Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
ibadah


__ADS_3

Alayya baru bisa mengistirahatkan diri setelah acara pengajian nya selesai, alayya duduk dengan memijat pelan pelipisnya yang mulai berdenyut.


"Istirahat di kamar Al"


"Hem, Raisa sudah tidur"


"iya, baru aja. Yo ke kamar"


Alayya berjalan lebih dulu, seperti nya ia perlu istirahat penuh hari ini, semua persiapan acara pengajian mereka, Alayya yang menghandle, dari subuh hingga acara selesai, sedangkan Nathan lebih banyak tidak terlihat, terkecuali saat acara di mulai.


Nathan menahan tangan Alayya yang ingin membuka pintu kamarnya, Alayya menoleh menatap Nathan heran.


"kenapa, aku pusing capek"


"tidur di kamar kita, bukan di kamar tamu" terlihat jelas dahi Alayya mengkerut bingung.


"kamar kita?"


"iyaa, sayang. ini kamar kita" Nathan menuntun Alayya untuk masuk ke dalam kamar pribadinya..


"Nat" Alayya memperhatikan isi kamar itu, nampak ada yang berbeda dari sebelumnya.


"iay sekarang kita tidur di sini, ok"


"tapi Nat..."


"ayo tidur" Alayya di Tuntun untuk berbaring di atas tempat tidur, biasanya ia akan melihat foto Alesha di depan sana, tapi kini foto itu sudah berubah menjadi foto mereka bertiga, Alayya, Nathan dan Raisa, meja rias milik Alesha juga sudah tidak ada di sana, termasuk buku-buku, makeup perlengkapan pribadi Alesha, semuanya menghilang, tidak ada satupun hal yang bersangkutan dengan Alesha di kamar itu.


"nathan..."


"Hem" Nathan semakin bergeser, ia rengkuh tubuh Alayya di dalam pelukannya.


"kamar ini..." Alayya kesulitan merangkai kata untuk mempertanyakan perubahan kamar Nathan.


"kenapa, ada yang aneh, kamu benar Al, kamu pantas mempertanyakan ketulusan ku, kamar saja masih ku tutup rapat untuk mu, lantas aku terus meminta kamu memercayai ketulusan ku, aku terus saja bilang ingin memulai semuanya dari awal, tapi bayangan akan masa Lala ku saja terus ada di Antara kita.


"Nathan berhenti berucap, ia arahkan Tubuh alayya untuk menghadap nya" tatapan mereka beradu, Nathan menyingkirkan rambut rambut yang menutupi wajah Indah Alayya di belakang telinga.

__ADS_1


"Maaf, karena aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu, tapi aku akan berusaha terus membuat kamu bahagia, aku mencintai kamu, alayya" Nathan mendekat kan wajah nya, ia daratkan ciuman di bibir ranum sang istri, hanya menempel tidak lebih.


"mulai sekarang, kamu akan menjadi tujuan kepulangan ku, mulai sekarang kamu dan raisa yang menjadi alasan untuk kebahagiaan ku, kamu akan menjadi alasan hilangnya rasa lelahku, aku nggak akan biarin kamu bersedih dengan sikap brengsek ku, aku bukan pria sempurna, aku punya banyak kekurangan, maukah kamu menjadi penyempurna dan pelengkapnya"


Alayya mengangguk, dengan mata yang sudah menganak sungai, akhir-akhir ini perasaan wanita itu memang sensitif, ia lebih mudah menangis, Alayya memeluk Nathan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


"aku sayang kamu Nat"..


"aku lebih sayang sama kamu Al" Nathan mencium lama ubun ubun Alayya.


"kamu nggak usah tanya kemana semua barang - barang Alesha, aku nggak buang, aku kasih ke orang yang membutuhkan "


tidak ada jawaban hanya suara isakan yang terdengar.


"jangan nangis sayang"


"aku terharu, tapi aku juga nggak pernah ingin membuang Alesha dari hidup kamu Nat, bagiamana pun Alesha pernah menjadi bagian di hidup kamu"


"nggak, memang seharusnya seperti ini, kamu istri ku, tidak seharusnya aku terus membawa masa lalu di hidup kita"


"Nathan..."


"aku ko jadi cengeng banget, dikit-dikit nangis"


"lucu banget sih, istri ku ini"


....


Mereka sekarang sudah ada di bandara untuk melakukan penerbangan ke tanah suci, Raisa berada di gendongan Ali... ayah Alayya, sedangkan Alayya duduk di Antara ibunya dan ibu Nathan.


Tangan Farah terulur merapikan jilbab yang alayya kenakan.


"anak ibu kalo pakai kerudung kaya gini, jadi makin cantik"


"ibu bisa aja" jawab Alayya malu-malu


"Belajar menggunakan nya terus Alayya, kita sebagai wanita di wajibkan menutup aurat dengan benar, jangan sudah balik dari tanah suci kamu lepas lagi" sekarang ibunya Nathan yang berucap, Nathan terus memperhatikan ibunya, takut ibunya memulai lagi perang dingin dengan sang istri, dan benar saja, tidak sah sebenarnya apa yang ibunya itu ucapakan, hanya saja cara dia menyampaikan yang perlu di perhalus lagi.

__ADS_1


"ibu..." tegur Nathan pada sang ibu .


"apa sih Nat, ibu cuman ngasih tau istri kamu, apa yang benar dan apa yang salah" di luar ekspektasi Nathan, justru Alayya bersikap sebaliknya, wanita itu menggenggam tangan ibu mertuanya hingga sang empu menoleh.


"mah, doain Alayya biar Alayya bisa Istiqomah Makai nya, doa'in kita juga ... semoga kita bertiga selamat dan kembali tanpa ada kurang, doakan perjalanan Alayya, nathan dan Raisa di berkahi" ucap Alayya lembut tidak lupa senyuman nya.


"i--iya pasti mamah akan doakan kalian " Alayya memeluk ibunya Nathan begitu erat, di balas juga oleh wanita paruh bayah itu,, meskipun ia masih tidak menyangka dengan perubahan sikap sang menantu, di belakang Farah terus mengusap ubun-ubun sang anak, ia bangga pada anaknya.


tibalah saat mereka harus memasuki pesawat, Nathan dan keluarga melambai ke arah orang tua mereka.


"ayo" ajak Nathan pada Alayya, wanita itu mengangguk.


Setelah menempuh sekitar kurang lebih 10 jam penerbangan, akhirnya pesawat yang nathan dan keluarga tumpangi mendarat juga di tempat tujuan.


mereka di arahkan menuju hotel untuk mengistirahatkan diri sebelum melakukan berbagai macam ibadah nantinya.


....






begitulah kira-kira gambaran saat mereka berada di tanah suci.


Di depan Ka'bah Alayya mengangkat kedua tangannya,ka berdoa dengan lirih di hadapan sang kuasa.


"Jika memang Nathan adalah seseorang yang tertulis di lauhul mahfudz untuk hamba, Jika memang adalah pria yang akan menjadi penyempurna ibadah hamba, jika memang Nathan yang akan menjadi sahabat sesurga dengan hamba... berilah keyakinan pada diri hamba untuk menerimanya di hidup hamba, mempercayai setiap ucapannya pada hamba, menghilangkan keraguan padanya, hamba begitu menyayanginya, tapi hamba tau, hamba bukanlah wanita pertama yang menepati hatinya, ya Allah hamba memohon padamu Jiak memang Nathan yang terbaik untuk hamba, berilah hamba keyakinan akan kehadiran Nathan di hidup hamba, Aamiin ya rabbal alamin" Alayya menoleh ia lihat Nathan yang sedang asik mengambil Vidio Raisa yang dengan lucunya berlari kesana-kemari di Ten banyak nya orang berlalu lalang di sekitar mereka.


Alayya menyunggingkan senyuman kala Nathan memandang nya,


"anak mu aktif banget Al" Nathan mengendong Raisa duduk di samping Alayya.


"sini duduk sama ibu" ia ambil alih tubuh mungil itu untuk duduk di pangkuan nya.

__ADS_1


"Raisa senang, ya nak?" tangan Nathan merangkul pinggang sang istri, keluarga kecil itu terlihat begitu bahagia, semoga kebahagiaan mereka terus bertahan, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya masalah di rumah tangga mereka.


note: nggak jelas banget di part ini wkwkwk, sedikit lagi tamat. jangan lupa kasih dukungan yaa, biar aku juga terus semangat nulisnya.


__ADS_2