemani Aera melakukan banyak hal. Mulai dari belajar, memasak, menonton tv, berkebun, hingga membacakan dongeng sebelum tidur. Banyak celotehan yang Aera bagi dengannya. Sepertinya anak itu menyimpan cerita banyak sekali untuk dibaginya dengan Judith, bahkan ketika dongeng sudah selesai dibacakanpun, Aera kembali bercerita ini itu.
“Aera sedih sewaktu mama sakit. Yang datang Cuma papa, itu juga sebentar saja. Teman-teman yang lain memberikan bunga ke mama mereka. Tapi Aera tidak ada, jadi Aera hanya berdiri sendirian di panggung”
Sungguh, Judith merasa bodoh dan menyesal sekali. Sudah tak terhitung berapa kata maaf yang ia lontarkan karena melewatkan acara hari ibu yang spesial di sekolah Aera. Jika saja ia bisa lebih berhati-hati, mungkin ia tidak akan masuk rumah sakit. Tidak akan menyakiti hati malaikatnya.
Tapi Aera, gadis kecil yang berusia sangat dini itu mempunyai hati yang jauh lebih besar dibanding orang lain yang lebih dewasa. Karena begitu diberi alasan bahwa Judith sakit, gadis itu langsung memaafkan dengan lapang.
“Tidak apa-apa, yang penting mama Judith sudah sembuh. Jangan sakit lagi, dulu mama Nayara sakit terus tidak pulang-pulang sampai sekarang. Mama Judith jangan seperti itu”
Judith mungkin bisa menjanjikan dirinya tidak akan sering sakit. Tapi untuk tidak pergi dari Aera, ia tak berani menjanjikan hal itu. Tidak selama hati Jeanno masih sekeras batu.
“Papa sekarang jarang pulang. Kalau menengok Aera juga tidak setiap hari. Papa jadi menyebalkan sekarang”
Sesungguhnya bukan hanya Aera yang kehilangan kehadiran Jeanno, tapi juga kehangatan pribadi itu seperti hilang entah kemana. Jeanno tetap menjadi sosok ayah penyayang bagi Aera, namun absennya pria itu mau tak mau membuat jarak yang seharusnya tidak ada antara ayah dan anak.
Judith menarik selimut Aera, mengecup keningnya lama sekali. Merasa bersalah karena menjadi andil dalam kesedihan Aera. Menarik gadis kecil tak berdosa itu dalam permainan para dewasa yang egois disini. Padahal beberapa bulan lalu Aera sudah mendapatkan kasih sayang yang semestinya, kehangatan keluarga yang diimpikan sejak lama. Hanya dalam waktu kedipan mata, semua porak poranda.
“Maafkan mama, sayang..”
**
Judith mengetukkan jarinya diatas meja. Menghindari pandangan sepasang suami istri yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
“Aku.. tidak tahu apa rencanaku”
Setelah memastikan Aera sudah tertidur pulas, Hannah mengajak Judith untuk bicara serius bersama Mark di taman belakang rumah. Pembicaraan yang tak lain adalah mengenai uang kompensasi yang diminta Jeanno.
“Kupikir yang terpenting adalah Jeanno sudah mendapatkan tiga miliar yang dia mau. Tapi cek pemberianku selalu disobek, bahkan setelah 3x aku mengirimnya. Disini aku menyadari sesuatu bahwa Jeanno tidak membutuhkan uang itu, dia hanya ingin membuatmu menderita. Dan jika aku memberinya cek secara Cuma-Cuma, itu tidak sesuai dengan tujuannya”
Judith tersenyum sendu. “Kau tidak perlu mengirimnya lagi, kak. Aku minta maaf karena harus merepotkan kalian sampai seperti ini”
“Tidak perlu minta maaf”
“Atau begini saja, kau meminjam uangku.. nanti biar kau sendiri yang mengantarkannya ke Jeanno?”
Judith mengangkat bahunya. “Tidak usah, kak. Aku akan mencari cara sendiri untuk mengumpulkan uangnya”
“Kau tidak akan….?” Hannah menembaknya dengan pertanyaan menyelidik. Sontak saja Judith menggeleng. “Tidak, Hannah. Aku tidak akan kembali kesana lagi”
“Aku baru ada 2 miliar. Mungkin besok akan kuantar dulu, sambil minta perpanjangan waktu untuk sisanya. Kuharap tuan akan bermurah hati”
**
Sharin kebakaran jenggot mendengar bahwa Jeanno dan Nayara telah menikah secara sederhana. Pikirnya pemuda itu tidak akan tahan hidup tanpa harta orangtuanya, sehingga dengan cepat Jeanno akan kembali kepada tahtanya. Namun tak disangka, pria itu justru mengambil langkah serius. Membuat Sharin semakin yakin untuk mengingkirkan Nayara jauh-jauh. Tidak peduli mereka sudah resmi menikah. Nyatanya status itu justru membuat Sharin semakin semangat merebut Jeanno kembali.
*
“Andy? Bisa kita lakukan sekarang?”
*
*
Sementara di tempat lain
*
“Nayara?”
*
Yang dipanggil mengangkat wajahnya. “Oh, Arjuna? Hei..”
__ADS_1
*
“Hei, um.. maaf mendadak, tapi aku kemari untuk menjemputmu”
*
Nayara yang baru selesai berbelanja kecil untuk kebutuhan dapur, menatap kawan Jeanno dengan bingung. “Menjemputku?”
*
“Kau tidak tahu? Jeanno berada di rumah sakit karena mamanya sakit. Tadi dia langsung pergi kesana selepas mendapat telpon. Karena panik jadi dia tidak sempat menjemputmu. Mamanya sedang operasi sekarang, Jeanno tidak bisa pergi sekarang jadi dia menelponku untuk menjemputmu”
*
Ada kilah kecemasan dalam manik mata Nayara. Berharap ibunda Jeanno tidak apa-apa. “Ayo, Jeanno sudah menunggumu”
Nayara tidak memiliki kecurigaan apapun terhadap Arjuna. Tak juga memiliki kesempatan untuk mengkonfirmasikan kebenaran informasi itu karena nyatanya ia tak membawa ponsel.
*
“Oh, aku bawa motor. Tidak apa-apa kan?”
*
Nayara mengangguk seraya menerima uluran helm dari tangan Juna. “Ya, tidak apa-apa. Terimakasih sudah menjemputku, Arjuna”
*
Usai memastikan Nayara membonceng dengan aman, Arjuna kemudian menjalankan motornya meninggalkan minimarket.
__ADS_1
*